Tak Ada BUMDes, Pengrajin di Kabupaten Bogor Terancam Gulung Tikar

indopos.co.id – Kecamatan Citeurep tidak saja dikenal sebagai pusat perajin dandang (alat menanak nasi tradisional) dan loyang. Wilayah itu juga melahirkan para pelaku industri alat kesehatan (alkes) terbanyak di wilayah sisi Timur Kabupaten Bogor.

Sayangnya, hasil tangan para pengusaha kecil itu tidak didukung dengan sarana pemasaran yang memadai, sehingga membuat para pelaku usaha sulit menjualnya.

Baca Juga :

Pulihkan Ekonomi, UMKM Jogja Adaptasi Teknologi

Acep Sulaiman, 43, salah satuya. Warga RT 02/03, Desa Gunungsari, Kecamatan Citeureup itu sudah empat tahun menjadi perajin alkes.

Dia mengeluhkan, para pengerajin alkes di Kecamatan Citeureup, khususnya di Desa Gunungsari ini masih kesulitan memasarkan hasil industri mereka.

Sampai kini, dia dan ke-30 pelaku industri rumahan lainnya masik melakukan penjualan dengan dari pintu ke pintu.

”Kendala kami di pemasaran. Belum ada wadah bagi pengrajin. Kami masih kesulitan menjual produk,” keluh dia, kemarin. Dia beraharap, aparatur Desa Gunungsari bisa membantu dia dan teman-temannya untuk memecahkan masalah ini. Dia khawatir, jika didiamkan lebih lama dapat mengakibatkan bisnis industri rumahan gulung tikar karena susah dalam menjual produknya. ”Saya harap desa membuat wadah semacam BUMDes (Badan Usaha Milik Desa),” paparnya.

Baca Juga :

Sementara itu, Kades Gunungsari Hendra Fermana tak menutup mata dengan persoalan yang dialami Acep dan kawan-kawannya. Dia mengakui, kesulitan pemasaran menjadi salah satu kendala yang dihadapi para pengrajin di wilayahnya.

Untuk itu, dalam waktu dekat dirnya akan membuat wadah bagi para perajin. Salah satunya dengan membuat BUMDes. ”Ini potensi bagi Desa Gunungsari. Kita akan merangkul semua para pengerajin dan membangun BUMDes agar tidak kesulitan dalam pemasaradan dan penjualan,” tukasnya. (all/c)

 

 

Komentar telah ditutup.