Ekonomi

Entitas Fintech Wajib Munculkan TKB 90

Redaktur: Sicilia
Entitas Fintech Wajib Munculkan TKB 90 - Ekonomi

Grafis Angga Gumelar/INDOPOS

indopos.co.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan seluruh entitas peer to peer lending (P2P) yang terdaftar dan diawasi regulator untuk menampilkan tingkat keberhasilan pengembalian pada hari ke-90 (TKB 90) di websitenya. Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi mengatakan, kewajiban ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi sekaligus membantu calon pemberi pinjaman (lender) untuk mengetahui risiko penempatan dananya.

Peraturan ini berlaku sejak April lalu. ''P2P lending itu harus transparan. Sehingga ketika pertama kali buka website, pada layar pertama sebelah kanan ada TKB 90,'' ujarnya di Jakarta, Senin (13/5/2019).

Dia mengatakan, selama ini belum ada aturan batas bawah TKB 90. Karenanya, dengan kewajiban fintech untuk menampilkan tingkat keberhasilan pengembalian ini, diharapkan calon pemberi pinjaman dapat mengetahui risiko penempatan dananya.

Dia mencontohkan, bila sebuah entitas fintech P2P lending memiliki TBK 90 hanya 80 persen tapi imbal hasil atau bunganya lebih dari 50 persen, artinya ketidakberhasilan pembayaran sekitar 20 persen.  Sedangkan entitas lain, mungkin misalnya memiliki TKB 90 di posisi 100 persen, namun imbal hasilnya hanya 10 persen.

''Kami dari OJK mendorong fintech untuk transparan dan biarkan publik menentukan pilihan pinjaman,'' tukasnya. Menanggapi hal itu, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai langkah regulator ini untuk meningkatkan transparansi dalam bisnis fintech.

''Salah satu roh fintech adalah transparan. Mau kinerja jelek atau bagus harus transparan. Hal ini mengharuskan mereka untuk berusaha jangan sampai jelek dan berbuat dengan bak kepada lender dan borrower," ujar Ketua Harian AFPI Kuseryansyah diwawancara terpisah.

Supaya kinerja yang ditampilkan optimal, lanjutnya, maka fintech perlu menjalankan artificial intelligence (AI) yang bagus. Juga memiliki kredit skor yang canggih.

''Tentunya hal ini didorong dengan karyawan yang bagus dalam menghadapi konsumen. Tak lupa pada strategi dalam pemilihan segmentasi yang benar,'' tandasnya.

Terkait penting atau tidaknya batasan bawah TKB 90, Kus menyampaikan, rasio ini sebetulnya ditujukan kepada lender. Lantaran bisa dijadikan sebagai acuan dalam menempatkan dana.

Dia menjelaskan, bila menginginkan bunga 20 persen, maka lihatlah TKB 90 yang paling tinggi. sehingga TKB 90-nya paling tinggi maka akan dipilih. ''Jadi lender akan berlomba-lomba untuk masuk ke segmen yang benar. Sehingga dengan return sekian harusnya TKB 90-nya sekian,'' tukasnya.

Selanjutnya, lewat penampilan TKB 90 ini, Kus yakin p2p lending akan semakin selektif dalam memilih calon borrower. Sebab, tingkat keberhasilan akan ditentukan oleh kemampuan borrower dalam mengembalikan pinjaman.

''Lain halnya dengan perbankan. Kita hanya menempatkan dana di bank sebagai deposit. Kita tidak tahu uang kita dipakai siapa dan untuk apa. Kalau p2p lending kita sendiri yang menentukan mau dipinjamkan kepada siapa,'' tambahnya.

Sebagai informasi, OJK mencatatkan TKB 90 p2p lending hingga Maret 2019 di level 97,38 persen. Nilai ini turun 117 basis poin dari posisi Desember 2018 di 98,55 persen.

Adapun tingkat wanprestasi 90 hari sebesar 2,62 persen pada kuartal I-2019. Nilai ini turun dibandingkan posisi Februari 2019 di level 3,18 persen.

Kendati demikian, posisi ini masih lebih tinggi dibanding akhir 2018 di posisi 1,45 persen. Hingga Maret 2019, P2P lending telah menyalurkan pinjaman senilai Rp 33,2 triliun.

Nilai ini tumbuh 46,48 persen bila dibandingkan Desember 2018 senilai Rp 22,66 triliun. Selain itu, OJK sudah mengumumkan terdapat 106 platform fintech lending yang terdaftar dan diawasi oleh regulator per 5 April 2019. (dew)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.