Opini

Manusia Zaman Now

Redaktur: Ali Rahman
Manusia Zaman Now - Opini

Oleh

Ariyanto, Pemimpin Redaksi INDOPOS dan indopos.co.id

Enaknya manusia zaman sekarang. Mau mandi tinggal menyalakan keran. Tidak perlu menimba dari sumur. Seperti zaman old. Air keluar melalui shower. Tangan tak perlu kecipak kecipik pakai gayung.

Enaknya manusia zaman sekarang. Mau sarapan tinggal order via aplikasi. Bebas pilih sesuai selera. Tak perlu pergi ke pasar. Bersusah payah memasak. Memarut kelapa. Mencacah sayuran. Mencincang daging. Atau mengupas dan mengulek bumbu dapur.

Soal cuci piring dan gelas tak perlu repot. Tinggal menyerahkan ke pembantu. Urusan mencuci baju pun demikian. Sudah ada mesin cuci sekaligus mesin pengeringnya. Dan ini bisa dikerjakan pembantu atau tukang laundry.

Soal menyapu dan membersihkan lantai pun dmikian. Sudah ada pembantu dan ada alat pembersih lantai. Tak perlu ribet.

Enaknya manusia zaman sekarang. Pergi ke kantor bisa pesan kendaraan melalui aplikasi. Di mobil duduk manis. Lalu tidur. Tahu-tahu sudah sampai kantor.

Di kantor duduk di depan komputer. Tiba makan siang tak perlu repot-repot cari makanan. Cukup pesan makanan menggugah selera melalui aplikasi. Atau meminta tolong office boy.

Lanjut kerja lagi. Duduk di depan komputer. Berjam-jam. Sampai tiba waktu pulang. Pesan kendaraan online lagi. Di mobil duduk manis. Atau tidur. Tahu-tahu sudah sampai rumah.

Setiba di rumah kalau ingin mandi lagi tinggal menyalakan keran. Jika ingin makan malam tinggal pesan makanan melalui aplikasi. Sambil duduk manis di depan televisi. Atau sembari berselancar di dunia maya. Sampai ngantuk. Lalu tidur.

Demikian seterusnya. Manusia modern mendapatkan kemudahan demi kemudahan dengan kecanggihan teknologi. Berbagai urusan menjadi lebih mudah.

Saat ini bahkan sudah ada robot yang menggantikan peran manusia. Mulai robot pelayan restoran cantik jelita hingga robot yang dibuat sedemikian rupawan dan seksi untuk menjadi "teman tidur".

Di masa depan tidak menutup kemungkinan manusia menggunakan robot. Mewakili mereka saling berhubungan dengan manusia lain. Orang memilih tinggal di rumah sementara robot bekerja menggantikan mereka. Persis seperti film "The Surrogates" yang disutradarai Jonathan Mostow.

Kehidupan virtual sudah tidak asing lagi ketika zaman sudah terkoneksi internet. Di satu sisi lebih efektif. Juga efisien. Tapi di sisi lain hidup serba instan membuat manusia modern pasif. Kurang bergerak. Malas.

Hidup adalah bergerak. Tidak bergerak berarti mati. Tidak bergerak berarti terjadi kehancuran. Seperti di akhir cerita film "The Surrogates". (*)

TAGS

Berita Terkait

Opini / Mantra Man Jadda Wajada

Opini / Menemukan Tuhan yang Hilang

Opini / Marhaban Presiden Baru

Opini / Banjir pun Menuntut Keadilan

Opini / Kartini, Islam dan Spirit Perubahan 


Baca Juga !.