Daerah

Alat Canggih Tangkal Virus Cacar Monyet

Redaktur: Jakfar Shodik
Alat Canggih Tangkal Virus Cacar Monyet - Daerah

DETEKSI - Sejumlah penumpang berjalan melewati alat pemindai panas tubuh di terminal kedatangan internasional Bandara Sultan Syarif Kasim II di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (14/5). ANTARA FOTO/FB Anggoro/ama.

indopos.co.id - Bandara Sultan Syarif Kasim II (SSK II) Kota Pekanbaru, Riau bertindak ekstra waspada. Manajemen memakai peranti canggih untuk mendeteksi penumpang pesawat dari luar negeri, khususnya dari Singapura, berpotensi membawa virus cacar monyet ke Indonesia.

Dokter Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara SSK II, Risnandar Nasution menjelaskan alat pendeteksi berupa alat pemindai panas tubuh atau thermal scanner terbaru. Alat itu terlihat sangat ringkas namun efektif dan cukup akurat untuk mendeteksi penumpang yang suhu badannya di atas normal. ”Penumpang yang suhu badannya 38 derajat celcius ke atas, maka alat ini akan berbunyi. Memperlihatkan indikator merah dan langsung merekam penumpang itu,” tutur Risnandar di Pekanbaru, Riau, Selasa (14/5).

Berbeda dengan alat sebelumnya, mesin pemindai baru itu lebih ringkas dan mudah dipindah-pindah. Karena hanya terdiri dari mesin unit processor dilengkapi roda, layar, dan kamera sensor. Berbeda dengan mesin pemindai lawas sangat besar dan boros tempat. Alat pemindai baru juga dilengkapi kamera sensor yang bisa mendeteksi suhu banyak orang dengan sekaligus.

Sedang alat lama hanya ada singel kamera sehingga penumpang harus antre satu persatu untuk diukur suhu badannya. ”Kalau ada penumpang dengan suhu badan di atas normal akan kita pisahkan dan lakukan pemeriksaan di klinik KKP di Bandara,” ucapnya.

Penumpang dengan panas tubuh di atas normal patut dicurigai. Pasalnya, salah satu gejala cacar monyet (monkeypox), penderita mengalami demam tingggi. Pemeriksaan standar dilakukan di antaranya pemeriksaan fisik dan wawancara untuk memastikan apakah penumpang sebelumnya pernah mengunjungi ke negara yang sedang terjangkit maupun melakukan kontak fisik dengan penderita penyakit.

Kalau indikasinya kuat, penumpang langsung dirujuk ke RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. “Sampai sekarang belum ada temuan monkeypox termasuk penyakit lain berbahaya,” katanya.

Executive General Manager Bandara SSK II Jaya Tahoma Sirait mengatakan peranti pemantau panas tubuh itu selalu disiagakan di Bandara. Namun, baru difungsikan apabila terjadi kasus khusus tertentu seperti saat ini terkait cacar monyet yang ditemukan di Singapura. ”Jadi, bisa saja penumpang dari Malaysia terjangkit monkeypox karena berkunjung ke Singapura lalu masuk ke Indonesia,” tegasnya.

Cacar monyet kali pertama muncul di Singapura. Di mana, virus itu menjangkiti seorang pria asal Nigeria April lalu. Sebelum tiba di Singapura, pria itu dikabarkan menghadiri pernikahan di Nigeria dan bisa jadi makan daging liar yang menjadi sumber transmisi virus. Daging dimaksud bisa jadi simpanse, gorila, kijang, burung, atau hewan pengerat. Virus cacar monyet menular ke orang lain melalui kontak langsung. Masa inkubasi 5-7 hari baru terlihat gejalanya. Gejala cacar monyet sama dengan cacar lain. Antara lain demam dan gangguan pernafasan. (ant)

Berita Terkait

Daerah / Daerah Perbatasan dengan Malaysia Antisipasi Cacar Monyet

Megapolitan / Penderita Didominasi Usia Produktif

Megapolitan / Virus HIV Ancam Warga Bogor

Headline / Virus Wannacry Terdeteksi Pukul 05.00 PAGI

Headline / Awas Serangan Virus Digital


Baca Juga !.