Megapolitan

Anies: Pertumbuhan Ekonomi Idealnya Sejalan dengan Perbaikan Kualitas Udara

Redaktur:
Anies: Pertumbuhan Ekonomi Idealnya Sejalan dengan Perbaikan Kualitas Udara - Megapolitan

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Foto: Net

indopos.co.id – Karena ditunjuk sebagai tuan rumah peluncuran C40 Cities Climate Action Planning Programme untuk kawasan Asia Tenggara, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan langsung buru-buru membuat survei atas kualitas udara di ibu kota. Survei itu dilakukan bersamaan dengan program pengujian emisi kendaraan bermotor dan kelaikan lalu lintas.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu menerangkan, ditunjuknya Jakarta sebagai tuan rumah kegiatan C40 Climate Action Planning Program adalah kebanggaan tersendiri bagi pria asal Kuningan, Jawa Barat berusia 50 tahun tersebut. Menurutnya dengan menjadi tuan rumah pada kegiatan ini adalah kesempatan untuk belanja ide, serta membagikan yang telah dilakukan, sekaligus bertukar pengalaman.

Selain itu, Baswedan bersama perwakilan pemerintah lima negara tersebut yakni Jakarta (Indonesia), Hanoi (Vietnam), Ho Chi Minh (Vietnam), Kuala Lumpur (Malaysia) dan Quezon City (Filipina) mengumumkan komitmen bersama untuk memenuhi Perjanjian Paris. Kelima kota ini bergabung dengan lebih dari 70 kota lainnya di bawah naungan C40 untuk meluncurkan secara resmi Program C40 Climate Action Planning untuk Asia Tenggara.

Mantan Rektor Universitas Paramadina ini kemudian menjabarkan beberapa tantangan yang dihadapi DKI Jakarta terkait isu lingkungan hidup agar bisa didiskusikan bersama demi mencari alternatif solusi terbaik dari berbagai belahan dunia. ”Tantangan kita hari ini adalah bagaimana memastikan perkembangan perekonomian di Jakarta juga berbarengan dengan ekologi. Karena di masa lalu, rupanya ekonomi dan ekologi bekerja bersama-sama,” kata dia, Selasa (18/6/2019).

Beberapa isu lingkungan tersebut antara lain gas emisi rumah kaca, peralihan dari kendaraan pribadi menuju transportasi publik, penurunan permukaan tanah, dan limpahan air yang berasal dari hulu karena DKI Jakarta merupakan muara dari 13 anak sungai menuju Laut Jawa.

Hal ini sejalan dengan target Pemprov DKI Jakarta yang terus berupaya mengurangi polusi udara di ibu kota. Salah satunya dengan menurunkan kadar gas emisi rumah kaca hingga 30 persen pada 2030 mendatang. ”Kita yakin bisa mengurangi polusi udara. Masih ada 11 tahun, sampai saat ini penurunannya sudah 22 persen,” ungkap Anies.

Upaya tersebut, salah satunya dengan menyediakan transportasi publik yang layak. Pasalnya, tanpa tersedianya moda transportasi masal yang baik, masyarakat akan memilih kendaraan pribadi. ”Jumlah kendaraan bermotor ada 17 juta. Jumlah ini harus diatasi, karena jumlahnya sudah terlalu banyak,” katanya.

Anies menuturkan, akan belajar dari pengalaman dan keberhasilan negara-negara C40 untuk menekan emisi. Sebelumnya, ayah empat anak ini menyebutkan, penyumbang polusi udara di Jakarta tidak hanya kendaraan bermotor, melainkan dari pembangkit listrik tenaga uap batu bara sekitaran Jakarta dan limbah sisa rumah tangga. ”Kami ada datanya. untuk mengurangi polusi udara caranya dengan melakukan perubahan perilaku dari tiap komponen yang menjadi penyebab adanya polusi udara,” bebernya.

Seperti, dicontohkan Anies perilaku dunia usaha, perilaku berumah tangga, perilaku pribadi dan perilaku pemerintah. Karena perilaku tersebut hanya menyisakan seperti ini dan kerusakan itu harus diubah,” ujarnya.

Tidak cukup hanya pemerintah yang mengatasi dengan adanya polusi udara ini. Menurut Anies semua komponen harus terlibat mengubah perilaku mengurangi polusi udara. ”Contoh dari 17 juta kendaraan mobil, mobil milik pemerintah hanya ada 141 ribu (unit). Ini tidak sampai 1 persen karena 1 persen dari 17 juta kendaraan adalah 170 ribu. Jadi kalau pemerintah aja yang koreksi tidak cukup, yang paling besar justru rumah tangga dan swasta,” ucapnya.

Di tempat yang sama, Deputy Head of Mission British Embassy Jakarta Rob Fenn mengaku siap membantu kota Jakarta untuk mengatasi masalah polusi. Cities Climate Leadership Group (C40) adalah grup yang menghubungkan 70 kota terbaik di dunia untuk mulai beralih menjadi kota rendah emisi.

C40 juga merupakan kota di dunia yang menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan iklim. “Kami siap mendukung Jakarta, karena kami di C40 untuk saling bertukar ide dalam masalah krisis iklim ini,” ujarnya.

Untuk mendata hal ini, Suku Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga langsung bergerak untuk melakukan survey kelaikan udara di wilayah ibu kota.

Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan (Ekup) dilakukan di tiga lokasi berbeda di Jakarta Selatan. EKUP akan dilakukan melalui tiga kegiatan, yaitu survey kinerja lalu lintas, pengukuran emisi gas buang kendaraan bermotor, dan pemantauan kualitas udara tepi jalan raya.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Syarifudin menyebutkan, dengan semakin meningkatnya volume kendaraan bermotor di kota-kota besar, membuat kesadaran masyarakat untuk merawat kendaraan berkurang. Hal ini menimbulkan dampak negatif berupa menurunnya kualitas udara perkotaan.

Dia menerangkan, memperbaiki udara di ibu kota berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI Jakarta Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, maka pengendalian pencemaran udara menjadi tanggung jawab pemerintah kota.

Untuk itu, Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan melaksanakan upaya pengendalian pencemaran udara dalam bentuk pelaksanaan EKUP.

Syarifudin menerangkan, selain mengetahui dan memperbaiki kualitas udara di Jakarta, EKUP juga dilakukan untuk menyokong penilaian Adipura yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. (nas/ibl)

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Lebaran Betawi untuk Merekatkan Hubungan Warga

Megapolitan / DPRD Berharap Kunjungan Anies ke Kolombia Bermanfaat

Megapolitan / Walhi Tuntut Penjelasan Anies soal Pulau Reklamasi

Megapolitan / DPRD Diminta Desak Pemprov DKI Tertibkan Bangunan Liar


Baca Juga !.