Megapolitan

Keunikan Masjid Lautze di Sawah Besar, Jakarta Pusat

Redaktur:
Keunikan Masjid Lautze di Sawah Besar, Jakarta Pusat - Megapolitan

SENSASI BERBEDA - Masjid Lautze di Sawah Besar, Jakarta Pusat menjadi destinasi wisata religi di karena bentuk bangunan dan ornamennya yang unik. Foto: Nasuha/INDOPOS

indopos.co.id - Masjid menjadi tempat umat Islam melaksanakan ibadah. Biasanya masjid ditandai dengan kubah. Tapi berbeda dengan Masjid Lautze. Masjid ini dibangun di daerah pecinan di Sawah Besar bergaya kelenteng Tionghoa.

NASUHA, Jakarta

TEMPAT ibadah satu ini banyak ditemukan di Indonesia. Karena, lebih dari 80 persen penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Bahkan, karena masjid banyak ditemukan di Nusa Tengara Barat (NTB), daerah tersebut dijuluki kota seribu kubah.

Di Jakarta sendiri banyak ditemukan masjid besar. Beberapa masjid yang memiliki keunikan, kemudian ditetapkan menjadi tempat wisata religius. Salah satunya Masjid Lautze di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Masjid Lautze berada di Jalan Lautze, Jakarta Pusat. Untuk tiba di masjid Lautze kita bisa menggunakan commuter line. Tiba di stasiun Sawah Besar, cukup berjalan kaki untuk tiba di Masjid Lautze. Jaraknya, hanya 450 Meter dengan waktu 10 menit saja. Pada umumnya, penanda masjid memiliki menara atau kubah. Namun, di Masjid Lautze, tidak akan dijumpai.

Koran INDOPOS, berkesempatan menyambangi Masjid Lautze, Rabu (15/5/2019). Sekilas bangunan masjid tidak nampak menyerupai masjid. Tetapi lebih menyerupai sebuah kelenteng. Apalagi masjid Lautze berada di deretan pertokoan dengan warna mencolok merah dan kuning. Sehingga, Masjid Lautze terkesan bangunan Tionghoa.

Yang menandakan bangunan masjid, di bagian atas terdapat papan nama ”Yayasan Haji Karim Oei”. Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB, nampak pengurus masjid sibuk untuk mempersiapkan salat Dzuhur. Sesaat kemudian adzan Dzuhur pun berkumandang. Tampak muadzin pun merupakan etnis Tionghoa.

Memasuki Masjid Lautze, pada dinding-dinding masjid terdapat lafal-lafal ayat Al-Quran bergaya tulisan Tionghoa, yang membuat decak kagum. Ada lafal Basmallah, Hamdallah hingga Ayat Kursi lengkap dengan menggunakan tulisan Mandarin.

Sisi kiri masjid terdapat tangga untuk menuju lantai dua. Peruntukannya tempat salat jamaah perempuan. Yang menarik tangga tersebut bergaya Tionghoa, dominan warna merah. Masjid Lautze cukup menarik masyarakat. Tidak jarang pengguna jalan berhenti untuk salat di masjid ini.

Jamaah salat Dzuhur penuh sesak. Usai salat, imam yang juga warga etnis Tionghoa pun memberikan tausiyah. Jamaah dengan antusias mengikuti kuliah tujuh menit tersebut. Usai menjalankan salat Dzuhur, INDOPOS diperkenankan bertemu dengan pengurus Masjid Lautze. ”Silakan masuk mas,” kata Yusman Iriansyah selaku humas Masjid Lautze melihat INDOPOS tiba di lantai tiga.

Menurut ayah dengan satu orang anak ini menjelaskan, selama Ramadan Masjid Lautze rutin melaksanakan salat Tarawih, tadarus Al-Quran dan kegiatan agama lainnya. ”Kita juga tetap melayani jamaah dari warga Tionghoa. Mereka adalah para mualaf (orang yang baru masuk agama Islam),” ujar pria 46 tahun tersebut.

Yusman menyebutkan, kegiatan para mualaf, seperti membantu melafalkan dua kalimat syahadat. Selanjutnya bagi para mualaf tersebut, menurut suami Yulfiati ini, setiap hari para pengurus juga memberikan pembinaan dan bimbingan. ”Bimbingan menyesuaikan kebutuhan. Para mualaf baru ini masih sangat minim tentang ajaran Islam,” katanya.

Bimbingan bagi para mualaf pemula ini, dikatakan Yusman seperti belajar salat, dan baca Al-Quran. Ia menambahkan, khusus pada Ramadan, Masjid Lautze rutin melaksanakan buka puasa bersama pada Sabtu. Dan dilanjutkan salat Tarawih, berceramah dan tadarus Al-Quran. ”Imam salat Tarawih kita ambil dari para mualaf. Ini tujuannya agar mereka belajar menjadi pemimpin,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, kesempatan menjadi imam diberikan kepada para mualaf secara bergantian. Biasanya setiap dua rakaat, imam salat akan diganti. ”Bacaan Al-Quran mereka biasanya belum bagus. Tapi tujuan kami mengajarkan kepada mereka menjadi imam, untuk mempertebal keimanan mereka,” terangnya.

Alasan pengurus Masjid Lautze menetapkan Sabtu untuk berbuka puasa bersama, menurut Yusman karena para mualaf tidak hanya berasal dari Jakarta. Juga wilayah sekitar ibu kota seperti, Depok, Tanggerang, dan Bekasi.

Di hari-hari biasa, jamaah masjid lebih banyak mengisi waktu dengan bekerja. ”Jadi kami melihat waktu yang tepat untuk berbuka puasa bersama malam Minggu. Mereka kebanyakan pekerja, dan hari itu sudah libur,” ucapnya. Sedikitnya, pengurus Masjid Lautze menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa bersama sebanyak 200 porsi.

Lebih jauh Yusman mengatakan, para mualaf ini sebagian besar memilih masuk Islam karena faktor perkawinan dan pergaulan. Biasanya untuk menjadi mualaf, menurut Yusman tidak sekaligus. Setelah datang beberapa kali, dan meminta pertimbangan dan solusi baru diputuskan untuk menjadi mualaf. Namun, terkadang ada juga yang mengurungkan niatnya. Keluarga terang Yusman, adalah penyebab gagalnya seseorang tidak jadi memeluk agama Islam.

”Mereka kadang konsultasi bisa datang beberapa kali. Untuk memilih waktu tepat menyampaikan kepada keluarga. Dan kita selalu mendampingi, agar hubungan dengan keluarga tetap baik,” ucapnya.

Di tempat yang sama Ketua Yayasn Haji Karim Oei, Ali Karim Oei menuturkan, tujuan mendirikan Masjid Lautze bergaya kelenteng agar warga etnis Tionghoa terbiasa beribadah seperti rumah sendiri.

Berawal dari itu, warga Tionghoa akrab dan mau datang ke Masjid Lautze. “Mereka mencari tahu, apa sih Islam dari itu mereka akrab dan masuk Islam,” ujarnya. Pada 2018 lalu sedikitnya ada 114 mualaf yang dibantu memeluk Islam di Masjid Lautze.

Sejak didirikan pada era Orde Baru, Masjid Lautze tidak mendapat penolakan dari masyarakat. Pada awal berdiri, masjid ini harus menyewa ruko. ”Hingga dua tahun sewa, ruko kita beli dengan harga Rp 200 juta. Kita (pengurus masjid) menjaminkan surat rumah bank. Karena kita tidak mampu bayar jaminan ke bank, semua dibayar oleh Pak BJ Habibie,” pungkasnya. (*)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Menguak Misteri Relief Bersejarah di Eks Bandara Kemayoran (2)

Megapolitan / Menguak Misteri Relief Bersejarah di Eks Bandara Kemayoran (1)

Megapolitan / Asyiknya Bermain dan Belajar di RPTRA Gondangdia (2-Habis)

Megapolitan / Asyiknya Bermain dan Belajar di RPTRA Gondangdia (1)

Megapolitan / "Yakin", Burung Cinta yang Dihargai Rp500 Juta Lebih


Baca Juga !.