Megapolitan

Sepanjang 2019, 610 Warga Kota Bekasi jadi Korban Nyamuk Aedes Aegypti

Redaktur: Syaripudin
Sepanjang 2019, 610 Warga Kota Bekasi jadi Korban Nyamuk Aedes Aegypti - Megapolitan

Foto: Net

indopos.co.id - Meski musim penghujan belum terjadi, tapi wabah Demam Berdarah Deangue (DBD) terus menyerang warga Kota Bekasi. Setiap bulan jumlah warga yang terserang penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti itu mencapai puluhan hingga ratusan orang.

Sepanjang 2019 ini, penderita penyakit musiman itu mencapai 610 kasus. Penyebabnya, karena lingkungan yang kotor.

”Jumlah 610 kasus itu terjadi sejak awal 2019. Untuk bulan Mei 2019 lalu, angka penderita DBD memang besar mencapai 130 kasus. Tapi jumlah penderita bisa dikatakan menurun ketimbang bulan sebelumnya,” terang Dezi Syukrawati, kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Minggu (16/6/2019).

Dezi mengungkapkan, untuk periode Januari jumlah penderita DBD mencapai 75 kasus, kemudian Februari terjadi 53 kasus, Maret jumlahnya melonjak mencapai 200 kasus. Kemudian turun pada April menjadi 152 kasus dan kembali jumlah penderita turun menjadi 130 kasus. Sedangkan untuk Juni ini data penderita masih dikumpulkan.

Adapun data-data para penderita DBD itu didapatkan dari laporan puskemas, klinik kesehatan, rumah sakit pemerintah hingga rumah sakit swasta. Dezi juga menambahkan, pihaknya sudah meminta kepada rumah sakit swasta intens melakukan koordinasi terkait pasien terindikasi atau positif DBD.

”Kita sudah komunikasi ke semua rumah sakit, terutama swasta agar kasus DBD langsung dilaporkan dalam waktu 1x24 jam. Jadi kita bisa melakukan pencegahan, pemetaan wilayah agar bisa melakukan penanganan di lapangan atau pemukiman warga lebih cepat guna meminimalisir korban,” ujarnya juga.

Bukan itu saja, Dezi berharap, masyarakat bisa menjaga kebersihan lingkungan rumahnya masing-masing. Termasuk kepada tiap ketua RT, RW dan lurah, agar melakukan kegiatan kerja bakti pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

”Kita sudah berikan surat edaran kepada kelurahan dan kecamatan agar rutin melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan atau PSN. Termasuk peran aktif para kader jumantik,” paparnya juga. Bahkan, kata dia lagi, sejumlah kader jumantik yang ada di tiap-tiap kelurahan terus melakukan identifikasi dan pembersihan sarang nyamuk.

Tindakan itu sesuai instruksi Wali Kota Bekasi No 440/289/Dinkes/2017 tentang Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Seperi diketahui, penderita DBD di Kota Bekasi tiap bulan jumlahnya fluktuatif. Sepanjang 2017, penderita DBD mencapai 699 kasus. Dan tahun 2018 berkurang sedikit dengan jumlah 629 kasus. Dalam penyakit DBD ada empat jenis penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk aedes aegypti yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3 serta DEN-4.

Sementara itu, Sekretaris RW 13 Perumahan Pondok Mitra Lestari, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, mengatakan penderita DBD di wilayahnya sangat besar. Buktinya, sudah ada 16 orang warganya terjangkit penyakit mematikan itu dalam kurun waktu satu bulan. ”Sudah banyak warga kami yang kenaDBD,” katanya.

Andi menambahkan, pasca warganya terserang DBD pihaknya langsung meminta pemerintah daerah melakukan fogging. Pengasapan itu dilakukan guna memberantas sarang nyamuk DBD. ”Kami minta fogging agar tidak ada lagi warga jadi korban DBD,” tandasnya. (dny)

Baca Juga


Berita Terkait

Kesra / Para Ahli Panggil Negara-Negara di Asia untuk Perangi DBD

Megapolitan / Dinkes Kota Bekasi Sebut Fogging Malah Bikin Nyamuk Kebal

Megapolitan / Lima Bulan, Penderita HIV di Kota Bekasi Bertambah 109 Orang

Headline / Pasien DBD di Lebak Tewas

Megapolitan / Empat Penyakit Ancam Pemudik, ISPA Jadi Musuh Utama


Baca Juga !.