Feature

Mengenal Desa Anti-Speaker di Rumpin, Bogor

Redaktur: Nurhayat
Mengenal Desa Anti-Speaker di Rumpin, Bogor - Feature

TANPA NAMA - Salah satu masjid yang tidak menggunakan speaker di Desa Rabak, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto: Nurhayat/INDOPOS

Berjarak tak lebih 80 kilometer dari Jakarta, masyarakat Rumpin di Kabupaten Bogor, Jawa Barat tidak mengenal speaker (pengeras suara). Speaker menjadi barang yang tabu di sebagian wilayah Rumpin.

Memasuki wilayah Rumpin, mendapati masjid-masjid atau musala-musala tanpa Toa (speaker) di bagian atas bangunannya bukanlah hal yang asing. Lebih dari sebagian desa yang ada di wilayah ini sejak lama memberlakukan aturan tidak tertulis berupa larangan menggunakan speker. Mereka menyebutnya Aspek, singkatan dari Anti-Speaker.

Tak hanya masjid atau musala yang diberlakukan larangan tersebut. Sejumlah alat elektronik yang di dalamnya terdapat speaker, seperti televisi atau radio juga tidak diperkenankan menghiasi rumah-rumah warga di wilayah itu.

Dari 14 desa yang ada di Rumpin, sedikitnya terdapat enam desa yang mayoritas masyarakatnya masih berpegang teguh dengan aturan tersebut. Yakni, di Desa Cipinang, Cibodas, Rabak, Sukasari, Kertajaya, dan Kampung Sawah. Keenam desa itu kerap disebut Desa Aspek.

Sementara, bagi tetangga mereka yang menggunakan speaker, mereka menyebutnya Dospek. Dospek merupakan kepanjangan dari Doyan Speaker. "Aturan yang melarang speaker di masjid atau musala ini sudah lama ada. Dari saya lahir pun sudah ada," kata salah seorang warga Aspek, Hawalani yang tinggal di Desa Rabak, saat ditemui di tempat kerjanya di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Selasa.

Pria 53 tahun ini tidak mengetahui ikhwal aturan ini ada. Namun, dia dan warga lainnya patuh terhadap Kyai atau ulama di wilayahnya untuk tetap berpegang pada aturan tersebut.

Konon aturan ini diberlakukan setelah kepulangan warga mereka yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Gentur, Cianjur, Jawa Barat. Secara turun temurun, warga mengikuti aturan yang diberlakukan oleh sesepuh di desa mereka.

Penyuluh Agama Kementerian Agama yang juga menjabat sebagai Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI), Asep Jamaludin mengungkapkan alasan warga tidak memperkenankan speaker berada di masjidnya. Larangan itu bertujuan agar bagi yang tengah membaca Alquran atau azan di masjid dengan menggunakan speaker, jika terjadi kesalahan dalam membacanya tidak sampai didengar oleh orang lain di luar masjid.

“Mereka beranggapan, jika bacaannya salah harus diberitahukan kepada yang membacanya dan diperbaiki. Jadi, tidak mungkin kan jika orang yang mendengarnya sedang ada di sawah, kemudian harus datang ke masjid untuk membetulkan bacaan yang sedang mengaji di masjid,” kata Asep.

Aturan anti-speaker juga tidak hanya berlaku untuk kegiatan di dalam masjid atau musala. Aturan juga diberlakukan bagi mereka yang memiliki hajat, seperti melakukan pesta pernikahan atau pesta lainnya. ”Di Desa Aspek tidak ada hiburan dangdut atau organ tunggal jika ada pesta nikahan. Jika ada hajatan, pesta tetap meriah dihadiri banyak orang, tanpa ada hiburan organ tunggal atau layar tancap,” beber Asep.

Tak hanya alergi terhadap speaker, dalam berpendidikan, warga tidak menerima dengan kehadiran sekolah yang berada di bawah naungan yayasan (sebutan warga untuk sekolah swasta). Mereka lebih memilih untuk memasukkannya ke sekolah pemerintah (sebutan warga untuk sekolah negeri).

”Kalau menurut kyai kami, di yayasan itu kan sekolah agama, tapi kenapa anak lelaki dan perempuan bercampur belajarnya di dalam kelas. Untuk itu, lebih baik kami menyekolahkan di sekolah pemerintah yang jelas-jelas bercampur lelaki dan perempuan tetapi tidak menggunakan embel-embel agama,” terang Hawalani.

Namun, berkembangnya teknologi komunikasi dengan munculnya alat komunikasi digital, membuat larangan anti-speaker mulai tergerus. Hampir seluruh warga Aspek, khususnya anak muda, kini di tangannya menggenggam telepon seluler (ponsel). Di rumah-rumah mereka juga mulai dihiasi televisi dan radio. Tapi untuk masjid dan musala tetap tanpa speaker.

”Meski di handphone ada speakernya, tapi kami menganggap ini pengecualian. Yang tidak boleh menggunakan speaker hanya di masjid,” kata Hawalani.

Saat Indopos melihat dari dekat kondisi “Kampung Aspek”, tengah masuk waktu salat dzuhur. Suara azan tak terdengar dari kejauhan, hanya dapat didengar oleh mereka yang dekat dengan masjid.

Meski suara azan tidak terdengar sampai jauh, namun warga nampak berbondong-bondong datang ke masjid untuk menunaikan salat berjamaah. ”Kami sudah terbiasa. Kami cukup melihat waktu salat. Sehingga, tidak harus menanti suara azan. Jika waktunya salat, kami langsung ke masjid,” ujar Hawalani.

Bahkan, tidak hanya tanpa speaker, masjid-masjid atau musala-musala di wilayah Aspek juga mayoritas tidak memiliki nama. ”Di sini, masjid jarang yang ada namanya,” cetus Hawalani.  

Bagi pihak keamanan, warga Aspek sangat membantu dalam menjalankan tugasnya. Tidak banyak peristiwa kriminal terjadi di wilayah tersebut. Mobilisasi massa yang dilakukan tokoh agama untuk berdemostrasi seperti peristiwa 212, juga tidak muncul di wilayah ini. ”Di wilayah Aspek jarang memunculkan tokoh agamanya. Tidak banyak tokoh agama yang terkenal. Sehingga, minim terjadinya mobilisasi massa,” terang Kapolsek Rumpin, Kompol Akhmad Wirjo saat ditemui Indopos di ruang kerjanya. (*)

 

 


 

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.