Megapolitan

Gonta-Ganti Direksi Bank DKI, Anies Batal Mengangkat Wahyu Widodo sebagai Dirut

Redaktur:
Gonta-Ganti Direksi Bank DKI, Anies Batal Mengangkat Wahyu Widodo sebagai Dirut - Megapolitan

Ilustrasi Foto

indopos.co.id - Pemegang saham Bank DKI membatalkan pengangkatan Wahyu Widodo sebagai direktur utama. Pembatalan pengangkatan itu tertuang dalam surat keputusan pemegang saham di luar Rapat Umum Pemegang Saham (Sirkuler) Bank DKI yang diteken oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Arief Nasrudin tertanggal 8 Mei 2019.

Selain membatalkan pengangkatan Wahyu Widodo sebagai direktur utama, pemegang saham juga membatalkan pengangkatan Erick sebagai komisaris.

Pembatalan tersebut sehubungan dengan surat Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 1 Jakarta dan Banten pada 12 Februari 2019 yang mengatakan pengangakatan tersebut perlu dipertimbangkan kembali. Padahal susunan yang dibatalkan merupakan usulan dari Pemprov DKI Jakarta.

Padahal, Wahyu Widodo baru diangkat menggantikan Kresno Sediarsi pada 30 Oktober 2018 lalu. Kresno dicopot bersama jajaran direksi lainnya yakni Budi Mulyo Utomo, Antonius Widodo Mulyono, Farel Tua Silalahi, dan Zulfarshah.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pembatalan disebabkan Wahyu Widodo ternyata tak memenuhi fit and proper test atau tes kepatutan dan kelayakan OJK.

”Mereka mengikuti proses fit and proper test dan kemudian OJK menyampaikan mereka tidak pas. Tidak lulus. Nah dari situ kita lakukan proses,” ujar Anies, Sabtu (10/5/2019).

Anies tak mengungkapkan proses pemilihan direktur. Ia hanya mengatakan, kini pihaknya harus mencari sosok direktur baru lagi. ”Sesegera mungkin. Mohon doanya, ya,” harap dia.

Sebagai pemegang saham mayoritas Bank DKI, pemprov dan PD Pasar Jaya berhak menunjuk jajaran pejabat pada bank tersebut. Untuk menjalankan bisnisnya Anies Baswedan pun menunjuk direksi sementara.

Karena alasan tersebut, DPRD pun mendesak gubernur menyeleksi calon direksi yang profesional. ”Kita malu juga, masa direksi yang kita usulkan ditolak OJK. Seharusnya sejak awal seleksinya lebih ketat sehingga yang diusulkan tidak ditolak OJK,” kata Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi, Senin (13/5/2019).

Menurut Prasetio, setelah penolakan oleh OJK sebaiknya pemprov membuat seleksi terbuka bagi kalangan perbankan profesional. ”Saya yakin, bila dibuka secara transparan maka akan banyak kalangan profesional perbankan yang berminat mengembangkan bank milik pemprov tersebut,” terangnya.

Performa Membaik
Menutup 2018, kinerja keuangan Bank DKI sebenarnya menunjukkan tren positif. Hal tersebut ditunjukkan dengan catatan kinerja penyaluran kredit cukup menggembirakan sepanjang tahun lalu.

Kredit bank daerah ini mencapai Rp 34,7 triliun, tumbuh 27,9 persen dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut berada jauh di atas pertumbuhan rata-rata perbankan nasional yang tercatat sebesar 12,9 persen pada 2018.

Sigit Prastowo yang saat ini menjabat sebagai Plt Dirut Bank DKI mengatakan, secara umum, perusahaan tersebut mampu mencatatkan pencapaian kinerja yang baik sesuai dengan harapan.
Peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan terutama difokuskan kepada segmen mikro yang meningkat cukup signifikan pada 2018 sebesar 49,7 persen.

Di tengah laju pertumbuhan kredit tersebut, kualitas aset yang dimiliki juga dapat terjaga dengan baik. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross dan NPL Nett tahun lalu masing-masing tercatat 2,7 persen dan 1,6 persen dari 2017 sebesar 3,8 persen dan 2,3 persen.

”Pencapaian tersebut tentunya merupakan hasil dari berbagai upaya-upaya perbaikan yang dilakukan di sepanjang 2018.” kata Sigit dalam keterangan resminya yang dikutip Jumat (22/3/2019).

Sementara dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun Bank DKI tahun lalu mencapai Rp 37,3 triliun yang didorong oleh pertumbuhan tabungan sebesar 34,4 persen.

Dalam menghimpun DPK tahun lalu, bank ini mengutamakan optimalisasi fungsi intermediasi dengan meningkatkan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) pada titik yang optimal, sehingga menjaga tingkat profitabilitas

Sigit menyebutkan, pihaknya akan terus mendorong peningkatan dana murah baik tabungan dan giro dalam melakukan aktivitas penghimpunan DPK. Adapun total aset Bank DKI tercatat sebesar Rp 53,0 triliun atau meningkat 3,1 persen dari Rp 51,4 triliun pada 2017.

Pencapaian total aset tersebut didukung dengan perbaikan struktur pendanaan serta optimalisasi dana yang dimiliki sehingga mendorong peningkatan laba bersih tahun lalu.

Dari pertumbuhan bisnis tersebut, Bank DKI berhasil membukukan laba bersih Rp 800,3 miliar pada 2018. Jumlah itu meningkat 12,4 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp 712,2 miliar.

Pencapaian laba bersih tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan operasional bank yang didominasi oleh pertumbuhan fee based income sebesar 26,2 persen seiring dengan peningkatan aktivitas produk dan layanan yang terjadi sepanjang 2018.

Bank yang saham mayoritas dipegang pemprov itu juga turut mendukung berbagai program kerja Pemprov DKI Jakarta di antaranya adalah dengan mendukung penyaluran bantuan sosial seperti Kartu Jakarta Pintar Plus, Kartu Lansia Jakarta, dan Kartu Pekerja Jakarta. (wok)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / MRT Jakarta Belum Optimal, Integrasi Moda Transportasi Minim

Megapolitan / Makam Pangeran Jayakarta Segera Direstorasi

Megapolitan / Polemik IMB Pulau Reklamasi, Anies Tak Jauh Beda dari Rezim Dulu

Megapolitan / Siapapun Gubernurnya, Pembangunan Pulau Reklamasi Jalan Terus

Megapolitan / Saat Mudik, 411 Pengemudi Dinyatakan Tidak Laik Berkendara

Megapolitan / Berlindung di Balik Pergub yang Dibuat Ahok


Baca Juga !.