Feature

Berpuasa hingga 18 Jam, Sulit Temukan Makanan Halal

Redaktur: Nurhayat
Berpuasa hingga 18 Jam, Sulit Temukan Makanan Halal - Feature

Foto: Joko Widodo for Indopos

oleh: Nurhayat 

Waktu berpuasa yang panjang dan sulitnya mencari makanan halal, menjadi tantangan bagi umat muslim di Jepang. Mahasiswa asal Indonesia di Jepang, Joko Widodo berbagi pengalaman kepada Indopos seputar kehidupan muslim di Jepang pada Ramadan kali ini.

Makan sahur pukul 2 pagi dan buka puasa pukul 18.35 adalah suasana minggu-minggu pertama Ramadan di Jepang saat ini.

Bergeser ke akhir Ramadan, durasi waktu puasa akan semakin panjang. Waktu subuh biasanya bergeser mendekati pukul 02.00 dinihari. 

Ini artinya, umat muslim di Jepang harus makan sahur lebih awal, sekitar pukul 01.00 dinihari. Waktu buka puasa ikut bergeser lebih lama sekitar pukil 19.30-an. 

Saat-saat ini memang masyarakat muslim di Jepang harus mengalami waktu puasa yang panjang, karena Ramadan jatuh menjelang musim panas.

Hal yang sebaliknya dapat terjadi saat Ramadan jatuh di musim dingin antara Desember sampai dengan Februari, dimana waktu subuh sekitar pukul 06.30 dan magrib sekitar pukul 16.30-an. Ini merupakan tantangan bagi umat muslim yang melaksanakan ibadah puasa Ramadan di negara-negara bukan bagian dari wilayah tropis seperti di Jepang ini. 

Tantangan berikutnya adalah menemukan makanan halal. Hampir semua jenis makanan di Jepang mengandung daging babi dan semua jenis turunannya, seperti sortening dan emulsifier. 

Tidak banyak toko atau supermarket yang menjual makanan halal. Salah satu supermarket andalan untuk mendapatkan makanan dan bahan halal adalah Gyomu Supa. 

Tetapi tentu harus siap merogoh kocek yang lebih dalam, karena makanan dan bahan makanan halal di Jepang harganya lebih mahal dibanding makanan biasa, dikarenakan hampir semua merupakan produk import. 

Saya sendiri mengandalkan sebuah toko halal yang berada di lantai satu Mesjid Nishi-Chiba, yang posisinya berada di samping stasiun. 

Terkadang saya belanja bahan makanan halal di Chiba untuk saya bawa ke Tsukuba yang jaraknya sekitar 2 jam perjalanan naik KRL. 

Di Tsukuba sebenarnya ada juga Gyomu Supa, toko halal di Masjid Tsukuba, dan sebuah toko China di dekat kampus Tsukuba. Tetapi semua toko-toko tersebut jauh dari apartemen tempat saya tinggal.

Islam saat ini tumbuh semakin baik di Jepang. Makin banyak komunitas muslim bermunculan di Jepang dan makin banyak orang-orang Jepang menjadi mualaf. Bahkan beberapa diantaranya langsung berangkat haji ke tanah suci begitu menjadi mualaf, karena di Jepang ibadah haji seperti halnya umrah, hanya diurus oleh travel, dan kuota yang ada masih sangat melimpah.

Jika ingin berangkat haji dari Jepang, begitu mendaftar, maka beberapa bulan kemudian sudah bisa langsung berangkat haji. 

Organisasi-organisasi komunitas muslim juga semakin tumbuh di Jepang, karena beberapa pemerintah kota di Jepang juga mendukung komunitas-komunitas ini untuk tumbuh. 

Beberapa diantaranya adalah komunitas lokal di Jepang, dan beberapa diantaranya berafiliasi dengan negara Islam lainnya di luar Jepang. Saya sendiri saat ini merintis pendirian Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di Jepang yang berafiliasi dengan organisasi induk di Indonesia. 

Organisasi muslim di Jepang memang banyak dikembangkan oleh para pendatang dari negara-negara muslim seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan dan lain-lainnya. 

Secara kultural, mayoritas masyarakat Jepang hanya menganut kepercayaan atau bahkan banyak diantaranya atheis, dan 10 persen diantaranya beragama Budha. 

Umat muslim di Jepang tentu bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Ini tidak terlepas dari sejarah Jepang, terkait Restorasi Meiji yang salah satu diantara usahanya adalah menjauhkan agama (yang dianggap import) dari masyarakat Jepang, dan menggantinya dengan budaya asli Jepang. (*)

Berita Terkait


Baca Juga !.