Terkepung Permukiman, Pesona Masjid Tertua Ini Tetap Terjaga

oleh: Novita Amelilawaty

Masjid Al Alam Marunda disebut sebagai masjid tertua di Jakarta yang masih kokoh berdiri. Masjid yang masih digunakan untuk salat meski masuk cagar budaya itu terletak di tengah-tengah permukiman padat penduduk di Marunda, tepatnya di pesisir Jakarta Utara. Dibangun abad ke-16, pesonanya masih tampak sejak pejuang Fatahilah singgah di sana sebelum menyerang Batavia.

Untuk mencapai masjid, tidak dapat menggunakan kendaraan roda empat apalagi rombongan bus. Pasalnya, masjid kini ‘dikepung’ permukiman padat penduduk. Hanya motor atau sepeda yang bisa mencapainya. Jelang ashar, indopos.co.id mengunjungi masjid yang diklaim tertua di Jakarta itu menggunakan ojek online. Sopir ojeknya, Syukron bercerita banyak soal masjid Al Alam Marunda yang tersohor itu. 

“Kalau sampai sana (masjid) sempetin wudhu sama air sumur keramatnya,” kata Syukron mengawali percakapan sembari memainkan kemudi motornya menembus jalan kecil seukuran 80 centimeter berkelok-kelok menuju masjid.

Loh, air sumur keramat masa ada di dalam masjid. Sempat terpikir sumur apa yang masih bertahan berabad-abad bahkan di tengah air asin laut. Syukron mengaku air sumur itu tawar, padahal dikelilingi laut. Permukiman padat yang sekarang berdiri ‘mengepung’ masjid dulunya adalah rawa tempat air laut pasang. Air sumur berasa tawar itu dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Mulai batuk pilek biasa hingga penyakit kronis.

Tak hanya sumur keramat, Syukron juga bercerita masjid Al Alam menyimpang banyak keanehan atau keajaiban. “Saya pernah mau masuk masjid salat Jumat tetapi penuh tak bisa muat. Di pojok-pojok tidak ada tempat lagi akhirnya saya salat di pelatarannya,” kenang Syukron.

Tetapi, lanjutnya, ketika dia duduk menunggu kotbah Jumat, datang rombongan banyak orang sekiranya mereka naik tiga bus.

“Berjalan berbondong-bondong masuk ke dalam masjid. Padahal kan tadi penuh, saya lihat dan alami sendiri kan. Tapi, mereka masuk loh, ya Allah kuasaNya, cukup heran mereka duduk dimana karena masuk semua ke dalam masjid,” kenangnya.

Makin penasaran untuk melihat langsung masjid yang dimaksud. Kira-kira 10 menitan melewati kelokan-kelokan gang sempit akhirnya sampai juga di masjid yang dimaksud.

Bentuk masjid tidak seperti masjid moderen yang berkubah besar, memiliki menara tinggi dan lainnya. Masjid, kental dengan model-model masjid zaman Belanda dan Portugis yang biasa kita lihat di dalam buku sejarah. Masjid tidak memiliki jendela besar dan tertutup menggunakan AC tetapi ditutup teralis kayu sehingga angin bisa menerobos masuk. Sumur yang dibicarakan ojek online tadi ternyata berada di depan pintu masuk. Sepertinya keunikan sumur menjadi point of interest dari keseluruhan bangunan masjid. 

Masjid terbagi atas 3 zona yakni masjid utama, selasar tambahan, dan bangunan pengelola. Tentu saja, terlihat bangunan asli hanyalah masjid utama. indopos.co.id mencoba menghampiri bangunan pengelola untuk menemui pengurus masjid. “Ya, mbak, kita ngobrol di teras ini saja ya. Cuaca sangat panas,” kata Kusnadi, pengurus masjid Al Alam Marunda. 

Kusnadi bercerita masjid Al Alam merupakan yang paling tua di Jakarta karena berdiri sejak abad ke-16 dan uniknya dikerjakan hanya dalam waktu satu malam. “Berdiri 1640 dan didirikan sekejab, hanya semalam,” tuturnya.

Bahkan, masjid pernah menjadi singgahan pejuang Fatahilah dan Baurekso untuk menyerang Belanda di Batavia (Jakarta). “Kampung Marunda kan berasal dari Markas Penundaan Pasukan Fatahilah. Maka jadi kata Marunda,” kata Kusnadi. 

Pria yang kerap berpeci itu mengaku sejak 1975 sudah tinggal di masjid. Dulu, ceritanya, masjid tidak dikelilingi permukiman. “Semua hutan, dan rawa, kalau pasang air laut semua sekitar masjid jadi lautan. “Mirip seolah-olah ini masjid di tengah laut. Kita nggak bisa keluar, keperangkap,” katanya.

Bergesernya waktu, bertahun-tahun kemudian, laut menyusut, tanah makin naik dan akhir didirikan permukiman sedikit demi sedikit jadilah permukiman padat penduduk. 

Untuk bangunan masjid sendiri dikatakan Kusnadi masih asli. “Luas bangunan masjid 12 meter kali 12 meter (12m X 12m), luas total area mencapai 3000 meter persegi,” jelasnya.

Sisi kiri belakang masjid adalah komplek makam pendiri-pendiri masjid bersama anak cucunya, termasuk makam KH Jami’in bin Abdullah. Untuk imam masjid ada Abu Hasan Ashari, Ustaz Sholeh, dan Ustaz Ade.

BARU – Selasar ini merupakan transisi antara bangunan masjid lama (kiri) dan bangunan baru (kanan). Foto: Novita Amelilawaty/INDOPOS

Di bagian depan bangunan utama masjid ada sumur tua yang diceritakan pengemudi ojek online tadi. Sumur memang terbuat dari batu dan bagian bawahnya sudah berlumut. Airnya dingin dan ajaib memang tawar. Padahal sumur itu sangat dalam sampai bagian dasarnya tidak terlihat. “Airnya segar dan tawar,” kata Kusnadi.

Hanya, dia tersenyum saja ketika indopos.co.id bertanya kebenaran air sumur bisa menyembuhkan penyakit. “Itu tergantung niatnya saja dan Allah yang menyembuhkan,” ujarnya.

Dinding-dinding masjid kokoh dan hanya sedikit kusam cat karena termakan usia. Namun, kekokohan batanya tidak diragukan lagi. Menurut beberapa literatur, bangunan-bangunan tua zaman Belanda dan Portugis tidak dibangun menggunakan semen untuk perekat batanya. Mereka menggunakan putih telur sebagai perekat antar bata dan dipercaya bisa awet sampai bertahun-tahun lamanya. 

Menurut Kusnadi, setiap Ramadan, masjid ramai. Orang banyak tadarus disana sekaligus makan sahur dan salat Subuh. “Apalagi jelang buka puasa, banyak donatur yang kirim makanan dan minuman. Setiap hari selalu ada berlimpah tidak pernah kosong,” tutur Kusnadi. Dia tidak menyebutkan nama dari donatur-donatur tetapnya tetapi banyak pengusaha dan pejabat. “Ini kan sudah diambil DKI Jakarta sebagai cagar budaya,” tutupnya.

BERTAHAN – Sumur tua yang dipercaya penduduk airnya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Airnya tawar tidak asin. Foto: Novita Amelilawaty/INDOPOS

Komentar telah ditutup.