Megapolitan

Lumpur di Waduk Pluit Dikeruk

Redaktur:
Lumpur di Waduk Pluit Dikeruk - Megapolitan

SISA LUMPUR - Dua unit eskavator mengeruk sedimen yang membuat permukaan Waduk Pluit menjadi dangkal, Selasa (11/6/2019). Target pengerukan dilakukan hingga Oktober mendatang. Foto: Ismail Pohan/INDOPOS

indopos.co.id – Banjir menjadi momok di ibu kota. Persoalannya, sejumlah penampungan air mengalami pendangkalan. Seperti di Waduk Pluit. Turunnya permukaan air Waduk Pluit menyebabkan endapan lumpur yang menyerupai pulau-pulau. Di atas pulau-pulau kecil tampak tumpukan-tumpukan sampah.

Kondisi pendangkalan waduk Pluit itu mendapat perhatian Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Lewat akun Twitter-nya @susipudjiastuti, menyebarkan kabar tersebut tentang kondisi Waduk Pluit pada Senin (10/6/2019) siang.

Nah, menanggapi hal itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pun mau tidak mau harus mengeruk lumpur di waduk yang berada di wilayah Jakarta Utara tersebut.

Apalagi, Waduk Pluit merupakan faktor penting dalam menangani persoalan banjir di ibu kota. Selain penampungan air, waduk itu juga berfungsi sebagai pengendali air. ”Kita sudah imbau semua waduk di wilayah Jakarta dilakukan pengerukan. Ini sesuai fungsi waduk untuk penampungan dan pengendali banjir,” ujar Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Yusmada Faizal kepada INDOPOS, Selasa (11/6/2019).

Penggerukan waduk, menurut Yusmada tepat dilakukan selama musim kemarau. Dan itu dilakukan hingga pada level dasar waduk. Apalagi, sedimen waduk tersebut ditemukan tinggi. ”Kita sudah mulai penggerukan di Waduk Sunter dan Pluit. Rencananya penggerukan kita lakukan di semua waduk di Jakarta,” terangnya.

Dinas SDA Provinsi DKI Jakarta juga telah mengerahkan 6 unit eskavator amfibi dan rencananya akan ditambah jumlahnya menjadi 13 unit untuk memaksimalkan pengepokan sedimen di kawasan Waduk Pluit. Adapun metode dilakukan dengan cara mengeruk secara estafet menuju pinggir waduk untuk selanjutnya diangkat maupun dibentuk menjadi tanggul.

Namun, proses pemeliharaan Waduk Pluit melalui pengepokan sempat mengalami kendala karena masa libur Lebaran dan musim kemarau. Dengan wilayah waduk yang cukup luas, alat-alat yang digunakan untuk mengangkut hasil pengerukan tidak bisa langsung dibawa ke pinggir waduk.

Upaya pengepokan Dinas SDA Provinsi DKI Jakarta di Waduk Pluit terus dilakukan agar dapat menampung air hingga berada pada ketinggian maksimal 3 meter (Top Water Level).

Selain melakukan pengerukan, Dinas SDA Provinsi DKI Jakarta telah melakukan proses pengepokan terhadap lapisan sedimen yang dilaksanakan sejak akhir April lalu. Pengerjaan ditargetkan dapat rampung dalam empat bulan ke depan.

”Kami sudah kerjakan (pengepokan) mulai akhir April. Oktober ditargetkan sudah selesai. Sedimen pun (terlihat hanya) di muaranya, dekat pompa ke arah laut,” tambah Yusmada.

Hingga akhir Oktober mendatang penggerukan bakal menyasar waduk-waduk di Jakarta, di antaranya Waduk Ria-Rio, Melati hingga Grogol. ”Kita tidak tahu cuaca. Hujan ekstrem sering tumpah di astu wilayah di Jakarta. Ini yang perlu diantisipasi,” ucapnya.

Tentu saja, langkah tersebut bisa dilakukan dengan menyiapkan fungsi pompa. Ini khususnya pada waduk yang tidak bisa menampung air dalam kapasitas tinggi. Apabila waduk masih bisa menampung, maka pompa tidak harus diperlukan. ”Kalau waduk dangkal, air datang maka pompa harus diaktifkan. Tapi kalau waduk bisa menampung, air datang pompa tidak harus dihidupkan. Baru saat hujan reda, fungsi pompa untuk mengosongkan waduk,” jelasnya.

Di sisi lain, 10 pompa air yang terdapat di Waduk Pluit terus bekerja untuk mengalirkan air waduk ke laut dan menjaga permukaan air waduk di bawah 1,9 meter dari ketinggian normal, sehingga tinggi muka air dikondisikan dalam kondisi surut sebagai upaya persiapan musim hujan.

Adapun permukaan sedimen yang terlihat saat ini adalah sedimen saat kondisi Low Water Level. Jarak tinggi muka air saat ini sampai dengan batas atas tanggul (Top Water Level) dijaga sekitar 4,9 meter, sehingga kapasitas waduk cukup besar untuk menampung tambahan air setelah hujan maupun luapan sungai dari hulu.
Waduk Pluit merupakan waduk pengendali banjir utama untuk mengatasi banjir di DKI Jakarta, seluas 80 hektar, dengan dam catchment area 2.400 hektare.

Dia menyebutkan, kebutuhan pompa di tiap waduk di Jakarta saat ini sudah cukup ideal. Tentu jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi waduk. Seperti salah satunya di waduk Pluit jumlah pompanya saat ini sebanyak 10 unit. “Yang perlu diperhatikan saat ini bagaimana teknis pengoperasiannya,” terangnya. Pompa di DKI terdapat di 150 lokasi. Dengan jumlah pompa 458 unit. Pompa stasioner tersebut, menurut Yusmada ada di waduk dan pintu air. (nas/ant)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / MRT Jakarta Belum Optimal, Integrasi Moda Transportasi Minim

Megapolitan / Makam Pangeran Jayakarta Segera Direstorasi

Megapolitan / Polemik IMB Pulau Reklamasi, Anies Tak Jauh Beda dari Rezim Dulu

Megapolitan / Siapapun Gubernurnya, Pembangunan Pulau Reklamasi Jalan Terus

Megapolitan / Saat Mudik, 411 Pengemudi Dinyatakan Tidak Laik Berkendara

Megapolitan / Berlindung di Balik Pergub yang Dibuat Ahok


Baca Juga !.