Ekonomi

Cegah Persaingan Tak Sehat, Pengamat Nilai Promo Ojol Tetap Perlu Diatur

Redaktur: Heryanto
Cegah Persaingan Tak Sehat, Pengamat Nilai Promo Ojol Tetap Perlu Diatur - Ekonomi

Foto : Ilustrasi

indopos.co.id - Pengamat transportasi menilai pengaturan promo layanan transportasi daring atau ojol (ojek online) tetap perlu dilakukan. Hal itu sebagai upaya menghindari persaingan tak sehat yang berpotensi menjatuhkan kompetitor.

Mantan Ketua Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) periode 2015-2018 Syarkawi Rauf menekankan perlunya Pemerintah memastikan terciptanya iklim usaha yang sehat di Indonesia. Yakni dengan mengatur persaingan yang sehat antara pemain dan perlindungan konsumen.

“Ancaman terhadap persaingan usaha yang sehat datang dari dua sumber. Yaitu praktik bisnis yang menghambat persaingan dan peraturan pemerintah yang memberatkan persaingan," ujar Syarkawi, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (18/6/2019).

Pendiri Institute for Competition and Policy Analysis (ICPA) menambahkan, dalam kasus transportasi online negara harus hadir. “Hal itu untuk memastikan tidak ada ancaman bagi iklim persaingan usaha sehat hanya gara-gara perilaku salah satu perusahaan yang promo jor-joraan dan menjurus pada matinya pesaing-pesaing lain,” ujarnya.

Bagaimanapun persaingan yang sehat antara pemain, nilai dia, dibutuhkan untuk mendorong terciptanya inovasi, produktivitas, serta penanaman modal yang lebih tinggi. Persaingan yang sehat juga membantu mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

“Karena perusahaan yang lebih kecil bisa memiliki kesempatan untuk bersaing, dan perusahaan yang lebih besar tidak berkuasa tanpa batas," jelas Syarkawi.

Dia menambahkan, pihaknya mendukung jika regulator berencana mengkaji ulang peraturan. Khususnya Permenhub 12/2019, untuk memastikan praktik persaingan tidak sehat berbalut promo tidak terus berlanjut.

“Karena ini rentan terhadap pelanggaran undang-undang persaingan usaha tidak sehat, dan akan menjadi preseden yang tidak baik bagi industri lain di Indonesia," ujarnya.

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia (UI) Harryadin Mahardika mengungkapkan, dugaan adanya jual rugi atau predatory pricing dalam industri Ojol cukup kuat. Pasalnya, secara karakter, pasar industri tersebut kini hanya menyisakan dua pemain, Go Jek dan Grab.

Dengan menyisakan dua pemain tersebut, menurut Harryadin, akan berlaku hukum rivalitas yang ketat, dan saling memangsa. “Secara teori demikian, rivalitas pasar yang hanya dua pemain, akan berlaku hukum yang lebih kuat, akan memangsa dengan upaya apapun lawannya," jelasnya.

Persoalannya, tegas Harryadin jika kelak pasar hanya diisi pemain tunggal sebagai pemenang persaingan, maka akan terjadi monopoli. Hal ini akan merugikan banyak pihak. “Tarif bisa seenaknya, karena cuma satu pemain,"  ujarnya.

Menurut Harryadin, promo Rp 1 itu sama saja gratis.  Atau promo diskon 70% itu sangat besar. “Ditambah dengan periode jangka waktu yang panjang. Kalau dikatakan promo, itu seharusnya ada jangka waktu atau momen,” ujarnya.

Menurut Harryadin, strategi promo mengandung gelagat menjatuhkan tarif layanan. Secara perlahan kata dia,  terdapat migrasi pelanggan. “Pemerintah dan regulator harus intervensi ini. Saya melihat bukan lagi promo tetapi predatory promotion atau deep discounting yang juga unsur dari predatory pricing," ujar Harryadin.

Hal senada diungkapkan Pengamat Transportasi dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna. Menurutnya, indikasi persaingan tidak sehat yang dipicu oleh kegiatan promo gila-gilaan para operator yang mengandalkan modal besar.

“Aksi bakar uang sampai pesaing mati. Bahayanya jika sudah mengarah pemain tunggal, ini yang telah terjadi di beberapa negara,” ujarnya.

Yayat menyoroti situasi di mana pengguna aplikasi Ojol kerapkali dibanjiri tawaran diskon menarik.  Hingga terkadang nyaris tak membayar tunai. Bahkan, imbuhnya, promo yang ditawarkan salah satu aplikator pernah menyisakan tarif yang dibayar pelanggan hanya Rp1. “Jadi (promo) tetap harus diatur, walau wewenangnya tidak di Kemenhub, otoritas lainnya perlu masuk," pungkasnya. (dai)

Baca Juga


Berita Terkait

Nasional / Pemerintah Diminta Serius Tangani Promo Ojol


Baca Juga !.