Feature

Kerukunan Beragama di Gang Eka Dharma

Redaktur: Juni Armanto
Kerukunan Beragama di Gang Eka Dharma - Feature

TOLERAN - harun, Ustaz Musala Al Mukhlashiin Gang Eka Dharma. Foto:Nasuha/INDOPOS

Lebih dari 20 tahun Musala Al Mukhlashiin dan Gereja Kristen Pasundan berdampingan. Masing-masing jemaah khusuk menjalankan ibadah. Pada momen Lebaran dan tahun baru mereka saling kunjung.

 

Nasuha, Jakarta

 

Suara azan Isya mengumandang. Sekelompok pemuda asyik bercengkrama di pos ronda Gang Eka Dharma, Kampung Tengah, Kramatjati, Jakarta Timur. Sejurus kemudian mereka bergegas menuju musala Al Mukhlashiin.

’’Ayo, buruan sudah masuk Isya,’’ salah satu pemuda mengingatkan sahabat-sahabatnya untuk bergegas menunaikan ibadah.

Untuk tiba di Musala Mukhlashiin, kita bisa berjalan kaki dari Gang Eka Dharma. Jaraknya hanya 70 Meter. Masyarakat di lingkungan RW 08 dikenal religius. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, setiap Ramadan usai salat Magrib, mereka melaksanakan salat Tarawih.

Jumlah jemaah Musala Al Mukhlashiin lumayan banyak. Mereka dari masyarakat di lingkungan RT.01 RW.08 Kampung Tengah, Kramatjati, Jakarta Timur.

’’Cepetan wudu, imam sudah mau naik,’’ kata seorang jemaah yang antre mengambil air wudu.

Para jemaah sangat antusias mengikuti salat Tarawih. Dari usia anak-anak, remaja hingga lanjut usia (lansia). Usai salat Isya, jemaah pun melanjutkan salat Tarawih. Seperti umumnya anak-anak, di Musala Al Mukhlashiin pun sama. Mereka membuat gaduh dengan berlari ke sana-sini. Tak sedikit, anak-anak yang tidak ikut melaksanakan Tarawih memilih duduk di depan musala. Kebetulan di depan musala ada bangku panjang dari kayu.

’’Sssst! Jangan berisik. Kalau enggak salat duduk aja di sini,’’ ucap remaja kepada anak-anak yang bersenda gurau di halaman musala.  

Selain religius, masyarakat RW 08, Kampung Tengah, juga dikenal masyarakat perkotaan yang menjunjung kerukunan antar umat beragama. Tidak jauh dari Musala Al Mukhlashiin terdapat Gereja Kristen Pasundan. Jarak Musala Al Mukhlashiin dan Gereja Kristen Pasundan hanya 50 meter.

Sejak puluhan tahun lalu, kedua rumah ibadah di Gang Eka Dharma ini berdamping secara damai. Para jemaah di Musala Al Mukhlashiin dan jemaah Gereja Kristen Pasundan tetap rukun menjalankan peribadatan masing-masing.

Kerukunan umat beragama di masyarakat Gang Eka Dharma sudah tercipta sejak dulu. Bahkan, sebelum Musala Al Mukhlashiin berdiri.

’’Kita tidak masalah ada gereja di sana. Kan kita ibadah di tempat beda-beda, kita juga tidak terganggu kalau mereka ibadah hari Minggu,’’ kata imam Musala Al Mukhlashiin, Harun, saat ditemui INDOPOS usai salat Tarawih belum lama ini.

Tokoh masyarakat di Kampung Tengah, Kramatjati, ini menuturkan para jemaah musala dan gereja setiap momen tertentu sering bertemu. Seperti pada perayaan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran). Para jemaah gereja kerap melakukan silaturahim ke rumah warga di Kampung Tengah.

’’Mereka (para jemaah gereja) baik. Kalau Lebaran mereka berkunjung ke kita-kita,’’ ucap Harun dengan dialek Betawinya yang kental.

Menurut suami Rohana, 56, ini biasanya jemaah Gereja Kristen Pasundan akan berkunjung ke rumah warga di Gang Eka Dharma usai salat Idul Fitri.

Lebih jauh Ayah dengan empat anak ini menjelaskan, momen yang sering dimanfaatkan untuk saling kunjung lainnya adalah saat pergantian tahun (Tahun Baru). Masyarakat di sekitar Musala Al Mukhlashiin memanfaatkan momen tersebut untuk berkunjung ke rumah jemaat gereja Kristen Pasundan di lingkungan Kampung Tengah.

’’Kalau Natal nggak, kan mereka Kristen Protestan. Jadi nggak mesti ngerayain Natal. Tapi pas tahun baru biasanya masyarakat berkunjung ke sana (gereja),’’ ujar Harun lagi.

Saling kunjung para jemaah Musala Al Mukhlashiin dan jemaah Gereja Kristen Pasundan sudah berlangsung lama. Kegiatan ini, menurut Harun, inisiatif masing-masing jemaah saja. ’’Jadi tidak ada yang koordinasi, mereka saling kunjung aja. Baik dari pihak musala atau gereja,’’ terang Harun.

Melihat sejarah berdirinya kedua tempat ibadah ini, menurut Harun, Gereja Kristen Pasundan jauh lebih dulu dibandingkan Musala Al Mukhlashiin. Sebab, saat musala berdiri pada 1999 lalu, Gereja Kristen Pasundan sudah ada. Musala Al Mukhlashiin dibangun khusus untuk warga RT.01 RW.08 Kampung Tengah, Kramatjati.

Harun menuturkan, Gereja Kristen Pasundan memiliki banyak jemaah. Mereka setiap Minggu rutin melaksanakan ibadah. Jemaah gereja, menurut Harun berasal dari luar Kampung Tengah, Kramatjati. Namun demikian, dikatakan Harun masyarakat di sekitar gereja tidak merasa terganggu.

’’Kita senang, tidak terganggu. Ya, kan sudah masing-masing ibadah dan tempatnya. Kami wajib menghormati mereka,’’ kata Harun.

Saat melaksanakan ibadah hari Minggu, warga dari Kampung Tengah kerap membantu parkir kendaraan milik jemaah gereja Kristen Pasundan. Sebab, jalan masuk ke gereja hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, melalui Gang Eka Dharma. ’’Ya, kita juga inisitaif membantu parkir kendaraan. Karena, kalau di Jalan Raya Bogor, sering bikin macet,’’ katanya.

Harun mengaku kerukunan antar umat beragama di warga Kampung Tengah khususnya warga di RT 01 RW 08 sudah tertanam sejak dulu. Meskipun gereja tengah melaksanakan ibadah hari Minggu dan Musala Al Mukhlashiin tengah menjalankan salat Zuhur tidak pernah menimbulkan gesekan atau masalah. ’’Kita sudah biasa sih. Kerukunan warga sudah tertanam sejak dulu,’’ ujarnya.

Bukan hanya soal rasa, kedua jemaah yang memiliki perbedaan kepercayaan ini kerap melakukan kerja bakti secara bersama-sama. Seperti, dikatakan Harun, biasanya warga dan jemaah gereja melakukan kerja bakti di halaman tempat ibadah hingga sepanjang jalan di Gang Eka Dharma.

’’Ya kalau gotong royong, paling kalau kita kerja bakti bareng-bareng aja di Gang Eka Dharma,’’ ungkapnya.

Harun menyebutkan, jemaah Gereja Kristen Pasundan sering menyelenggarakan kegiatan sosial. Biasanya kegiatan tersebut kerap menyasar masyarakat Kampung Tengah, khususnya di warga RT 01 RW 08. Seperti kegiatan pengobatan gratis secara massal. Untuk menjalin kerukunan lebih erat, menurut Harun ada semacam forum komunikasi antar jemaah gereja dan warga Kampung Tengah. ’’Biasanya di tingkat RW, ada namanya forum warga,’’ pungkasnya. (*)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.