Dekat Ibu Kota, Bekasi Jadi Pilihan, Zona Merah Aksi Terorisme

indopos.co.id – Beberapa hari belakangan ini, wilayah Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi menjadi sorotan publik. Pasalnya, dua daerah yang berbatasan dengan Ibu Kota itu dilakukan sejumlah penangkapan terduga pelaku teroris. Nama Bekasi pun tercoreng. Pakar terorisme menyebut, Bekasi rawan penyebaran paham radikal.

Seperti diketahui, sebelumnya Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri melakukan sejumlah penangkapan terduga teroris di beberapa lokasi di Bekasi.

Pertama, penangkapan terduga teroris di Kampung Pangkalan RT 11/04, Desa Kedung Pengawas, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Sabtu (4/5/2019).

Kedua, penangkapan terduga teroris di Kampung Jatikramat RT 01/01, Kelurahan Jatikramat, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Minggu (5/5/2019). Di lokasi itu satu orang terduga berhasil diamankan, dan satu terduga teroris memilih meledakkan diri dengan bom rakitan yang dimilikinya.

Kemudian penangkapan yang ketiga terjadi di Jalan Muchtar Tabrani, Kelurahan Perwira, Kecamatan Bekasi Utara Kota Bekasi, Rabu (8/5/2019) malam. Satu orang berinisial R alias Eky berhasil diamankan.

Pengamat Teroris Al Chaidar mengatakan, banyak alasan yang membuat kelompok radikal yang ingin membuat kekacauan memilih menetap di wilayah Bekasi. Selain masyarakatnya heterogen, biaya tempat tinggal cukup murah di dua wilayah tersebut. Selain itu, alasan utama para pelaku radikal memilih Bekasi karena berdekatan dengan Ibu Kota DKI Jakarta, tempat mereka akan beraksi.

Apalagi, Jakarta sebagai pusat pemerintahan, pasti akan heboh bila aksi para pelaku teror berhasil di DKI. Apalagi, kata dia juga, pelaku berpaham radikalisme cenderung mempengaruhi masyarakat yang hidup dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah. ”Golongan masyarakat ini juga minim pengetahuan, dan mudah dipengaruhi,” katanya saat dihubungi melalui sambungan telepon seluler.

Bahkan, Chaidar menyebut, bukan hanya Bekasi tapi daerah seperti Tangerang juga menjadi wilayah yang rawan penyebaran radikalisme. Dia juga memaparkan, sebagian besar penganut paham radikal yang tinggal di Bekasi berasal dari Sumatera. ”Tapi kalau penganut paham radikal yang ada di Tangerang kebanyakan dari Jawa,” ujarnya juga.

Awalnya, kedatangan warga yang mudah terpengaruh radikalisme itu datang ke DKI Jakarta untuk mengadu nasib. Namun, karena biaya hidup dan persaingan yang tinggi secara perlahan mereka perlahan-lahan mulai berangsur meninggalkan Jakarta. ”Kalau yang datang dari Sumatera, memilih wilayah Bekasi menjadi tempah singgah kedua setelah DKI,” jelasnya lagi.

Setelah mereka terjepit karena kebutuhan hidup, kata Chaidir juga, ajaran radikalisme masuk secara terselubung mendoktrinasi warga yang tersisih secara ekonomi tersebut. Dengan mudahnya, warga terpengaruh oleh ajaran radikalisme itu karena diklaim bisa mengubah nasib. Padahal, warga terjerumus ajaran radikalisme.

Sementara itu, Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Indarto mengatakan, sebenarnya tingkat pengamanan yang dilakukan jajarannya sudah menjangkau hingga lapisan bawah. ”Salah satunya, kita sudah perkuat pengamanan sampai tingkat RT dan RW,” katanya.

Tapi, terpenting warga harus mengawasi lingkungannya masing-masing dari aksi gerakan radikalisme tersebut. Karena itu, Indarto mengimbau agar warga curiga kepada orang yang aneh yang tinggal di lingkungannya apala itu orang baru.

Kalau curiga, kata Indarto lagi, warga bisa melaporkannya kepada pihak kepolisian. ”Misalkan melihat aktivitas tetangga baru yang mencurigakan segera lapor polisi. Seperti di toko handphone yang digerebek Densus. Di situ terlihat penjual handphone bawa cairan kimia, kan tidak nyambung dengan jualannya,” tandasnya. (dny)

Komentar telah ditutup.