Feature

Lelah Urusan Duniawi, Pria yang Satu Ini Wakafkan Bakat Seni

Redaktur: Darul Fatah
Lelah Urusan Duniawi, Pria yang Satu Ini Wakafkan Bakat Seni - Feature

SENI – Paolo, seniman lukis yang mewakafkan lukisannya ke Masjid Jakarta Islamic Centre, Jakarta Utara. Foto; darul/indopos

oleh: Darul Fatah

Bakat seni tidak selalu diawali dengan mengecap pendidikan formal. Banyak seniman yang berhasil mempersembahkan karyanya lantaran bakat yang muncul melalui cara yang sulit dimengerti. Mungkin itulah yang disebut dengan adanya campur tangan Sang Pencipta.

Hal inilah yang dialami Paolo, 54, seniman lukis beraliran religius. Tanpa ragu, hanya berpikir tentang Allah SWT, kuas dalam genggamannya bergerak melukis dengan ukuran besar, sekitar 10x5 meter. Lukisannya bertema ‘Bolong dan Menembus Langit’. Makna filosofi dari lukisan karya pria berambut panjang ini cenderung mengingatkan kepada manusia agar mengikuti perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Bagaimana awal perjalanan seniman lukis religius ini, berikut wawancaranya dengan INDOPOS. Sekitar 5-6 tahun silam, Paolo mendapatkan hidayah untuk membuat lukisan religius. Hasil karyanya ditujukan pada sejumlah tempat ibadah yang mampu menampung umat Islam beribadah dalam jumlah besar. Di antaranya, Masjid Istiqlal dan Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC).

Hidayah yang didapat Paolo dalam perjalanan hidupnya itu, diawali dengan suatu perasaan yang merindukan sesuatu tentang ketenangan hati. Ya, kerinduan hati terhadap Sang Pencipta yang mendorong dirinya memulai seni lukis religius. “Urusan duniawi terlalu melelahkan. Umat manusia sudah terlalu banyak berbuat dosa,” ujar dia.

Sesuatu yang sempat mengganjal di hati Paolo adalah banyaknya manusia yang cenderung hanya takut ketika mendengar kata syetan, pocong, dan lainnya. Ironisnya, justru tidak takut ketika mendengar nama Allah. “Karena itu, lewat seni lukis inilah saya berusaha mengingatkan umat agar senantiasa takut kepada Allah. Menggunakan cara seni lukis tentunya agar umat tidak tersinggung,” tegas dia.

Salah satu makna lukisan religius karya Paolo, setiap orang yang melihat akan bisa membayangkan ketika Alquran dijatuhkan dari langit ke tujuh. Kitab yang berisi pedoman kehidupan bagi umat manusia itu, kata dia, akan mampu membuat manusia berbuat baik dalam kehidupannya. “Kita manusia yang banyak dosa. Walaupun kita dimasukkan ke dalam neraka, namun karena tobat kita di dunia, maka Allah pasti akan memaafkan kita dan mengeluarkan dari neraka,” tutur dia dengan nuansa penghayatan.

Meskipun bakat seni yang dimiliki Paolo tidak melalui bangku pendidikan secara khusus, namun hasilnya tidak kalah dengan karya seniman lukis lainnya. “Sejak dapat hidayah, tangan saya mengalir saja. Bahkan teman-teman di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) bilang, kalau bisa melukis, kenapa nggak dari dulu aja. Saya merasakan seperti ada gerakan gaib. Seperti ada yang menuntun. Padahal saya awalnya adalah seniman peran watak,” ungkap dia.

Pria kelahiran 5 Oktober 1965 ini mengaku, awal mula ingin melukis di Masjid Raya JIC karena dekat dari rumah. Terlebih masjid di wilayah Jakarta Utara itu terbilang besar dan menampung banyak jamaah. “Minimal, banyak jamaah yang bisa menikmati lukisan religius itu. Banyak teman-teman dekat rumah juga mengaku senang melihat lukisan itu,” kata Paolo.

Paolo Bersama istri. Foto: Darul Fatah/INDOPOS

Begitupun dengan lukisan yang terdapat di Masjid Istiqla. Awalnya, Paolo melukis di halaman dan luar masjid. Kemudian dipersilakan oleh pengurus masjid untuk melukis di dinding bagian dalam. “Seperti Allah menuntun atau mengintervensi, saya dipanggil Pak Bukhori (pengurus Masjid Istiqlal), meminta saya melukis di dalam masjid saja. Di bagian atas masjid, lebar 10 meter, tinggi 5 meter. Lukisan itu jadi ikon juga,” imbuh dia.

Bahkan, lukisan karya Paolo ketika itu ditandatangani oleh Imam Besar Masjid Negara Istiqlal Nasarudin Umar. Kedua kalinya di Masjid Istiqlal yakni pada jelang Idul Adha, beberapa tahun lalu. Ketika itu kedatangan wakil menteri Pertahanan Turki. Seusai salat, pejabat dari negeri yang khas dengan makanan kebab itu ikut melukis Bersama Paolo.

Hidayah yang dialami Paolo juga menggiring dirinya melukis religius di gedung parlemen. “Saya mulai berpikir, teman-teman di DPR RI yang mengalami banyak masalah. Tak sedikit yang melanggar aturan Allah SWT. Makanya saya melukis di gedung DPR untuk mengingatkan anggota dewan,” ungkap dia.

Ia menceritakan, selama melukis religius, tidak pernah mengalami kendala. “Selama melukis dengan ikhlas, pakai uang sendiri dan tak ada sponsor, maka saya rasa enjoy-enjoy aja. Duniawi tak saya pikirkan. Punya uang sedikit untuk bayar teman yang aduk-aduk cat dan pasang frame, itu saja sudah cukup. Tak ada kendala yang berarti,” tutur Paolo.

Uniknya, ungkap Paolo, dirinya mengalami hipotensi atau tekanan darah rendah. Namun tidak kesulitan ketika harus melukis di dinding besar dengan menggunakan tangga. “Alhamdulillah, saya tidak pakai savety belt (sabuk pengaman) untuk naik di ketinggian 10 meter. Ternyata bisa. Saya sendiri heran. Ada campur tangan Allah dalam karya-karya saya. Selalu berdoa, mohon bantuan Allah, minimal setiap hari ada firman Allah agar jalan kita tidak gelap,” tegas dia.

Pria keturunan Rote, Nusa Tenggara Timur itu juga mengungkapkan, ada peran besar seseorang dalam perjalanan hidupnya sebagai seniman lukis religius. Yakni sang istri. “Istri saya sangat membantu dalam upaya menyelesaikan lukisan religius. Istri selalu memberitahu dan mengingatkan soal waktu dan teknis pekerjaan. Makanya, istri saya selalu ikut ketika melukis. Majunya suami itu juga karena istrinya,” kata seniman yang lahir di Magelang itu.  

Tak ketinggalan, sambung dia, motivasi juga didapat dari kedua orang anaknya. “Anak-anak saya selalu berkata, bangga dan bersyukur memiliki ayah yang memiliki ilmu pengetahuan dipadukan dengan agama,” kata Paolo yang membeberkan bagaimana tanggapan kedua anaknya.

Sekilas tentang perjalanan hidup Paolo sebelum menggeluti bidang seni lukis religius, yakni sekitar 20 tahun silam. Ia pernah menjadi sutradara dalam film berjudul ‘Genderang Cinta Negeri’ yang pemeran utamanya adalah Tamara Bleszynski. “Tamara Bleszynski cocok untuk peran ini,” imbuh dia.

Termasuk sinetron berjudul ‘Jelang Senja Ramadan’. Ketika proses pengerjaan sinetron inilah, Paolo kerap mendengar kumandang azan. “Setiap syuting selalu dengar azan. Lalu minta break (istirahat). Semua yang muslim pada salat, kecuali saya karena saat itu belum muslim. Sejak itu saya berpikir, ada panggilan terhadap diri saya,” ungkap dia.

Mulai saat itu, kata Paolo, dirinya selalu mengingatkan kepada teman-temannya agar tidak berbuat dosa dan menikmati hidup ini apa adanya. “Selalu berdoa dan waspada, saya selalu ingatkan itu. Azan itu memanggil supaya sujud, bedoa kepada Allah SWT. Jangan selalu mengejar dunia, itu yang terngiang di benak saya,” tambah dia.

Sebagai seniman lukis religius, Paolo juga berharap agar masyarakat dan generasi muda tidak selalu mengejar kepentingan dunia saja. “Ilmu pengetahuan dan agama harus kerja sama. Tanpa agama ikut campur, manusia bisa menjadi sombong. Tapi dengan agama, manusia akan selamat,” pungkas dia. (*)

Berita Terkait


Baca Juga !.