Banten Raya

Peras Kades Rp 700 Juta, Tiga ’Wartawan’ Dicokok

Redaktur: Syaripudin
Peras Kades Rp 700 Juta, Tiga ’Wartawan’ Dicokok - Banten Raya

Ilustrasi Pemerasan

indopos.co.id - Tiga oknum wartawan media online yang mengaku anggota penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri dibekuk polisi setelah memeras Muhammad Rafiudin, sekretaris Desa Jengkol, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang sebesar Rp 700 juta. 

Ketiga orang yang mengaku dari media online Kobaran News yang dibekuk anggota Polres Kota Tangerang itu masing-masing bernama Rully Handari, Fadly Ibnu Sina, dan Muhammad Ibnu Ferry.

Kapolresta Tangerang Kombespol Sabilul Alif mengatakan, ketiga wartawan gadungan ini berhasil ditangkap jajarannya di dua lokasi berbeda. Rully Handari dan Muhammad Ibnu Ferry dicokok di sekitar kantor Camat Balaraja, Jumat (10/5/2019) malam.

 Sedangkan Fadly Ibnu Sina ditangkap di Jalan Merpati, Desa Beringin Raya, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung pada hari yang sama. ”Mereka kami tangkap saat tengah menghabiskan uang korban yang mereka peras. Kejadiannya beberapa hari lalu,” terangnya saat ditemui di Mapolresta Tangerang, Selasa (14/5).

Dia juga memaparkan, ketiga pelaku memiliki peran berbeda dalam melakukan pemerasan tersebut. Dijelaskan Sabilul, aksi pemerasan itu dilakukan Kamis (9/5). Ketiga wartawan gadungan ini mendatangi korban untuk mengusut kasus penyelewengan dana Desa Jengkol tahun anggaran 2017 dan 2018.

”Jadi mereka beberapa kali mendatangi korban untuk meminta uang untuk SP3 kasus ini. Masing-masing dari mereka memiliki peran agar korban percaya. Karena takut korban menuruti kemauan pelaku dan mengirimkan uang total Rp700 juta,” ungkapnya. Dalam kasus itu, Rully Handari dan Fadly Ibnu Sina berperan sebagai penyidik Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Mabes Polri berpangkat Ipda dan AKP.

 Sedangkan Muhammad Ibnu Ferry mengaku wartawan nasional yang sedang meliput kasus korupsi dana desa itu. ”Mereka menunjukkan surat panggilan palsu atas nama korban yang mengaku sebagai penyidik polisi. Mereka mengancam korban akan diekspos jika kasus ini tidak di SP3,” paparnya.

Lantaran ketakutan, kata Sabilul, korban mentransfer dana kepada para pelaku. Pengiriam pertama Rp 45 juta, lalu Rp 100 juta, dan terakhir Rp 555 juta untuk SP3 kasus tersebut. Karena terus diperas korban pun curiga dan melaporkannya ke Polresta Tangerang.

Kata Sabilul, Rully mendapatkan bagian Rp 240 juta, Fadly Rp 270 juta lebih, sedangkan Ibnu mendapat Rp 88 juta. Uang tersebut dipergunakan pelaku membeli satu unit mobil, hp dan berfoya-foya. Dari tersangka polisi menyita sejumlah barang bukti aksi kejahatan.  

Yakni, 61 lembar bukti transfer, mutasi rekening, 2 buku tabungan, 4 kartu identitas pers, 3 unit HP, satu koper pakaian, satu unit Mobilio nopol B 1480 WZL, serta 1 bundel berkas tangkapan layar percakapan korban dan para tersangka melalui aplikasi WhatsApp. Atas perbuatannya Rully CS dijerat pasal 378 KUHP tentang penipuan dan 368 KUHP tentang Pemerasan dengan terancam hukuman penjara 7 tahun.

Salah satu pelaku Rully menuturkan, aksi pemerasan terhadap Sekdes Jengkol dengan mengaku sebagai penyidik Tipikor Mabes Polri karena terdesak dana berfoya-foya. Akibatnya, dia dan dua rekannya pun membuat surat pemeriksaan palsu untuk menakuti korban. Agar aksinya tak diendus polisi, para pelaku mencetak kartu pers. ”Ya jadi wartawan agar tidak dicurigai jika korban melapor,” tuturnya.(cok)

Berita Terkait

Megapolitan / Geger Mayat Dalam Karung di Waduk Pluit

Megapolitan / Tenang… PMJ Terjunkan Timsus Antibandit

Megapolitan / Waspada, Kejahatan Hipnotis Mulai Makan Korban

Megapolitan / Pulang Antar Teman, Avanza Dibegal

Megapolitan / AL Tewas Dianiaya, Geng Motor Diciduk


Baca Juga !.