Megapolitan

Teguh Sri Suseno Biasa Dipanggil Mbah Rejo, Si Pawang Hujan

Redaktur:
Teguh Sri Suseno Biasa Dipanggil Mbah Rejo, Si Pawang Hujan - Megapolitan

PERCAYA DIRI - Teguh Sri Suseno alias Mbah Rebo saat bertugas menjaga cuaca tetap cerah di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (12/6/2019). Foto: Nasuha/INDOPOS

Setiap orang ingin hajatan atau proyek besar yang tengah dikerjakan berjalan sukses. Terkadang, di saat hajatan, hujan menjadi penghalang kesuksesan acara dilangsungkan. Nah, di saat inilah kemampuan pawang hujan dibutuhkan. Salah satu pawang yang paling sering digunakan kemampuannya oleh masyarakat adalah Mbah Rebo.

NASUHA, Jakarta

NAMA aslinya Teguh Sri Suseno. Tapi pria yang telah berusia lebih dari setengah abad ini lebih dikenal sebagai Mbah Rebo. Sang pawang hujan, yang mampu mencegah turunnya air dari langit.

Ditemui INDOPOS di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Mbah Rebo sedang asyik jalan kaki. Lengkap dengan sebatang rokok di tangannya, ia mondar mandir di seputaran gedung pengelola TMII.

Rupanya, pria yang sudah menekuni profesi sebagai pawang hujan sejak 2006 lalu ini tengah menjalankan tugas. Sebagai pusat pelestarian budaya, TMII kerap sekali dijadikan tempat untuk pernikahan. ”Alhamdulillah, ini lagi ada tugas, untuk pawang di TMII. Ada yang punya hajat perkawinan,” ujar Mbah Rebo kepada INDOPOS, Rabu (12/6/2019).

Jasanya sangat dicari, di saat musim penghujan seperti sekarang. Kendati secara ilmiah tidak bisa dibuktikan, masyarakat masih meyakini pawang hujan mampu mengalihkan atau memindahkan awan hitam yang pembawa hujan. Terbukti kemampuan pawang Mbah Rebo cukup diakui hingga ke Puncak Jaya, Papua. ”Ya pernah sih terima permintaan pawang di Puncak Jaya. Waktu itu untuk proyek pengerjaan jalan selama 20 hari,” katanya.

Dia mengungkapkan, menjadi ahli pawang hujan tidak harus datang ke lokasi pelanggan. Dia kerap mengerjakan secara jarak jauh. Tidak saja permintaan di Papua, sejumlah pelanggan dari luar Jakarta pun kerap memanfaatkan keahliannya untuk mencegah datangnya hujan. “Kalau Pulau Jawa sih pelanggan saya banyak. Ada dari Sukabumi. Batam dan daerah lainnya juga ada,” bebernya.

Banyak pengalaman saat menjadi pawang yang diutarakan oleh Mbah Rebo. Tidak sedikit tugasnya mengalami kegagalan, lantaran dia melanggar pantangan.

Seperti belaum lama ini saat dia pawang di Sukabumi, Jawa Barat. “Baru saja kemarin 1 Mei, saya pawang di Sukabumi. Saya lupa melanggar pantangan. Saya tidak boleh minum air es atau mandi air es. Pasti langsung hujan. Benar saja. Karena saya kepanasan setibanya di Sukabumi saya mandi. Air di sana kayak air es, baru selesai mandi hujan lagsung turun. Alhamdulillah acara baru malam harinya,” ungkapnya.

Jasa ahli pawang hujan tidak sebanding dengan hajat yang berjalan mulus. Tarif pria kelahiran Pacitan, 16 April 1966 ini tidak sampai merobek kantong pelanggannya. Karena Mbah Rebo tidak mematok harga. Tapi terkadang, dia mendapat uang sekitar Rp 2-2,5 juta dari yang meminta bantuannya. ”Tapi tergantung yang meminta tolong,” singkat Mbah Rebo.

Mbah Rebo menuturkan, kemampuan yang dimilikinya adalah buah dari keikhlasannya dalam menjalani ibadah dan niatnya yang tulus untuk menolong sesama bagi yang membutuhkan pertolongan.

Kemampuannya yang bisa mengalihkan hujan berawal dari permintaan tetangganya yang bernama Pawal. Berawal dari situ, kemampuannya tersebar dari mulut ke mulut.

Pada awalnya putera kedua dari lima bersaudara pasangan Lahuri, 70, dan Samun, 65, ini tidak memercayai kemampuan yang dia miliki. Namun dengan ikhlas, akhirnya ia mampu mensyukuri kemampuan yang dimiliki untuk membantu sesama. ”Kemampuan ini saya peroleh berkat puasa dan meditasi yang sering saya lakukan,” aku Mbah Rebo.

Pria yang dikaruniai satu orang anak dari perkawinannya dengan Eli Wahyuni, 42, ini bercerita, saat kali pertama pengalaman menjaga hajatan, awan mendung menyelimuti langit di Bambu Apus.

Kepanikannya pun muncul. Kemudian ia pun melakukan meditasi. Di tengah ritualnya tersebut dia mengaku mendapat petunjuk untuk melafalkan ’Asmaul Husna’ sebanyak seribu kali.

Benar saja, usai dia melafalkan doa tersebut langit di atas pun cerah tanpa awan. Ia pun tak berhenti-henti mengucapkan rasa syukur. Padahal dia sudah berpesan kepada istrinya untuk mengembalikan uang pemberian Pawal melalui kotak hajatan apabila pada hari pelaksanaan pernikahan turun hujan. ”Alhamdulillah langit cerah dan tidak turun hujan. Jadi pemberian Pak Pawal sebagian saya masukkan ke dalam kotak hajatan,” ungkapnya.

Karena kemampuannya, pria yang sehari-hari bertugas menjadi petugas keamanan di Taman Burung, TMII ini kerap kebanjiran orderan. Tidak tanggung-tanggung, dalam satu hari, dia bisa mendapat pesanan menjaga cuaca tetap cerah di delapan lokasi pada dua provinsi yang berbeda.

Delapan acara tersebut tersebar di wilayah Bekasi, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Agar usahanya sukses, menurut dia maka persiapan untuk doa dilakukan dari satu hari sebelum pelaksanaan acara. ”Semua karena Allah dan saya niatkan untuk ibadah. Jadi saya tidak pernah pasang tarif,” ungkapnya.

Lulusan Sekolah Teknik Menengah Negeri (STMN) 1 Madiun ini mengatakan, siap ’go international’ dari profesinya saat ini. Kendati ia belum pernah ke luar negeri atau mendapatkan tawaran untuk pawang di luar negeri. ”Saya siap untuk pawang ke luar negeri, itu pun kalau ada permintaan. Kapan saja siap,” tandas dia menceritakan keinginan yang belum terpenuhi. (*)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / ASLI Mengatur Jasa Laundry Kiloan di Jakarta yang Menggiurkan

Headline / Cerita Duka Rombongan Maut di Tol Cipali

Megapolitan / Pangkalan Ojol Pun Jadi Tempat Mengais Rezeki Pedagang Lainnya

Megapolitan / Miringnya Menara Syahbandar Malah Membuat Masyarakat Penasaran


Baca Juga !.