Headline

Sejuta Pesan di Tradisi Buka Puasa Bersama

Redaktur: Juni Armanto
Sejuta Pesan di Tradisi Buka Puasa Bersama - Headline

indopos.co.id - Tradisi buka puasa bersama atau bukber di Indonesia sudah berlangsung lama. Momen ini sarat makna dan menjadi lahan mendulang pahala. Umumnya buka puasa bersama dilaksanakan atas undangan seseorang. Pengundang menyediakan makanan kepada tamu. 

 Masyarakat Indonesia memang menyukai kebersamaan. Bahkan pada zaman nabi sudah diajarkan bahwa sesungguhnya keberkahan itu ada bersama kebersamaan. 

’’Ritual keagamaan seperti buka puasa memang beda. Kan buka puasa sendiri dengan bersama-sama. Apalagi di dalamnya mengandung sedekah. Yang punya menanggung yang tidak punya. Yang tidak punya mendoakan yang punya. Kemudian dua-duanya duduk bersama tanpa ada yang tahu siapa yang menyediakan dan siapa yang disediakan,’’ ujar Ustaz Yusuf Mansyur kepada INDOPOS melalui telepon di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

 Kebersamaan harus dimaknai dalam segala aspek. Tak hanya dalam hal makan bersama saat berbuka puasa. Akan tetapi bulan suci ini menyimpan keberkahan bagi mereka yang berpuasa. 

’’Sesungguhnya keberkahan itu saat bersama. Tidak melulu soal makan sih. Soal ekonomi, soal politik, soal ketahanan, keamanan itu juga butuh kebersamaan sehingga di dalamnya ada keberkahan,’’ ucapnya. 

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu'ti menyatakan, dalam hadis disebutkan agar selama Ramadan umat Islam memperbanyak sedekah. Seperti halnya saat buka puasa bersama. 

Di antara sedekah yang dianjurkan memberi makan bagi mereka yang berpuasa. Ada riwayat yang menyebutkan kemuliaan pahala mereka yang memberi makan untuk berbuka sama halnya dengan mereka yang berpuasa.

’’Buka bersama merupakan tradisi yang berkembang di negara-negara Muslim. Penyelenggaraanya sangat beragam. Buka bersama merupakan tradisi yang baik untuk mempererat silaturrahim,’’ tutur Abdul Mu'ti. 

Kendati demikian, buka bersama harus dilaksanakan sesuai tuntunan Islam. Terkadang buka bersama terkesan menjadi ajang politik. Islam tidak melarang politik. Tetapi tidak jika buka bersama dijadikan ajang untuk melakukan deal politik kekuasaan.

’’Buka bersama juga dapat menjadi ajang rekonsiliasi. Siapapun yang menang tetap harus diterima dengan lapang dada. Momen buka bersama hendaknya tidak dijadikan arena perayaan kemenangan salah satu calon, tapi untuk membangun kerukunan dan persatuan,’’ cetusnya. 

Selain itu, hendaknya tidak boros dan berlebihan. Islam melarang perbuatan israf atau berlebihan. Seringkali dalam buka bersama banyak makanan terbuang sehingga mubazir. Di dalam Alquran disebutkan bahwa mubazir adalah teman dan perbuatan setan.

’’Di dalam hadis disebutkan mereka yang berpuasa akan mendapatkan kebahagiaan ganda. Saat berbuka dan saat menghadap Tuhan. Buka bersama adalah momen perayaan kecil setelah berhasil menunaikan ibadah puasa. Itulah kebahagiaan berbuka bersama,’’ ungkapnya. 

 Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bidang Hukum, HAM, dan Perundang-undangan Robikin Emhas menerangkan, buka puasa bersama untuk merekatkan silaturahmi, keakraban, dan kekerabatan. Acara ini memberikan kesempatan besar bagi masyarakat dan orang-orang yang terlibat untuk saling berbagi rezeki. 

’’Buka puasa bersama bukan merupakan ritual Ramadan yang bersifat syar'i. Begitu juga salam-salaman setelah menunaikan salat hari raya. Namun merupakan kekhasan Islam di Nusantara. Hal-hal seperti itu tidak dilarang agama. Bahkan dapat memperkokoh ukhuwah islamiyyah. Sesuatu yang dianjurkan Islam,’’ terang Robikin. 

Terlebih usai pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) serentak 2019 yang sempat berselisih pendapat. Tentu dengan momen buka puasa bisa dijadikan memperkokoh kekerabatan.

’’Saya kira begitu,’’ jelasnya. 

Hal sama dikemukakan pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Agenda buka puasa hingga tarawih bersama di bulan Ramadan dapat menjadi jembatan rekonsiliasi para elite politik. Khususnya bagi kubu 01 Jokowi-Ma'ruf maupun 02 Prabowo-Sandi pasca pilpres 17 April lalu.

’’Mungkin juga safari tarawih maupun baksos bersama bisa menjadi jembatan rekonsiliasi,’’ kata pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati kepada wartawan, Jumat, (17/5/2019).

Menurut Wasisto, Ramadan harus dijadikan momentum para elite untuk berdamai dan tidak berkonflik. Semua niat berdamai itu harus dilakukan dengan kesungguhan hati.

’’Kembali lagi kesungguhan hati elite masing- masing kubu apakah mereka mau berdamai atau mau masih berkonflik. Saya pikir saling memberi undangan berbuka puasa antar dua kubu itu efektif turunkan tensi,’’ paparnya.

Meski demikian, Wasisto beranggapan, potensi konflik pacsa pilpres 2019 sudah mulai mengendur. Apalagi, beberapa elite koalisi 02 diduga mulai merapat ke 01.

’’Hal itu ditandai berkurangnya tensi politik di ruang publik,’’ tuntasnya.

Pergeseran Nilai

Budayawan Agus Sunyoto punya pandangan berbeda soal bukber. Menurutnya, saat ini ada pergeseran budaya bukber.

’’Awal terbentuknya dari kultur silaturahmi. Dan berkembang menjadi bukber. Maknaya dulu bukber itu untuk keluarga saja atau pun berkumpul di masjid,’’ kata Budayawan Agus Sunyoto kepada INDOPOS, Jumat (17/5/2019).

Menurut Agus, secara umum budaya bukber merupakan salah satu bentuk interaksi mutualisme yang terjadi antara orang-orang di dalam sebuah lingkungan. Perkembangan bukber ini meluas seiring perkembangan zaman. Kegiatan ini menjadi sarana berkumpul kembali dengan banyak orang.

’’Dari sini kemudian meluas dan berkembang sesuai zaman. Jadi maknanya mereka dapat mempererat kembali silaturahmi dengan orang lama dalam sebuah lingkungan. Tempatnya pun disesuaikan keinginan bersama,’’ ujar Agus.

Tradisi bukber mulai berkembang pesat ketika era reformasi. Kawula muda semakin menggemari. Mereka lebih memilih tempat khusus seperti kafe atau restoran untuk berkumpul. Adaptasi bukber ini hampir serupa kegiatan arisan.

’’Bukber bukan lagi sebuah hal sakral. Tetapi lebih pada kongkow bagi mereka yang hidup di perkotaan besar. Justru bukber ini berkembang sesuai keinginan kaum milenial,’’ ungkap Agus.

Di samping itu, masyarakat Indonesia juga memiliki berbagai tradisi untuk mengisi Ramadan. Seperti salat tarawih bersama, santunan, pembagian takjil atau menu berbuka. Namun, sebagian beranggapan kalangan bukber ini menimbulkan dampak negatif.

’’Ada yang bilang karena bukber ini mereka meninggalkan salat tarawih. Karena memang bukber ini sarana untuk ngobrol dan menghabiskan waktu. Harusnya ini yang dipahami agar nilai religiusnya tak hilang,’’ imbuhnya.

Pengamat Sosial Rissalwan Habdy Lubis menuturkan, dalam era milenial ini tradisi bukber telah berubah dari nilai sebelumnya. Kini lebih ke aspek gaya hidup ala perkotaan. Dengan alasan menikmati sajian makanan di beberapa tempat yang dianggap menyediakan panganan lezat atau tempat kongkow dengan beragam fasilitas.

’’Di sini nilai budayanya bergeser, karena yang melakukan bukber ini hanya kalangan ekonomi mapan. Pilihannya pasti di berbagai tempat dengan kocek ya sedikit lumayan,’’ tuturnya.

Ditambahkan Rissalwan, marwah bukber untuk mencari kabajikan atau pahala pun luntur. Sebab kegiatan ini telah disusupi budaya asing yang masuk ke tanah air. Dan hal itu pun menjadi fenomena sosial di masyarakat megapolitan yang sulit diubah.

Hunian Hotel Naik

Direktur Usaha dan Pemasaran PT Jakarta Tourisindo (JakTour) Iskandar Zulkarnain, mengatakan, Ramadan mendatangkan banyak berkah bagi masyarakat. Tidak terkecuali dalam bisnis hotel.

"Setidaknya peningkatan hunian hotel dalam bulan Ramadan naik di kisaran tiga persen," ujar Iskandar, Jumat (17/5/2019).

PT Jaktour membawahi tujuh unit usaha dengan tujuh hotel serta satu wahana rekreasi dan olahraga. Masing-masing yakni Hotel Grand Cempaka Bussines, Grand Cempaka Resort, d'Arcici Sunter, d'Arcici Plumpang, d'Arcici Cempaka Putih, c'One Cempaka Putih, c'One Pulomas dan d'Arcici Sport.

Untuk menarik minat pengunjung, sebanyak 7 hotel di bawah naungan PT. Jakarta Tourisindo didesain nuansa Ramadan. Hal ini semakin melengkapi desain awal hotel yang memang sudah modern. ’’Kami ingin membuat pengunjung senyaman mungkin,’’ jelasnya. (wok/cok/aen/dan)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.