Megapolitan

Dampak Urbanisasi, 348 Pendatang Jadi PMKS di Kota Bekasi

Redaktur: Syaripudin
Dampak Urbanisasi, 348 Pendatang Jadi PMKS di Kota Bekasi - Megapolitan

Foto: Net

indopos.co.id - Dampak urbanisasi yang terjadi di Kota Bekasi berefek menyedihkan. Sepanjang 2018 lalu, jumlah pendatang yang kalah bersaing dan akhirnya jadi gelandangan dan pengemis jumlahnya mencapai 348 orang.

”Data 348 orang itu adalah pendatang yang datang ke Kota Bekasi usai Lebaran tahun lalu. Mereka kalah bersaing saat mengadu nasib di Kota Bekasi dan akhirnya jadi gelandangan,” terang Sekretaris Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bekasi, Agus Harfa, Senin (17/6/2019).

Agus menambahkan, 348 pendatang itu masuk katagori penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). ”Untuk jumlah PMKS tahun ini kita belum melakukan pendataan kembali. Jadi jumlahnya belum ada,” katanya juga.

Saat ini pemerintah daerah, kata dia juga, belum bisa mengembalikan seluruh PMKS yang jadi gelandangan usai Lebaran 2018 lalu ke daerah asalnya masing-masing. Sebab, para gelandangan itu tinggal di Kota Bekasi sudah memiliki KTP. ”Sulit juga memulangkannya. Karena identitas kependudukanya sudah jadi warga Kota Bekasi," paparnya juga.

Agus juga mengakui, alasan banyak PMKS betah menggelandang di Kota Bekasi karena daerah tersebut menyediakan rumah singgah. ”Para PMKS yang tertangkap di jalan langsung didata dan dikembali ke daerah asalnya. Nah, kalau PMKS warga Kota Bekasi cukup sulit pemulangannya," jelasnya.

Agus merinci, dari 348 orang yang masuk PMKS, terdiri dari 129 pengemis, pengamem sebanyak 107 orang, pemulung 1 orang, Wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) 15 orang. Kemudian, anak jalanan 44 orang, gelandangan 2 orang, anak punk 42 orang, dan pengemis disabilitas 2 orang.

Hampir seluruh PMKS itu, kata Agus, datang ke Kota Bekasi awalnya ingin mencari pekerjaan. Sayangnya, tekad yang sudah dibawa dari kampung halamannya itu tak membuahkan hasil. Mereka kalah bersaing dengan warga lainnya. "Mau tidak mau mereka mencari jalan lain untuk bisa hidup," cetusnya.

Langkah yang dilakukan pemerintah daerah, kata Agus juga, terus melakukan pembinaan. Jadi ketika para PMKS itu terjaring operasi maka diberikan pembinaan. Kemudian mereka yang tinggal di panti sosial maka diberikan pengetahuan kerajinan untuk bekal mereka kembali ke masyarakat.

”Para PMKS itu tidak masuk katagori warga yang masuk ke program Keluarga Harapan dari pemerintah pusat. Karena mereka bukan warga asli Kota Bekasi," kata Agus lagi.

Sementara itu, Kasi Rehabilitasi Tuna Sosial Dinsos Kota Bekasi Edi Riyanto mengatakan, penertiban bagi PMKS akan terus dilakukan. Sayangnya, kata dia, meski sudah dilakukan razia dan dipulangkan ke kampung halamannya banyak PMKS kembali lagi.

Dia menambahkan, para PMKS datang ke Kota Bekasi karena banyak alasan. Salah satunya, wilayah Kota Bekasi daerah yang sedang berkembang di segala aspek. ”Mereka yang masuk katagori PMKS adalah anak punk, pengemis, gelandangan, pengamen, dan pekerja seks komersial," tandasnya. (dny)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.