Headline

Indra: Awalnya seperti Masuk Angin Biasa

Redaktur: Juni Armanto
Indra: Awalnya seperti Masuk Angin Biasa - Headline

DIDUGA LELAH - Ismantara meninggal dua hari pasca pencoblosan. Foto: Deny Iskandar/INDOPOS

indopos.co.id - Jumat. Tanggal 19 April 2019. Dua hari setelah pencoblosan. Fransiskus Asis Ismantara meninggal. Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) ini diduga kelelahan. Setelah menjalankan tugas sebagai Ketua KPPS. Korban meninggal di RS Saint Elisabeth Rawalumbu.

’’Dokter bilang ini kena serangan jantung. Memang orang tua saya ada riwayat sakit jantung, 10 tahun lalu dan sempat dirawat juga. Faktornya karena kurang tidur dan istirahat,’’ kata Indra Hilarius kepada INDOPOS, Rabu (15/5/2019).

Indra menceritakan, sebelum meninggal almarhum sempat pulang ke rumah setelah penghitungan suara pada Kamis (18/4/2019) sekitar pukul 02.00. Hanya beberapa jam istirahat, paginya almarhum harus membantu persiapan perayaan Kamis putih dan Jumat Agung di Gejera Katholik Santo Arnoldus Janssen, Bekasi Timur.

Sepulang Kamis Putih, kata Indra, orang tuanya baru mengeluh sakit pada bagian dada dan meminta istri dan anaknya memijat. ’’Awalnya seperti masuk angin biasa saja. Beliau minum tolak angin sama minta dikerokin istrinya. Tapi malah semakin parah. Kakinya dingin pucat juga mukanya,’’ ujarnya.

Karena kondisi Ismantara terus menurun, kata Indra, pihak keluarga membawa ke rumah sakit. Sayangnya, almarhum menolak. Takut terjadi apa-apa baru pada Jumat (19/4/2019) sekitar 03.00 Ismantara dipaksa ke rumah sakit. Di situ sempat mendapat perawatan. Sayangnya, sejam kemudian, nyawa Ismantara tak bisa diselamatkan.

’’Pihak RS angkat tangan karena sudah parah. Pakai infus saja sulit. Nggak mempan. Tensinya nggak naik. Dinyatakan meninggal pukul 04.40,’’ beber Indra.

Saat ini pihak keluarga memproses dokumen bantuan. Rencananya diberikan pihak pemerintah. Salah satunya, dokumen yang diurus ke Dinas Sosial. ’’Seperti surat kematian dan surat ahli waris,’’ jelasnya.

Nantinya, seluruh dokumen itu akan diberikan ke KPU pusat dan kota. Kemungkinan, kata dia, seluruh dokumen itu akan menjadi persyaratan hak bantuan yang akan diterima. ’’Saya tidak tahu nilai bantuan dan kapan diterimanya,’’ ucapnya.

Sebelum almarhum terlibat di KPPS, kata Indra, orang tuanya tidak pernah terlibat organisasi apapun. Bahkan, belum lama ini almarhum sudah terpilih menjadi Ketua RT. ’’Kemungkinan karena bapak jadi ketua RT makanya ditunjuk jadi ketua KPPS,’’ ujarnya.

Indra menjelaskan, karakter almarhum sangat baik. Sehari-hari orang tuanya bekerja di Yayasan Masudirini di Bekasi. ’’Bapak saya itu orangnya pekerja keras dan bertanggung jawab,’’ tandasnya. (dny)

 

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.