Kesra

Integrasikan Sapi dengan Sawit Begini Hasilnya

Redaktur: Dani Tri Wahyudi
Integrasikan Sapi dengan Sawit Begini Hasilnya - Kesra

SIMBIOSIS - Ilustrasi pengembang biakan sapi di kebun sawit. Foto: IST

indopos.co.id - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memperpanjang kerja sama tahun kedua dengan Coffey International Development PTY LTD. Kedua belah pihak menggelar program penelitian dan analisis dampak integrasi sawit-sapi terhadap kesuburan lahan dan produktivitas sawit.

"Kita selalu mengadakan penelitian dan pengembangan untuk dapat inovasi dan temuan yang hasilnya langsung komersial," kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT Soni Solistia Wirawan dalam acara penandatanganan kerja sama tersebut di BPPT, Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Penandatanganan perjanjian kerja sama antara BPPT dengan perusahaan untuk Program Pembibitan Sapi Komersial Indonesia Australia dilakukan oleh Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT Soni Solistia Wirawan dan Kepala perwakilan Coffey International Development PTY LTD untuk Indonesia Trudy Djanggeur.

Untuk kerja sama ini, akan dilakukan di dua lokasi yakni di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah di lahan milik perusahaan tersebut. Soni menuturkan penelitian itu akan menjawab terutama dampak ekonomi jika perkebunan sawit diintegrasikan dengan pemeliharaan sapi.

Pada saat ini, Indonesia masih mengimpor banyak sapi dan diharapkan hasil penelitian tersebut akan menjadi masukan untuk upaya pengembangan populasi dan pemeliharaan sapi.
"Kita masih banyak sapi impor, kita berusaha bisa memenuhi dari dalam negeri," tuturnya.

Target penambahan populasi sapi di Indonesia perlu didukung dengan peningkatan pakan dan perluasan lahan. Dengan integrasi sawit-sapi, maka perkebunan sawit dapat menjadi lahan penggembalaan sapi dan pemenuhan pakan sapi di samping menjaga produktivitas sawit.

Pemanfaatan potensi industri perkebunan kelapa sawit dengan luas sekitar 14,03 juta hektare, sebagai sumber bahan pakan dan lahan penggembalaan untuk mendukung perkembangan populasi sapi nasional melalui program integrasi sawit-sapi. Salah satu isu negatif yang paling menonjol adalah dampak masuknya sapi ke areal perkebunan terhadap kesuburan tanah dan produktivitas pohon sawit.

Ruang lingkup perjanjian kerja sama tahun kedua ini meliputi antara lain kajian kesuburan tanah di perkebunan sebagai dampak integrasi sapi yang digembalakan di bawah perkebunan sawit, kajian hasil tandan buah segar untuk periode waktu tertentu dan dilakukan di perkebunan dengan usia pohon kelapa sawit berbeda, kajian ekonomi dari pembiakan sapi di sistem integrasi sawit-sapi.

Koordinator Indonesia Australia Commercial Cattle Breeding Program Paul GM Boon mengatakan penelitian itu akan mengungkap ada tidaknya kelayakan usaha secara ekonomis jika mengintegrasikan sapi ke dalam perkebunan sawit.

Dia mengatakan riset yang valid dan objektif sangat dibutuhkan untuk menghasilkan keputusan atau kebijakan yang baik. "Dengan penelitian kita bisa menghimpun satu kumpulan data atau bukti yang betul bisa memberikan informasi yang tepat bagi yang mau bergerak di bidang sawit dan sapi," ujarnya.

Para pihak industri juga bisa mengambil keputusan berdasarkan temuan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.(ant)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Mesin PLTSa Diduga Tak Sesuai Spesifikasi

Megapolitan / Luhut Tantang BPPT Ciptakan Teknologi Pembangkit Listrik Sampah

Nasional / Deteksi Potensi DBD dalam Waktu Singkat

Nasional / Pushidrosal- BPPT Tingkatkan Kerjasama


Baca Juga !.