Megapolitan

Pengamat: Jika Mau Berinovasi, Sampah dapat Diolah Menjadi Hal yang Berguna.

Redaktur:
Pengamat: Jika Mau Berinovasi, Sampah dapat Diolah Menjadi Hal yang Berguna. - Megapolitan

CARI SOLUSI - Diskusi mengenai sampah di Jakarta dan sosialisasi program ’Less Waste Initiative’ di JSC Hive, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (13/6/2019). Foto: Woko/INDOPOS

indopos.co.id - Sampah menjadi momok di ibu kota. Dari 10 juta warga Jakarta, dalam sehari rata-rata memproduksi 7.500 ton sampah. Jika diibaratkan, volume sampah itu setara dengan ukuran Candi Borobudur.

Banyaknya produksi sampah di Jakarta tentu kian mengkhawatirkan. Mengingat kapasistas Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang hanya tersisa 10 juta ton. Diprediksi umur dari tempat pembuangan sampah milik Pemprov DKI yang berada di Kota Bekasi, Jawa Barat itu hanya tersisa 3 tahun lagi.

Pengamat perkotaan Agus Chaerudin dengan tegas mengatakan penanganan sampah di Jakarta belum memuaskan. Padahal, jika mau berinovasi, sampah tersebut ucapnya dapat diolah menjadi hal yang berguna.

”Jakarta belum mampu mengolah sampah menjadi listrik, maupun hal bermanfaat lainnya," ujar Agus Chaerudin saat berdiskusi tentang sampah di Jakarta Less Waste Initiative di JSC Hive, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (13/6/2019).

Agus mengkritik, rencana pembangunan tempat pengolahan sampah yang rencanannya dibangun di Sunter, Jakarta Utara hingga kini tak kunjung terealisasi. Padahal rencana itu sudah bertahun-tahun lamannya, namun belum ada hasilnya.

Menanggapi hal itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Andono Warih mengakui, buruknya penanganan sampah di ibu kota. Ia pun tak memungkiri volume sampah yang diproduksi seperti ukuran Candi Borobudur. ”Ya satu Borobudur kira-kira, sehari. Jadi ini luar biasa. Jadi, teman-teman kita semua menghadapi situasi seperti itu,” akunya. Ribuan ton sampah tersebut dibawa TPST Bantar Gebang.

Menurut Andono, 7.500 ton sampah tersebut mayoritas berasal dari sampah permukiman atau rumah tangga. ”Data kami riset yang sudah dilakukan 60 persen dari permukiman, kemudian 29 persen dari kawasan komersial seperti hotel dan sebagainya. 11 persen berasal dari fasilitas umum,” jelas dia.

Dirinya menilai banyaknya sampah dari permukiman warga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya, perilaku masyarakat yang konsumtif. Terlebih masyarakat difalilitas kemajuan teknologi untuk membeli sesuatu.

”Contoh kalau kita mau makan, kita bisa beli atau pesan lewat gadget kita. Pola tersebut yang selalu terjadi di masyarakat,” keluh Andono.

Maka dari itu, dia mengajak masyarakat untuk tidak membudayakan memakai bahan plastik yang bersifat sekali pakai. Tidak hanya mengajak masyarakat, pihak juga melibatkan para pelaku usaha untuk mengurangi sampah.

Pemprov mengajak para pelaku usaha beradu ide dan inisiatif untuk mengurangi sampah di DKI dalam ajang Jakarta Less Waste Initiative. ”Jadi ada program ini kita akan berkompetisi inisiatif seperti para stakeholder dalam hal ini bangunan dan restoran itu akan mengambil peran dalam pengurangan sampah,” ujar dia.

Imbauan itu terangnya tidak sekadar ajakan. Tapi juga sekaligus gerakan untuk budaya hidup lebih sehat. Pemprov Kaltim terangnya, siap memberikan penghargaan kepada pihak yang mau ikut dalam gerakan pengurangan sampah. ”Jadi nanti ada penghargaan rekor kompetisi dari Pak Gubernur. Itu nomor satu, yang kedua nanti ada signage (tanda) untuk para champion (pemenang) ini di lokasi (gedung atau restoran) mereka,” ucap Andono. Piagam ramah lingkungan tersebut diyakini Andono dapat meningkatkan daya tarik konsumen sehingga dapat meningkatkan keuntungan.

Dia berharap program tersebut bisa melibatkan banyak pelaku usaha di dapat mengurangi jumlah sampah ibu kota.

Peraturan Belum Terbit

Sayangnya, dari usaha mengurangi sampah di masyarakat, belum diikuti dengan dibuatnya aturan main. Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta menyatakan peraturan gubernur (Pergub) tentang pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai saat ini tengah menunggu disahkan oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

”Pergub tentang penggunaan kantung plastik sekali pakai, menunggu disahkan oleh gubernur,” kata Kepala Seksi Pengelolaan Sampah, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Rahmawati.

Lebih lanjut Ia mengatakan, salah satu poin dalam draft aturan itu menyatakan bahwa setiap unit usaha seperti restoran, gedung perkantoran, dan ritel modern akan mendapatkan insentif berupa keringanan pajak jika tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai.

Meski begitu, rencana itu diakuinya masih dalam pembahasan lebih lanjut dengan Badan Retribusi dan Pajak Daerah (BPRD) serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Rahmawati mengatakan, adanya Pergub itu merupakan salah satu bentuk dukungan untuk menangani permasalahan sampah yang ada di ibu kota. (wok)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Memperkenalkan Sejarah Jakarta Melalui Hologram

Megapolitan / DPRD Enggan Mengesahkan Raperda Zonasi Pesisir

Megapolitan / YLBHI Nilai Penerbitan IMB Pulau D Tak Perhatikan Banyak Aspek

Megapolitan / Rusunawa Pasar Rumput Sedikit Lagi Rampung

Megapolitan / Pemprov Data Ulang Cagar Budaya di Jakarta


Baca Juga !.