Megapolitan

Cari Kerja, Jutaan Pendatang Baru Serbu Bogor

Redaktur: Syaripudin
Cari Kerja, Jutaan Pendatang Baru Serbu Bogor - Megapolitan

Foto: Net

indopos.co.id - Kota Bogor dan Kabupaten Bogor masih menjadi magnet bagi pendatang untuk mencari nafkah.
Setidaknya ada 1,1 juta orang yang masuk ke dua wilayah itu pasca Lebaran tahun ini. Mereka datang bersama pemudik menumpangi kereta api, bus, hingga kendaraan pribadi.

Data yang dirangkum Radar Bogor (INDOPOS Group), pendatang baru/pemudik paling banyak melewati jalur tol. Tercatat ada 637.173 kendaraan yang masuk ke Bogor sejak Lebaran hingga 8 Juni. Perinciaannya 126.461 kendaraan masuk melalui Gerbang Tol Ciawi, 268.675 kendaraan masuk gerbang Tol Bogor dan 241.437 kendaraan melalui gerbang Tol Bogor Outer Ring Road (BORR).

Sementara sisanya menggunakan commuter dan bus. Adapun jumlah penumpang kereta api yang masuk ke Bogor mencapai 488.070 orang dan bus 8.881 orang.

Kedatangan pendatang baru ini, disambut baik Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Wali Kota Bogor Bima Arya menjelaskan, Kota Bogor tidak bisa menutup diri atas kehadiran pendatang.

Hanya perlu dipastikan bahwa pendatang siap untuk mencari penghidupan di Kota Bogor. Hal itu bisa dilihat dari sisi keahlian dan modal, pekerjaan yang jelas, identitas kependudukan yang jelas, serta tertib selama tinggal di Kota Bogor.

”Kota Bogor tidak anti terhadap pendatang. Silakan datang, dengan catatan mempunyai keterampilan serta mau bekerja dan tidak menjadi gelandangan,” tutur Bima, Senin (10/6/2019).

Dia menilai, perpindahan penduduk itu hak asasi. Kota Bogor terbuka untuk semua. Ia mengaku pemkot sudah punya proyeksi pertumbuhan penduduk ke depan. Karena itu, tugas pemkot kedepan, memastikan para pendatang mengikuti aturan.

"Tapi semua (pendatang) harus ikut aturan. Kalau usaha ya yang halal dan jangan langgar perda,” paparnya.
Bima juga meminta para pendatang yang sebagian besar berasal dari wilayah luar Bogor mau memberikan kontribusi terhadap pembangunan Kota Bogor.

Dia memaparkan, Kota Bogor dalam beberapa tahun ke depan mempunyai tantangan terkait penyebaran kependudukan dan hilir mudik masyarakatnya.

Jika Pemkot Bogor terbuka akan adanya pendatang, tidak dengan Kabupaten Bogor. Wilayah yang dipimpin Ade Yasin itu melarang pemudik membawa pendatang baru ke Bumi Tegar Beriman-sebutan Kabupaten Bogor. Ade khawatir pendatang baru usai arus mudik Lebaran 2019 akan menambah jumlah pengangguran di Kabupaten Bogor.

”Pesan saya, ketika pulang mudik, jangan menambah pengangguran. Artinya jangan bawa orang ke sini, sehingga menambah pengangguran,” ujar Ade Yasin.

Meski begitu, ia tak melarang siapa pun yang hendak membawa sanak saudara ke Bogor untuk sekadar tinggal sementara. Namun dengan catatan, mereka harus melapor kepada RT atau RW setempat satu kali 24 jam.

”Kalau bawa saudara untuk sekadar tinggal sementara tidak apa-apa. Menginap harus lapor ke pak RT, pak RW satu kali 24 jam, supaya kita bisa menjaga keamanan di lingkungan kita,” kata Ade. Berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor, sebanyak 248.368 warga Kabupaten Bogor menganggur. Jumlah tersebut meningkat dari tahun 2015 sebanyak 231.854 pengangguran.

Selain masalah pendatang, kemacetan jalur Puncak saat masa libur Lebaran juga menjadi perhatian serius mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor tersebut. Saat meninjau Jalur Puncak, Ade mendesak pemerintah pusat (pemerintahan Jokowi, red) melanjutkan pembangunan Jalur Puncak II.

Sebab, kata Ade, hanya Jalur Puncak II yang bisa menjadi solusi atas kemacetan di Jalur Puncak eksisting. Meski Pemkab Bogor memiliki jalur alternatif poros selatan dan timur, namun jalan yang bisa menembus ke Taman Safari Indonesia itu pun macet. ”Tidak sampai 20 persen mengurangi kemacetan di Puncak karena macet dan sempit. Satu-satunya ya Jalur Puncak II solusinya,” tegasnya.

Menurut dia, pengguna Jalur Puncak tidak melulu untuk berwisata, namun juga menjadi akses menuju Bandung selama ini, sehingga kepadatan kendaraan kerap tidak terhindarkan. Di sisi lain, jalur poros timur melalui Jonggol masih jarang digunakan.

”Sebenarnya bisa lewat sana (Jonggol). Tapi kalau ada Puncak II akses ke Bandung menjadi lebih mudah karena dari wilayah Kabupaten Bogor bisa tembus Cianjur,” katanya. (dka/gal/c)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Sungai Meluap, Kampung Kalong Dagul di Kabupaten Bogor Banjir

Megapolitan / PJU Padam, Warga Kabupaten Bogor Keluhkan Begal

Megapolitan / Lebih Banyak yang Datang, Dibandingkan Pergi

Megapolitan / Usai Lebaran, Stok Ikan di Kota Bekasi Menipis

Megapolitan / Belum Bayar Rp 1,2 Juta, Ijazah Siswa SMP Ditahan


Baca Juga !.