Feature

Pesantren Darussofa yang Megah Diwakafkan, Tidak Cetak Santri Jadi Ustadz

Redaktur: Heryanto
Pesantren Darussofa yang Megah Diwakafkan, Tidak Cetak Santri Jadi Ustadz - Feature

Masjid Ponpes Darussofa. Foto: galery.org

Di puncak desa Ciburayut, Cigombong, Bogor, Jawa Barat, ada pesantren nan megah diselimuti hawa sejuk yang di atas satu hektar lahan. Namun siapa sangka pondok bernama Tahfizh Al Quran Darussofa ini rupanya hasil wakaf seorang berhati mulia H Ahmad bin Muhammad Syafii, warga Jakarta dan asli berdarah Indonesia.

H Ahmad yang relatif masih muda dalam usia 48 tahun sekaligus menjadi donatur tetap hingga sekarang. Kemudian pengelolaannya diserahkan kepada KH Irhamsyah Putra, salah seorang dosen di Universitas Islam Negeri (UIN), Ciputat, Jakarta yang lulusan Mesir. Dari tangan dinginnya lantas Darussofa dijuluki sebagai pesantren lintas mazhab.

Biar pun mewakafkan dan pengelolaannya diserahkan pada orang lain, tapi sang dermawan tidak seorang pun menyertakan dari keluarganya. Karena dia memang ingin mencurahkan perhatian pada pondok pesantren. Sehingga murni diwakafkan untuk umat Islam yang yatim dan dhuafa.

KH Irhamsyah Putra, pengasuh Pondok Pesantren Darussofa. Foto: galery.org

Menurut KH Irham, panggilan akrab KH Irhamsyah Putra, Darussofa dibangun tahun 2014-2015. Di tahun 2015 baru menerima murid, tapi itu masih dalam kegiatan untuk menghapal Alquran. Setahun kemudian (2016), baru resmi dibuka kelas umum dengan mempertahankan kegiatan menghapal Alquran.

Bahkan kedua nilai dari kelas umum dan hapal Alquran ini menjadi syarat kelulusan pada gilirannya. Sekolah umum, artinya sama seperti sekolah kebanyakan. Jam belajarnya sama enam jam. Masuk kelas pukul: 07.00 WIB hingga 13.00 WIB. Keluar kelas, baru masuk kegiatan menghapal Alquran hingga masuk shalat Ashar, pukul 15.00.

Usai shalat, santri diberi refresing dengan berolahraga. Ada basket, sepak bola, badminton, dan lain-lainya. Usai magrib, kembali menghapal Alquran dan kajian-kajian lain hingga 21.30 WIB. Setelahnya baru istirahat hingga bangun pukul 03.00 WIB.

Masyarakat sekitar yang dipekerjakan di Kebun Pesantren Darussofa. Foto: galery.org

Karena mengikuti aturan sekolah umum, lanjut Irham, maka tenaga guru-gurunya pun punya latar belakang pendidikan sekolah umum. Jadi gurunya bukan sukarelawan. Semua guru digaji standar di sekolah umum.

Untuk dananya dari donatur tetap dibantu beberapa donatur tidak tetap. Karena itu, Masjid Darussofa di Pesantren Darussofa ini terbuka untuk umum, setiap Jumat dan saat Ramadan untuk shalat tarawih. Artinya, pihak pengelola membuka sumbangan bagi masyarakat.

“Tentu kami tidak mengandalkan itu. Untuk menambah kebutuhan dana operasional atau kas pesantren, kami ada bisnis, seperti berkebun dan fasilitas guest house (penginapan). Semua hasilnya tidak dibagi kemana-mana, tapi langsung masuk kas pesantren,” ungkap Irham saat ditemui di salah satu rumah atau kamar yang bentuknya sama seperti ditempati santri lainnya, Senin malam (13/5/2019).

Berkebun ini merupakan kegiatan sehari-hari di luar sekolah dan menghapal alquran. Mereka bangun pukul 03.00 WIB, lalu sholat qiyamul lail sampai jelang subuh sambil terus menghapal Alquran. Setelah shalat subuh, kembali menghapal Alquran sampai pukul 06.30. Baru sarapan, sebelum bersekolah, pukul 07.00.

Ustaz Abdul Somad sempat mampir di Ponpes Darussofa mengisi taklim di Masjid Darussof. foto: galery.org.

Kembali soal berkebunnya, yaitu mulai Kamis siang dan Jumat. Karena setelah Kamis siang tidak ada lagi kegiatan belajar dan sepanjang Jumat libur seperti hari minggu nasional. “Jadi kalau Sabtu dan Minggu, kami malah masuk. Jumat itulah mereka berkebun ditambah Sabtu sore juga,” paparnya.

Berkebunnya itu, rinci dia, menanam berbagai macam tanaman, sayuran seperti bayam, sawi, tomat, kangkung.  Kacang-kacangan, seperti kedelai, okra, dan lain-lain. “Oya, sekarang lagi panen cabai,” ujarnya sumringah.

Kemudian ada buah-buahan, seperti buat bit. Utamanya durian dan rambutan. Itu semua dijadikan bisnis yang hasilnya semua masuk kas pesantren. “Nah, santri-santri itu tugasnya membersihkan kebun setiap Kamis sore dan Jumat tadi. Baik tanah yang ada tanaman maupun yang baru ditanam,” ceritanya.

Di luar itu, lanjut dia, ada satu orang satu santri yang ditugaskan bergantian semacam piket setiap hari untuk berkebun. Satu orang ini soalenya untuk membantu satu orang lain yang memang special sebagai berkebun. “Ada juga beberapa masyarakat sekitar pesantren dipekerjakan di lahan seluas 4 hektar,” akunya.

Ceritanya mengenai awalnya dapat murid yang khusus anak yatim dan dhuafa, Irham mengaku sempat pasang semacam iklan di media social seperti Instagram, facebook, dan web pesantren Darussofa. Jadi bukan promosi seperti kebanyakan. Karena khawatir peminatnya membludak.

Soalnya kapasitas santri di Darussofa hanya 35 orang per tahun. Atau sengaja dibatasi setiap ajaran baru maksimal 35 murid dan semua laki-laki. “Kami tidak akan pernah mau mencampur perempuan dengan laki-laki karena kami nilai itu berbahaya. Tapi ke depannya, kami sudah siapkan lahan terpisah khusus santri perempuan tak jauh dari santri laki-laki ini,” ujar pria ramah ini.

Diakui, angkatan pertama ini memang baru meluluskan tiga orang. Ini karena ada proses alami, seperti ada yang tidak betah. Atau tidak mampu mengikuti pelajaran, dan lain-lain. Sementara waktu pertama buka kelas memang angkatan pertama ini hanya belasan orang.

“Ya, nanti angakatan kedua ada baru akan ada 10 orang. Kemudian kami targetkan angkatan ketiga lulus 15 orang, dan terus sampai nanti diharapkan maksimal lulus 20 orang setiap angkatan,” harap sembari mempersilakan minum teh, tapi rupanya wedang jahe.

Menurut dia, sebagaimana sekolah umum, ada seleksi alam juga. “Misalnya, setiap tahun menerima untuk tingkat SMA 25 pelajar dan SMP 10 pelajar. Yang SMA ini pasti akan berkurang. Ditambah pasti ada yang tidak ikut naik kelas bahkan tidak lulus,” ujarnya sambil melanjutkan.

Rata-rata yang tidak naik kelas atau tidak lulus itu dikarenakan tidak hapal Alquran dan nilai umumnya rendah. Namun mereka diberi kesempatan untuk bisa menghapal Alquran dengan cara di karantina.

“Misalnya, nilai umumnya bagus, tapi menghapal Alquran-nya lemah. Nah dia dikarantina sampai mencapai target 10 juzz dalam satu tahun. Jadi kalau sampai di akhir tahun baru 7 juzz, maka diberi kesempatan untuk menyelesaikan sisa 3 juzz dengan karantina. Ini pun kalau nilai umumnya bagus.  Kalau tidak ya tidak lulus atau tidak naik kelas sama sekali,” ulasnya.

Sistem seleksinya, kata dia, ada dua tingkatan. Pertama lancar membaca bukan menghapal Alquran, lulus tes matematika, IPA (ilmu pengetahuan alam), bahasa Inggris, dan agama. Rata-rata nilai untuk seleksi di atas 6 dari lulusan SD (sekolah dasar).

Diakui, ada yang yatim dan dhuafa tidak punya kemauan. Ada punya kemauan tapi tidak punya kemampuan materi, sebaliknya ada yang tidak mampu tapi juga tidak punya kemauan.

“Karena bagi kami di sini, memang tidak mencetak ustadz atau ulama. Karena kami anggap anak-anak yang tamat dari pesantren ini sudah jadi ustadz dan mereka hafiz Quran. Jadi anak-anak ini, dalam tiga tahun di sini wajib sudah hapal Alquran dengan jurusan IPA dari untuk SMA-nya,” terangnya.

Walaupun ada menampung beberapa anak yang belum tamat SD. Misalnya anak korban gempa seperti Palu, ada juga korban bencana tsunami Banten. Jadi ada orang-orang spesial yang butuh pertolangan. Tapi ini dibatasi tidak lebih dari tiga orang.

Irham mengingatkan, walau pesantren Darussofa tidak memungut bayaran, tapi bukan berarti fasilitasnya asal-asalan. “Di sini fasilitas cukup memadai. Murid diberi seragam tujuh stel supaya bisa ganti setiap hari selama tujuh hari. Kamar yang bagus. Di mana setiap kamar yang memuat 4-5 santri, ada kamar mandi dan mesin cuci,” ungkapnya.

Diakui, perjalanan pesantren ini tidak mudah karena yang dihadapi anak-anak tidak mampu, yatim dan dhuafa. “Tapi bagi kami inilah tantangan. Pesantren ini dibuat sedemikian rupa bagus dan berkelas tapi kami dedikasi untuk anak-anak yatim dan dhuafa. Supaya mereka merasakan sekolah yang betul-betul sekolah sama seperti kebanyakan,” paparnya.

Memang pesantren ini sangat bersih. “Mungkin jadi salah satu yang terbersih di Indonesia. Ini karena sesuai motto kami Bersih dan berakhlak. Karena tujuan utama kami, yaitu tidak mencetak anak-anak yang pintar, tapi menjadi anak-anak yang baik berakhlak mulia sesuai sunah Rasulullah,” urainya.

Alhamdulillah, klaim dia, sudah membuahkan hasil. “Anak-anak hapal Alquran dan ada yang lulus masuk tentara dengan hapal Alquran, lanjut sekolah ke Timteng, dan masuk STAN. Tahun 2018, ada santri yang hapal Alquran dapat beasiswa sekolah pilot di Banyuwangi, Jawa Timur. Namanya Agung Izulhaq,” terangnya.

Jadi itu alasan pesantren memasang syarat tes IPA dan matematika. “Kami mengarahkan anak-anak bisa masuk kedokteran, tentara, kepolisian, teknik, dan sejenisnya. Maka itu, angkatan pertama tadi hanya tiga orang yang lulus dari hasil saringan ketat,” tutupnya. (*)

 

Baca Juga


Berita Terkait

Nasional / DKI Sudah Kembangkan Ekosistem Wakaf

Indobisnis / Wakaf Bisa Berbentuk Aset untuk Orang Banyak


Baca Juga !.