Internasional

Pemimpin Oposisi Venezuela Segera Buka Hubungan dengan AS

Redaktur: Sumber Rajasa Ginting
Pemimpin Oposisi Venezuela Segera Buka Hubungan dengan AS - Internasional

Juan Guaido berbicara pada pendukungnya di Plaza Alfredo Sadel, Caracas.

indopos.co.id – Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido pada Sabtu (11/5/2019) mengatakan ia telah menginstruksikan utusan politiknya di Washington untuk segera membuka hubungan dengan militer Amerika Serikat dalam upaya untuk memberikan lebih banyak tekanan pada Presiden Nicolas Maduro untuk mundur.

Guiado mengatakan dia telah meminta Carlos Vecchio, yang diakui AS sebagai duta besar, untuk membuka komunikasi langsung menuju kemungkinan koordinasi militer. Pernyataan di akhir rapat umum adalah permohonan publik terkuat Guaido untuk keterlibatan AS yang lebih besar dalam krisis yang terjadi di negara itu.

Ketika Guaido berulang kali mengemukakan pendapatnya dari pemerintahan Trump bahwa seluruh opsi untuk menyingkirkan Maduro masih bisa dipertimbangkan, beberapa oposisi AS atau Venezuela melihat kemungkinan adanya tindakan militer. Gedung Putih pun tidak mengindikasikan mempertimbangkan langkah tersebut dengan serius. Tapi dengan ketegangan antara AS dan Maduro yang semakin tinggi, suara hantaman pedang kini semakin keras.

Pada Sabtu (11/5), Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino mengutuk apa yan gia sebut sebagai serangan ilegal dari kapal penjaga pantai AS di wilayah perairan Venezuela. Ia tidak memberikan bukti tetapi mengatakan kapal-kapal Venezuela memaksa kapal untuk mundur. “Saya tidak tahu apakah negara-negara lain akan menerima tindakan seperti ini di dalam yusdiksi mereka, tetapi kami tidak,” kata Padrino.

Kolonel Amanda Azubuike, seorang juru bicara Komando Selatan AS, mengatakan sebuah kapal penjaga pantai sedang melakukan misi pelarangan narkoba di perairan internasional laut Karibia. Dia menolak untuk memberikan komentar lebih lanjut.

Dalam beberapa hari terakhir, Padrino juga mengecam apa yang dikatakannya sebagai upaya militer AS untuk menabur perselisihan di dalam barak-barak Venezuela, mengundang tanggapan marah dari Laksamana Craig Faller, kepala Komando Selatan, yang mengatakan ia siap untuk membantu Guaido.

“Saya berharap untuk membahas bagaimana kita dapat mendukung peran masa depan dari para pemimpin angkatan bersenjata Venezuela yang membuat keputusan yang tepat, menempatkan rakyat Venezuela terlebih dahulu dan memulihkan tatanan konstitusional,” kata Faller.

Sebagai Metua Majelis Nasional, Guaido meluncurkan kampanye pada bulan Januari untuk menggulingkan Maduro. Ia mendapatkan dukungan dari AS dan lebih dari 50 negara. Dia mengumumkan pertemuan yang akan datang dengan para pejabat militer AS pada Sabtu (11/5/2019) dan mengatakan tindakan yang baru akan berusaha untuk mencapai tekanan yang diperlukan untuk mengakhiri revolusi Bolivarian yang diluncurkan 20 tahun lalu oleh mendiang presiden sosialis Hugo Chavez.

Guaido mengatakan bahwa sebagai pemimpin sah Venezuela ia berhak untuk mengundang aksi militer asing, seperti cara pahlawan kemerdekaan Simon Bolivar merekrut 5.000 tentara bayaran Inggris untuk membebaskan Amerika Selatan dari Spanyol. Dia mengatakan bantuan semacam itu harus dianggap sebagai kerja sama dan bukan intervensi, sesuatu yang Maduro izinkan dalam bentuk dukungan militer dan intelijen dari Kuba dan Rusia, menurut Guaido.

Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan tekanannya sendiri pada oposisi dengan penangkapan majelis nasional nomor dua, Edgar Zambrano. Beberapa anggota parlemen anti Maduro lainnya mencari perlindungan di kedutaan ketika pengadilan tinggi negara itu mengumumkan penyelidikan terhadap Zambrano dan sembilan anggota kongres lainnya.

Kerumunan yang tampak berkurang pada protes oposisi mencerminkan demoralisasi yang telah merasuki pendukung Guaido setelah ia memimpin pemberontakan militer yang gagal pada 30 April. Dalam bulan-bulan sebelumnya, ribuan orang memperhatikan seruannya untuk protes. Pada hari Sabtu, kerumunan beberapa ratus orang berkumpul di Caracas.

“Kita hidup dalam kediktatoran,” kata Guaido, mendesak para pendukungnya untuk terus maju. “Kami tidak memiliki pilihan untuk terus menunggu di rumah, tetapi untuk terus menuntut hak-hak kami di jalanan,” ujarnya.

Guaido berpendapat bahwa Maduro secara tidak sah memenangkan masa jabatan kedua dalam pemilihan yang curang dan telah menyatakan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela. Maduro telah mempertahankan kendali militer. Dia menyebut Guaido sebagai boneka pemerintahan Trump dan mengatakan AS mendukung kudeta untuk menggulingkannya dan mengeksploitasi kekayaan minyak negara yang luas.

Sebagai negara minyak yang dulunya kaya, Venezuela telah tenggelam dalam keruntuhan ekonomi dan sosial yang ditandai dengan melonjaknya inflasi dan kelangkaan barang kebutuhan pokok yang telah mengirim sekitar 3,7 juta warganya untuk beremigrasi. (fay)

Berita Terkait

Internasional / Tiongkok Kirimkan 71 Ton Bantuan Medis untuk Venezuela

Internasional / Ini Alasan Puluhan Ribu Warga Venezuela Turun ke Jalan

Headline / Rusia Tuding AS akan Persenjatai Oposisi di Venezuela

Headline / Rusia Tuding Paman Sam


Baca Juga !.