Hukum

Irjen Pol M Iqbal: Perusuh Adalah Massa Segmen Dua

Redaktur: Riznal Faisal
Irjen Pol M Iqbal: Perusuh Adalah Massa Segmen Dua - Hukum

MASSA BERBEDA - Kadiv Humas Polri Irjen Pol M Iqbal (tengah) didampingi Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi (kiri) memberi keterangan pers terkait kericuhan 21-22 Mei 2019 di Media Center Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

indopos.co.id - Polisi menyebut ada massa yang berbeda pada aksi 21-22 Mei 2019. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Mohammad Iqbal mengatakan, massa perusuh adalah massa segmen dua yang sangat berbeda dengan massa segmen satu yang berunjuk rasa secara damai dan tertib di sekitar Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pada Selasa malam 21 Mei 2019.

 "Kami bahkan memberikan toleransi kepada massa segmen satu ini untuk berbuka puasa bersama, dan setelah pukul 21.30, baru mereka membubarkan diri," tutur Iqbal saat konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (11/6).

Diaa mengatakan, setelah pukul 21.30 WIB, massa segmen dua berdatangan sekitar 500 orang dan berkumpul di depan dan di samping Bawaslu dengan menyerang petugas. Polisi pun mendesak mereka untuk mundur, membubarkan diri, hingga ke Tanah Abang tetapi mereka melakukan perlawanan, sedangkan di lokasi lain berdatangan juga massa perusuh lain.

Selain itu, senjata-senjata yang ditemukan itu mulai dari senjata tajam jenis klewang hingga panah beracun, molotov dan petasan roket yang dijadikan alat untuk menyerang petugas.

“Bukan hanya benda kecil, tapi juga pakai benda mematikan. Seperti molotov, dan petasan roket. Itu berbahaya dan mematikan. Ada juga panah beracun. Klewang, Pedang dan lain-lain,” kata Iqbal.

Tidak hanya senjata-senjata tajam dan molotov, massa perusuh juga menggunakan batu-batu konblok yang sudah disiapkan. Batu-batu itu juga dilempar ke arah petugas.

Atas dasar itu, lanjut Iqbal, Polri menduga massa yang datang di sekitar Bawaslu pada pukul 22.30 WIB itu memang sudah direncanakan untuk membuat kerusuhan. “Masa tersebut sudah di desain untuk melakukan kerusuhan,” ujarnya.

Dia menambahkan, pada kejadian itu, massa perusuh yang mulai melakukan penyerangan lebih dulu ke arah aparat Polisi dan TNI. Para personel Polri-TNI saat itu bersifat merespon atas serangan massa perusuh.

“Jadi publik harus paham. Bahwa kejadian kerusuhan yang mengawali adalah massa perusuh karena mereka menyerang duluan. TNI-Polri hanya melaksanakan respons atas penyerangan tersebut. Kami tidak menyerang tapi menghalau. Buktinya banyak,” imbuhnya.

Iqbal menyebut, dalam kericuhan tesebut delapan personel Polri terluka dan mendapat rawat inap dan 225 personel Polri rawat jalan. "Yang menjadi korban ialah Wakapolsek Jatinegara AKP Agus Sumarno. Agus dipukul massa rusuh saat sedang patroli, akibatnya ia harus menjalani operasi lantaran rahangnya patah," kata Iqbal.

Selain itu, Iqbal menyebut kekerasan serupa juga menimpa AKP Ibrahim dan anggota polri lainnya saat bertugas mengamankan peserta aksi yang menolak hasil Pilpres 2019. "Itu artinya massa perusuh dan massa yang menyerah petugas sudah ada niat. Bukan hanya memprovokasi tapi untuk melukai bahkan mungkin menghilangkan nyawa petugas," tandasnya.

Selain menyerang petugas, diketahui massa rusuh juga melakukan pengerusakan terhadap kendaraan mobil Polri. Seperti peristiwa pembakaran kendaraan roda empat di depan asrama Polri di Petamburan.

"Ini kita juga akan melakukan investigasi ada perencanaan matang dari master mind untuk kerusuhan di beberapa titik. Dua bus Brimob dirusak dibakar, dua bus Brimob dia rusak," tambah Iqbal. (yah)

Baca Juga


Berita Terkait

Nasional / Jumlah Kanal Penyebar Hoaks Terus Berkurang

Nasional / Divisi Humas Polri: TKP Jadi Titik Awal Penyelidikan

Politik / TKN Apresiasi Prabowo Cegah Massa Pendukung ke MK

Politik / Mantan Komandan Tim Mawar Bantah Terlibat Kerusuhan 22 Mei

Politik / Fadli Zon Dukung Pembentukan Pansus Kerusuhan Mei


Baca Juga !.