BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Manfaat JKM dan JKK ke Kemenpar

indopos.co.id – BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Menara Jamsostek menyerahkan santunan manfaat Jaminan Kematian (JKM) dan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) di Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI (22/5/2019). Santunan diberikan oleh Menpar Arief Yahya kepada satu ahli waris yang meninggal karena kecelakaan kerja dan tiga peserta yang meninggal dunia.

”Kami turut berdukacita atas musibah meninggalnya empat karyawan Kemenpar RI. Semoga seluruh almarhum khusnul khotimah dan yang ditinggalkan diberi kesabaran,” ungkap Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan DKI Jakarta Ahmad Hafiz yang didampingi oleh Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Jakarta Menara Jamsostek Agoes Masrawi di Kantor Kemenpar RI, Jakarta.

Penerima manfaat JKM senilai Rp 24 juta adalah tiga ahli waris dari Andriyatna Rubenta Tarigan, Ayok Wahyu Saputro, Drs Ukus Kuswara MM (Sekjen Kemenpar). Sementara ahli waris Rizki Kusramdhan Ananda menerima manfaat JKM Rp 197,577,777.60 dan beasiswa untuk anak yang ditinggalkan.

Hafiz mengaku sangat mengapresiasi Menpar Arief Yahya karena sangat peduli dengan perlindungan seluruh karyawannya. Dikatakan, seluruh karyawan non-ASN Kemenpar didaftarkan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Bahkan karyawan ASN yang sudah terdaftar di penyelenggara jaminan perlindungan lain juga ditop-up menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

”Ini sungguh luar biasa dan tentunya menjadi teladan yang bisa diikuti oleh kementerian, badan, lembaga, atau instansi lainnya,” ungkap Hafiz. Sementara itu Menpar Arief Yahya mengatakan, sangatlah penting memproteksi diri dengan program perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan. ”Karena mengasuransikan diri itu pada dasarnya bukan hanya untuk kebaikan dirinya sendiri. Tetapi untuk kebaikan keluarga tercinta,” paparnya.

Arief mengatakan, program perlindungan dari negara iurannya relatif murah tetapi memberi manfaat yang besar. Itu bisa terjadi karena menganut sistem gotong royong. ”Coba dibandingkan apabila tidak menjadi peserta dengan menjadi peserta (BPJS Ketenagakerjaan). Hasilnya (manfaatnya) akanlah sangatlah jauh,” ujar menteri asal Banyuwangi itu.

Dikatakan, sebelum menjadi peserta jaminan sosial ketenagakerjaan pihaknya hanya bisa membantu dengan patungan sesama karyawan jika ada karyawan non-ASN yang meninggal dunia. ”Dikumpul-kumpulkan paling banyak hanya Rp 500 ribu. Padahal kalau saya hitung-hitung setidaknya yang ditinggalkan membutuhkan Rp 100 juta untuk bertahan hidup ketika ditinggalkan oleh tulang punggung keluarga,” ungkapnya.(dni)

Komentar telah ditutup.