Internasional

Tolak RUU Ekstradisi, Puluhan Ribu Warga Hong Kong Kembali Turun ke Jalan

Redaktur: Ali Rahman
Tolak RUU Ekstradisi, Puluhan Ribu Warga Hong Kong Kembali Turun ke Jalan - Internasional

Pengunjuk rasa yang menentang RUU ekstradisi di Hong Kong, Rabu (12/6/2019).

indopos.co.id - Puluhan ribu pengunjuk rasa kembali mengepung gedung dewan legislatif dan membanjiri pusat kota, Rabu (12/6/2019). Para pengunjuk rasa mengenakan penutup wajah yang dibagikan oleh penyelenggara untuk melindungi dari semprotan merica saat berhadapan dengan polisi anti huru hara yang memperingatkan bahwa mereka siap menggunakan kekerasan pada massa untuk menjaga stabilitas.

Chan, seorang teknisi lab berusia 55 tahun yang ikut dalam unjuk rasa hari ini mengarakan bahwa ia berunjuk rasa untuk Hong Kong dan untuk generasi berikutnya.

“Kami tidak dapat mempercayai Tiongkok. Aturan dan hukum dapat diterapkan secara sewenang-wenang di sini. Dan kita sudah dapat melihat ini sekarang,” katanya seperti dilansir the Guardian.

Ia mengutip diskualifikasi terbaru dari anggota parlemen pro demokrasi dan memenjarakan para pemimpin gerakan Occupy Central 2014.

Chan mengatakan jika undang-undang itu disahkan, ia akan mengubah tabungannya menjadi dolar Amerika Serikat dan berusaha pindah ke luar negeri.

Politisi Hong Kong untuk sementara waktu meninggalkan debat mengenai RUU ekstradisi China yang kontroversial

Debat putaran kedua terkait RUU ekstradisi Tiongkok untuk sementara ditunda. Usulan undang-undang itu awalnya dijadwalkan diadakan pada Rabu (12/6/2019) di dewan legislatif yang beranggotakan 70 orang. Ketua badan legislatif, Andrew Leung, berencana untuk membatasi debat mengenai RUU ekstradisi hingga 61 jam. Itu berarti RUU tersebut dapat dipiliuh pada 20 juni.

Anggota parlemen mengatakan mereka diberitahu bahwa sesi tersebut telah dibatalkan 15 sebelum debat dimulai akibat pengunjuk rasa mengerumuni jalan-jalan dan daerah di sekitar kompleks legislatif dan menyebabkan lalu lintas terhenti.

Menurut The Guardian, Leung mengatakan debat akan diadakan pada waktu yang akan ia tentukan. Tetapi di luar, penyelenggara protes memperingatkan orang-orang untuk melanjutkan aksi protes. “Jangan terlalu cepat bahagia. Andrew Leung, si pengkhianat, dapat melanjutkan debat kapan saja! Mari kita bertahan!” kata seorang penyelenggara melalui pengeras suara.

Demonstrasi tersebut dimulai pada Selasa (11/6/2019) malam setelah petisi online menyerukan 50 ribu orang untuk berkumpul mulai pukul 22.00 pada hari Selasa. Para pengunjuk rasa berencana untuk menggelar demonstrasi di luar dewan legislatif di distrik Admiralty. Tetapi pihak berwenang menutup area protes dan Taman Tamar yang berada di luar dewan legislatif, karena berisiko dapat diserbu oleh para pemrotes.

Pengunjuk rasa malah memenuhi jalan-jalan sekitarnya, dan banyak yang mendirikan kemah. Lebih dari 100 bisnis tutup pada hari Rabu, dan ribuan orang tua dan guru menyerukan untuk memboikot pekerjaan dan kelas untuk menunjukkan perlawanan mereka terhadap RUU yang akan memungkinkan Cina daratan untuk mengejar buronan di bekas jajahan Inggris itu.

Pengunjuk rasa Grace Chan (30), yang memiliki anak berusia dua tahun mengatakan bahwa ia tidak ingin anaknya tumbuh di tempat di mana mereka tidak memiliki rasa aman. “Meskipun mereka mengatakan undang-undang itu untuk mengejar buron, ia bisa dengan mudah digunakan untuk tujuan politik,” ujar Chan.

Para pengunjuk rasa telah menyatakan keprihatinan bahwa hak-hak sipil dan kebebasan yang dijamin ke Hong Kong di bawah pengaturan satu negara, dua sistem akan dengan cepat terkikis di bawah undang-undang baru karena Tiongkok sering menggunakan kejahatan non-politik untuk menuntut para pengkritiknya.

Kendati ada banyak tentangan, termasuk aksi protes pada Minggu (9/6/2019) yang menarik ratusan ribu orang, kepala eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengatakan dia tetap bertekad untuk mengesahkan undang-undang tersebut.

“Untuk menentang RUU ini, beberapa telah menyerukan tindakan radikal,” kata Lam. Ia merujuk pada bentrokan antara demonstran dan polisi di luar legislatif tak lama setelah tengah malam pada Senin (10/9/2019), setelah aksi protes yang berjalan selama sembilan jam.

Media resmi Tiongkok tidak melaporkan protes pada hari Rabu dan menyebutkan bahwa protes tersebut dihapus dari platform media sosial Tiongkok. Cuplikan layar dari laporan berita asing tentang protes telah dihapus dari forum diskusi Douban. Dan istilah pencarian ‘Ayo, Hong Kong’ atau ‘Xianggang jiayou’ diblokir di microblog, Weibo.

Badan legislatif didominasi oleh politisi pro Beijing, sehingga hampir pasti RUU itu akan disahkan. Para pendukung RUU itu menekankan bahwa itu hanya akan berlaku bagi mereka yang terlibat dalam kejahatan berat, sementara Beijing telah mengklaim bahwa para pemimpin oposisi dan pasukan asing telah menyesatkan publik. (fay)

 

 

Baca Juga


Berita Terkait

Internasional / Dewan Legislatif Hong Kong Kecam Aksi Protes RUU Ekstradisi


Baca Juga !.