Feature

Jalan Panjang Kebon Jeruk, Surganya Pedagang Takjil

Redaktur: Dani Tri Wahyudi
Jalan Panjang Kebon Jeruk, Surganya Pedagang Takjil - Feature

BERKAH-Aktivitas perdagangan takjil di Jalan Panjang Kebon Jeruk, Jakarta Barat.FOTO:DANI TRI WAHYUDI/INDOPOS

Pemandangan ini rutin dijumpai setiap tahun tepatnya pada bulan suci Ramadan. Jalan Panjang Kebon Jeruk, Jakarta Barat dipastikan macet di sore hari. Semakin sore semakin macet. Itu tak lain karena aktivitas transaksi perdagangan takjil di sana.

Pasar tumpah takjil. Tak henti-hentinya baik pejalan kaki, pengendara motor, hingga mobil mampir di sana untuk membeli takjil. Lokasinya pedagang takjil itu berderet sepanjang 200 meteran di sepanjang rukan Jl Panjang  depan Bank Mandiri Cabang Kelapa Dua.

”Kita sudah 15 tahun berdagang di sini,” ungkap Eko, 50, pemilik lapak tenda dengan meja keliling seukuran 3x2 meter. Lapak tersebut berada di tepi jalan persisisnya di depan Resto Sarang Oci Masakan Manado Jl Panjang. Sekilas lapak milik Eko terlihat paling digemari pemburu takjil. Mungkin salah satu faktornya lantaran dagangan yang disajikan lebih beragam dan barangnya terlihat lebih ”kinclong” dibandingkan lainnya.

Ramainya pembeli diimbangi dengan penempatan sekitar enam karyawan yang membantu Eko berjualan. Ada beraneka macam kue yang ditawarkan. Antaralain kue basah seperti risol, tahu isi, lemper, bacang, arem-arem, kue pisang, kolak, kue pie, bubur sumsum, kue gorengan, beraneka jenis bolu, dan segala jenis jajanan pasar bahkan ada dimsum ala korea-koreaan. Menariknya, kue-kue tersebut dijual rata-rata Rp 10 ribu per tiga biji. Sementara semacam bubur sumsum, kolak, dan semacam yang dibungkus gelas plastik dijual Rp 15 ribu.

Eko mengaku, selama Ramadan dagagannya selalu hampir ludes terjual. Dia membuka lapak dagangannya mulai pukul 15.00-17.00. Dalam sehari dia mengaku minimal mengantongi omzet penjualan Rp 3 juta.

Rupanya Eko bukan hanya pemain takjil musiman. Sehari-hari dia berdagang kue serupa di dua lokasi berbeda dengan tempat usaha bernama Larasati Bakeri. ”Kita yang permanen buka di Pasar Kosambi dan Green Lake City,” cetusnya.

Kendati sehari-hari berdagang kue, namun kesempatan Ramadan dia tak sia-siakan untuk menais rezeki di Jalan Panjang Kebon Jeruk yang hoki. Lokasi itu rupanya membawa hoki bagi para pedagang takjil seperti dirinya. Seolah surganya pedagang takjil. Lokasinya sih memang cukup strategis.

Posisi jalan di depan komplek rukan itu memang lebih lebar beberapa meter dari. Ditambah lagi banyak akses menunu lokasi tersebut. Antaralain Jl Domang, Jl Anggrek, Jl Saari, dkll yang posisinya membelakangi pasar tumpah takjil. Belum lagi lokasi tersebut berada tepat pada putaran (u-turn) Jalan Panjang. Sehingga pembeli pun bisa datang dari arah kampung seberang Jalan Panjang tersebut.

Apa aman beradagang di situ aman, tidak dipalak preman atau dilarang oleh petugas? Eko menyebut berdagang di sana tidak diganggu preman. Karena, pedagang di sana mendapatkan ”restu” oleh aparat setempat. ”Kita udah kerja sama dengan kelurahan,” ungkapnya, tanpa mau menjelaskan lebih lanjut kerja sama seperti apa yang dimaksudkannya itu.

Memang, kendati membuat macet namun perdagangan takjil seperti dibiarkan di sana. Seolah menjadi sesuatu hal yang lumrah dan tradisi wajar setiap Ramadan. Sesuatu yang menjadi kebutuhan, antara pembeli, pedagang takjil, atau bahkan mungkin bagi pihak lain (oknum?). Bagi yang terkena macet di Jl Panjang Kebon Jeruk selama Ramadan, sabar ya. Ini ujian. Hanya setahun sekali. (*)   

Baca Juga


Berita Terkait

Nasional / Bulog Gencar Bikin Pasar Murah

Kesra / Salurkan ZIS, Prioritaskan Daerah 3 T

Kesra / Wali Band Meriahkan Mudik Gratis BPJS Ketenagakerjaan

Lifestyle / Mau Menu Sahur yang Bergizi, Coba Menu ini


Baca Juga !.