Megapolitan

Miringnya Menara Syahbandar Malah Membuat Masyarakat Penasaran

Redaktur:
Miringnya Menara Syahbandar Malah Membuat Masyarakat Penasaran - Megapolitan

MENGKHAWATIRKAN - Menara Syahbandar yang berada di kawasan Museum Bahari bangunannya kini semakin miring. Foto: Nasuha/INDOPOS

Benda bersejarah menjadi pengingat kebesaran Indonesia pada zaman dulu. Banyak upaya dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk menjaga dan merawat benda-benda bersejarah. Salah satunya Menara Syahbandar yang berada di Museum Bahari, Jakarta Utara. Menara yang sudah berumur satu abad itu sekarang sudah tidak tegak lurus lagi. Bangunan setinggi 18 lantai itu kini mengalami kemiringan hingga enam derajat.

NASUHA, Jakarta

TERIK matahari menyengat di kulit. Seperti pantai-pantai lainnya, pantai di Jakarta Utara terasa kering. Udara pun kian panas karena angin pantai belum berembus.

Waktu masih menunjukkan pukul 10.30 WIB, tapi tampak pengunjung Museum Bahari di Jakarta Utara antusias. Antrean sudah terlihat di pintu masuk.

Di masa libur sekolah seperti sekarang ini, banyak yang mengunjungi Museum Bahari adalah para pelajar yang ditemani keluarga. Karena selain berlibur di sana juga bisa mendapat edukasi tentang sejarah.

Banyak koleksi yang dimiliki museum Bahari, Jakarta Utara. Tidak sedikit para pengunjung menghabis waktu bukan di museum Bahari saja. Mereka juga singgah di Menara Syahbandar. ”Ayo kita naik. Untuk melihat ke lepas pantai,” ajak seorang pelajar kepada rekan satu sekolahnya.

Untuk masuk di Menara Syahbandar, pengunjung cukup merogoh kantong Rp 5 ribu saja. Menara Syahbandar cukup unik dan menarik untuk dikunjungi di kawasan Museum Bahari. Namun harus bersabar untuk merasakan sensasi melihat kapal-kapal yang tengah berlayar di laut lepas yang berada di Teluk Jakarta dari menara ini.

Antrean pengunjung untuk naik ke Menara Syahbandar pun lebih panjang ketimbang di pintu masuk Museum Bahari. ”Hai antre dong, kita sudah duluan dari tadi,” teriak pengunjung kepada pengunjung yang tidak sabar maju ke depan antrean.

Menara ini dahulu digunakan untuk ruang kontrol kapal-kapal yang masuk di Pelabuhan Sunda Kelapa. Menara ini berada di dalam kawasan benteng museum Bahari. Saat zaman kolonial Belanda, benteng ini dijadikan gudang rempah-rempah oleh VOC.

Letaknya tepat di sisi bagian utara pintu masuk museum Bahari. Namun untuk menjangkaunya pengunjung harus keluar dari Museum Bahari.

Sehingga tiket masuk museum Bahari tidak berlaku untuk masuk di Menara Syahbandar. ”Jadi pengunjung yang selesai melihat-lihat koleksi Museum Bahari, harus beli tiket lagi untuk masuk ke menara Syahbandar,” ujar Kasatpel Museum Bahari Ahmad Surya kepada INDOPOS, Kamis (13/6/2019).

Menurut pria yang sudah bertugas satu tahun di Museum Bahari tersebut, menara Syahbandar berada di titik nol Jakarta. Menara ini dibangun pada 1839 lalu. Tidak sedikit para pengunjung wisatawan mancanegara ingin mengenang kejayaan dan merasakan sensasi melihat laut lepas pantai. ”Paling banyak yang naik para wisman dari Belanda. Ya mereka ingin mengenang sejarah leluhurnya di menara ini,” kata Ahmad.

Seiring berjalannya waktu, Menara Syahbandar kini dimakan usia. Bangunan menara Syahbandar saat ini, menurut Ahmad mengalami kemiringan. Kemiringannya setiap waktu terus bertambah. ”Ini disebabkan karena kontruksi bawah menara berasal dari kayu dan dindingnya berupa beton,” bebernya.

Lebih jauh menurut pria yang mengaku lulusan fakultas ekonomi ini penyebab miringnya menara Syahbandar disebabkan oleh getaran-getaran yang muncul dari lalu lintas truk kontainer di Jalan Pasar Ikan. ”Menara Syahbandar ini dulunya tidak miring, karena lalu lalang truk besar menara ini jadi miring. Kan menara ini persis di pinggir Jalan Pasar Ikan,” terangnya.

Saat ini, dikatakan Ahmad kemiringan menara Syahbandar mencapai enam derajat ke arah Selatan. Padahal tahun 1980 lalu kemiringan menara ini hanya dua derajat saja. ”Makanya Menara Syahbandar kerap disebut menara goyang. Untuk memastikan tingkat kemiringannya kita akan undang ahli kontruksi,” ucapnya menjelaskan menara yang memiliki 18 lantai.

Untuk menjaga kontruksi menara agar tidak terus miring, masih ujar Ahmad para pengunjung yang ingin naik di menara jumlahnya dibatasi. Setiap pengunjung yang naik ke atas menara paling banyak 20 orang. Dan untuk perawatan rutin pun dilakukan. Dengan melakukan pengecatan dan perawatan ringan lainnya.

Ahmad menuturkan, pihaknya sudah mengajukan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk melakukan rekontruksi ulang atau renovasi berat bangunan. Tentu langkah tersebut memerlukan anggaran besar dan kajian mendalam. “Kita sudah usulkan ceruk bangunan diperbaiki dengan menggantinya,” ucapnya.

Meskipun kondisi Menara Syahbandar terus miring, diungkapkan Ahmad menara tersebut masih menjadi magnet bagi para pengunjung di masa liburan. Sedikitnya ada peningkatan hingga 400 persen. Dari jumlah pengunjung setiap hari hanya 27 orang, pada masa libur sekolah mencapai 200 orang setiap hari. ”Kita tetap ingin menjaga menara Syahbandar. Makanya kita usulkan untuk ahli kontruksi untuk pengukuran kemiringan menara. Sehingga kita bisa antisipasi agar menara ini tidak semakin miring,” pungkasnya. (*)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Melihat Keunikan Ikan Arwana Kembar Siam

Megapolitan / Mengungkap Proses Pembuatan Kerak Telor Raksasa

Megapolitan / Menguak Misteri Relief Bersejarah di Eks Bandara Kemayoran (2)

Megapolitan / Menguak Misteri Relief Bersejarah di Eks Bandara Kemayoran (1)

Megapolitan / Asyiknya Bermain dan Belajar di RPTRA Gondangdia (2-Habis)

Megapolitan / Asyiknya Bermain dan Belajar di RPTRA Gondangdia (1)


Baca Juga !.