Nasional

Permintaan Rokok Turun 6 Miliar Batang per Tahun. Ini Penyebabnya…

Redaktur: Juni Armanto
Permintaan Rokok Turun 6 Miliar Batang per Tahun. Ini Penyebabnya… - Nasional

DIKERINGKAN - Aktivitas penjemuran tembakau di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Foto Dok/INDOPOS

indopos.co.id - Selama beberapa tahun belakangan ini telah terjadi penurunan permintaan rokok hingga kurang lebih 6 miliar batang per tahun. Kondisi itu bukan hanya membunuh para petani tembakau, tapi juga berpotensi memotong pendapatan negara.

”Bayangkan saja, kalau dihitung secara ekonomisnya dari 6 miliar batang rokok akan menghasilkan sekitar Rp 6 triliun. Dari angka tersebut sebanyak Rp 4 triliunnya masuk ke negara melalui cukai dan pajak rokok.  Jadi kalau kampanye antirokok terus digaungkan, maka pemerintah akan kehilangan pendapatannya kurang lebih sebesar Rp 4 tiliun per tahun,” ujar Soeseno, ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) saat buka puasa bersama antara industri hasil tembakau (IHT) dengan Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) di Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Dia menambahkan, kampanye menaikkan harga rokok dan kawasan tanpa rokok dapat mengancam ketersediaan mata pencaharian petani. Misalkan satu batang rokok isinya satu gram tembakau berarti ada 6 ribu ton tembakau kering yang terancam hilang akibat penurunan ini. Jika satu hektare (ha) lahan petani menghasilkan satu ton tembakau kering, maka ada sekitar 6 ribu ha lahan tembakau yang hilang tidak terserap. ”Artinya tidak sedikit petani tembakau yang akan kehilangan mata pencariannya. Sementara sampai dengan saat ini harga tembakau lebih tinggi dibandingkan harga komoditas lain di musim kemarau,” ungkap Soeseno.

Dia juga menyampaikan, setiap daerah memiliki karakter lahan yang berbeda-beda, sehingga petani tembakau tidak dapat dipaksakan untuk mengganti tanaman tembakau mereka dengan tanaman lainnya karena belum tentu kesejahteraan petani meningkat atau tetap stabil.

”Harapan petani itu simple. Dengan harga rokok berapapun, tembakau petani bisa diserap dengan harga tinggi atau minimal diatas biaya produksi. Karena harga rokok mahal apakah hasilnya mengalir ke petani? Belum tentu juga mengalir ke petani. Ini karena, dana bagi hasil cukai dan hasil tembakau (DBHCHT) yang dihasilkan dari produk tembakau tidak sepenuhnya dapat dinikmati oleh petani tembakau,” keluh Soeseno.

Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo menambahan, masifnya kampanye antirokok oleh beberapa kelompok antitembakau sangat berdampak terhadap stakeholder tembakau, salah satunya sangat dirasakan petani tembakau. ”Padahal seharusnya kita bisa saling menghormati. Tidak perlu ada kampanye yang menyuarakan bahwa rokok merupakan produk yang harus dikucilkan,” tandasnya.

Budidoyo berharap adanya perhatian baik dari pemerintah dalam menyusun peraturan dan kebijakan terkait produk hasil tembakau yang adil dan berimbang karena Industri Hasil Tembakau (IHT) masih menjadi penopang perekonomian negara dan belum ada industri lain yang mampu menggantikan peran IHT dalam penerimaan negara.

Budidoyo menyoroti tantangan pertanian tembakau dan tata niaga pertembakauan di Indonesia yang kompleks. (aro)

Baca Juga


Berita Terkait

Nusantara / 18 Juta Rokok Ilegal Disita Bea Cukai

Jakarta Raya / Target Empuk Produsen Rokok

Nasional / Menjaga Kesempatan Bekerja, SKT Perlu Dilindungi

Indobisnis / Somasi Produsen Rokok, Begini Kata Pengamat

Nasional / Miris, Rokok Elektrik Anak Beredar


Baca Juga !.