Feature

Situs Sejarah Islam Makam Mbah Priok

Redaktur: Novita Amelilawaty
Situs Sejarah Islam Makam Mbah Priok - Feature

PINTU MASUK - Dari gerbang ini, tur makam keramat Mbah Priok dimulai. Foto: Novita Amelilawaty/INDOPOS

oleh: Novita Amelilawaty

Makam Syech Sayyid Mbah Priok selalu ramai dikunjungi peziarah dari seluruh Indonesia sejak 1800-an. Bahkan, penyiar Islam asal Palembang bernama lengkap Habib Hasan Al Haddad itu masuk dalam daftar peziarah Wali Songo setelah Fatahilah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Dulu untuk mengunjungi makam Mbah Priok sulit karena tidak ada akses, dikelilingi hutan bahkan sampai saat ini juga cukup sulit karena diapit terminal JICT dan terminal petikemas. Saat indopos.co.id mengunjungi makam, sore itu makam tidak terlalu ramai padahal bulan Ramadan. Menurut salah satu peziarah yang sejak 1987 tinggal di sekitaran komplek makam, Topik, bulan puasa tidak sebanyak jelang Ramadan. “Mungkin karena puasaan jadi orang lebih memilih malam atau jelang buka kalau ziarah kemari,” kata Topik, salah satu peziarah sekaligus pengikut habib, belum lama ini.

Suasana sepi sudah terlihat sejak masuk gerbang komplek makam. Pengambilan ‘Air Barokah’ yang biasanya antre pun tampak sepi. Tidak terdengar kucuran air pancurannya. Peziarah yang dari teras depan sudah ramai duduk di lantai atau melakukan salat, Minggu itu pun sepi.

Kira-kira melewati tiga ruangan semi hall baru ditemukan sebuah ruangan dengan banyak jendela ukiran bahasa Arab. Di sana baru tampak kotak besar tinggi hingga setengah tinggi ruangan, dibalut kain hijau berbahasa Arab. Di dalam ada makam Mbah Priok. Peziarah berdoa di depan pintu dan dinding ruangan dengan menghadap kotak makam tadi.

Beberapa peziarah mengaku berasal dari Jawa Timur, Jogjakarta, Solo, dan ada yang dari Bangka Belitung. Mereka rata-rata mengikuti tur ziarah Wali Songo dan perjalanan terakhir dari Cirebon (Fatahilah atau Sunan Gunung Jati). Sekilas, Mbah Priok merupakan penyiar agama Islam asal Palembang. Dari beberapa sumber mengatakan saat menyiarkan Islam dia meninggal di lautan dan jenazahnya dibawa ratusan lumba-lumba ke pesisir pantai di Pondok Dayu. Lalu dimakamkan penduduk sekitar di tepi pantai dengan nisan dayung yang patah. Di atas makamnya ditancapkan periuk yang bisa dibawa-bawa dan di bawah pohon Tanjung. Maka lahirlah nama Tanjung Priok.


TIDAK TERKUNCI - Hunian berupa rumah besar yang ‘menempel’ dengan bangunan utama makam. Di rumah itu tinggal anak-anak dan cucu dari Habib Ali. Foto: Novita Amelilawaty/INDOPOS

“Sudah bertemu Habib Ali?” tanya Topik kepada indopos.co.id. Habib Ali merupakan imam masjid di makam Mbah Priok. Dia disebut keturunan langsung dari Mbah Priok. Entah keturunan ke berapa. Sayang, sang Habib enggan ditemui karena belum lama menerima rombongan habib dari Madura. Kalau mau bertemu sang Habib memang kudu janjian dulu dan tergantung dari moodnya. “Kalau rejeki ya pasti ketemu, tetapi kalau ikutan tarawih disini pasti ketemu,” kata Topik. Belakangan, diketahui Habib Ali ternyata masih muda yakni berusia 40 tahun.

Komplek makam Mbah Priok berukuran sangat luas. Topik menyebut luasannya hingga 4 hektare. Jika dibagi per zona, makam Mbah Priok berada di sayap kanan dan hunian keturunannya di sayap kiri pintu masuk. “Untuk komplek anak cucunya, mereka tinggal disini,” kata Topik menunjukkan sebuah rumah yang bisa dibilang ‘menempel’ di dinding bangunan utama makam.

Masuk ke komplek hunian, disambut gerbang warna hijau yang tidak terkunci. Oh, ternyata peziarah bisa keluar masuk, tidak terlalu privasi. Terlihat stiker “Prabowo-Sandi” ditempel di salah satu jendela rumah. Entahlah, memang pendukung paslon 02 atau 01 tidak ada yang tahu. “Dek-dek, Habib ada tak?” tanya Topik kepada salah satu pria remaja usia antara 15-18 tahun. Yang ditanya pun langsung masuk ke dalam rumah besar bercat hijau. Kita menunggu di luar. Sambil menunggu, terlihat anak-anak kecil usia 4 tahun, 6 tahun dan ada yang 9 tahun tengah bermain. Ketika ditanya, ternyata mereka merupakan cucu dari Habib Ali. Wah, sang habib ternyata sudah memiliki cucu.

Topik mengatakan di komplek hunian Habib Ali memang sering terlihat remaja pria yang disebut sebagai santri atau murid habib. “Mereka dari mana-mana dari seluruh Indonesia berguru disini,” kata Topik. Dia bercerita kalau ada tamu datang biasanya disambut habib dan keluarganya di dalam ruang tamu rumah besar tadi. Indopos.co.id sempat melongok ke dalam, isinya sebuah ruangan besar mirip hall dengan langit-langit kayu yang sudah berumur. Ditopang pilar-pilar yang juga sudah kusam namun masih kokoh. Itu merupakan tempat habib dan pengikutnya salat, terutama salat Tarawih.

Sudah 30 menit berlalu, ternyata habib enggan menemui lantaran baru saja tertidur setelah menerima rombongan habib dari Madura. “Ya sudah mbak, belum rejeki berarti,” kata Topik kemudian tersenyum.

SERBA HIJAU-Hall yang memuat ruangan berteralis besi dan ukiran bahasa Arab. Di dalam ruangan itu Mbah Priok dimakamkan. Tampak peziarah tengah mengirimkan doa. Foto: Novita Amelilawaty/ INDOPOS

Sebelum pamitan, Topik sempat bercerita kalau dahulu kala komplek makam Mbah Priok tidak seperti sekarang. “Dulu, hanya ruangan tempat makam Mbah saja, sekitarnya ini hutan dan makam penduduk nelayan pesisir Jakarta,” jelas Topik. Beberapa lahan ada yang dipakai menjadi Depo Dewa Ruci, dan dibeli oleh JICT. “Tahun 1990 baru penggusuran dan 1995 mulai pembangunan, termasuk JICT,” kata Topik. Makam Mbah Priok tidak terkena gusuran karena merupakan cagar budaya DKI Jakarta. (*)

 



 



Berita Terkait

Banten Raya / Manjakan Peziarah, Banten Lama Bakal Dilengkapi Homestay

Nasional /  Wisata Religi ke Masjid Al-Aqsa Menapaki Jejak Rasul

Nasional / Angkat Wisata Religi, Pesantren Sirnarasa Gelar Pemutaran Film


Baca Juga !.