Headline

Pendaftaran PPDB di Depok, Antrean sejak Pagi Buta

Redaktur: Juni Armanto
Pendaftaran PPDB di Depok, Antrean sejak Pagi Buta - Headline

BERJIBAKU-Orang tua mengambil nomor pendaftaran PPDB di SMAN 1 Depok, Jawa Barat.Foto: antara

indopos.co.id - Selasa pagi. Sebelum azan Subuh berkumandang. Aris Ningrum, 43, sudah terbangun. Usai mandi, ibu tiga anak ini membangunkan putri keduanya, Jelita Maharani, yang berusia 14 tahun.

’’Hari ini saya harus datangi SMA Negeri 1 buat antre ambil nomor pendaftaran PPDB. Ini kesempatan saya agar anak ini bisa masuk sekolah itu. Soalnya dekat rumah dan sekolah favorit juga,’’ ungkap Ningrum yang berdomisili di Jalan Jeruk, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok, saat dijumpai di SMA Negeri 1 Depok, Selasa (18/6/2019).

Ningrum dan putrinya harus berada di SMA Negeri 1 agar dapat mengambil nomor antrean pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA/SMK Negeri 2019. Maklum saja penyelenggaraan kegiatan itu sangat dinanti orang tua. Sebab, penerapan sistem zonasi dengan kuota 90 persen memungkinkan anak mereka dapat diterima di sekolah milik pemerintah daerah itu.

’’Kalau dulu masuk sekolah negeri syaratnya nilai UN, sekarang beda karena ada sistem zonasi. Jadi mau tidak mau harus daftar cepat sesuai zonasi. Datang ke sini pukul 04.00 WIB buat ambil nomor pendaftaran online,’’ jelasnya.

Peluh dan letih tak lagi dirasakan Aris. Jarak antara rumahnya ke SMA Negeri 1 sekitar 700 meter ditempuhnya dengan berjalan kaki. Kata dia, sesampai di gerbang sekolah, perempuan berdarah Jawa Tengah ini terkejut.

Ternyata dirinya bukanlah orang pertama. Di sekolah tersebut berdiri sekitar 25 orang tua siswa. Mereka berbaris layaknya siswa yang ingin masuk ruang kelas.

’’Saya kira hari ini sudah sepi, eh ternyata masih ada antrean juga. Pasti mereka datang sejak pukul 02.00 WIB atau 03.00 WIB. Mau tidak mau saya harus ikut antre juga. Loket pendaftarannya buka jam 06.30 WIB. Ya saya sama yang lain berbincang-bincang saja sambil menunggu loket buka,’’ celotehnya.

Diakui Aris, sebagai orang tua dirinya rela menjadi korban penerapan sistem zonasi PPDB 2019 yang diterapkan pemerintah. Kerelaan itu bukan tanpa musabab, lantaran para orang tua siswa berharap besar anak mereka masuk dan diterima di sekolah negeri.

Apalagi syarat masuk sekolah negeri yang ditetapkan pemerintah dengan menghapus standar nilai ujian nasional membuka peluang besar bagi anak-anak mereka.

’’Harapannya diterima karena jarak dari rumah ke sekolah dekat. Tak apa menjadi korban sistem pendidikan yang penting anak sekolah di SMA Negeri. Kan tidak bayaran sekolah sama uang gedung. Banyak lulusan SMAN 1 masuk universitas negeri,’’ katanya.

Tak hanya itu. Ningrum pun mengaku mendapatkan nomor pendaftaran dengan urutan 35 dari 1.500 pendaftar di hari ke dua. Kata dia nomor ini akan memudahkan dirinya mendaftarkan melalui situs online. Verifikasi dengan panitia PPDB untuk mendata jarak rumahnya dengan sekolah pun telah dilakukan. Dan itu sedikit membuatnya lega.

’’Tadi baru selesai pukul 12.45 WIB. Ya dicek dari alamat yang ada di KK. Memang agak lelah, tapi ini demi anak apa pun akan saya lakukan. Kalau suami kan harus kerja, jadi tidak boleh diganggu,’’ terangnya.

Namun, ada satu hal yang membuat hati Ningrum gundah. Sebab, penerapan informasi terkait sistem zonasi itu tidak detail diterangkan panitia PPDB. Salah satunya daya tampung sekolah. Sebab di hari ke dua saja jumlah pendaftar SMA Negeri 1 Depok telah mencapai 2.500 calon siswa. Sementara dia mendapatkan informasi kuota SMA Negeri 1 ini hanya mencapai 302 siswa.

’’Infonya juga akan diseleksi melakui online. Aturannya disebarkan berapa daya tampung sekolah, jadi semua tidak ikut mendaftar. Apalagi yang rumahnya berjarak 3 kilometer dan masih satu kecamatan. Ini yang buat saya risau sekarang,’’ tuturnya.

Apa yang dirasakan Ningrum, ikut pula dirasakan orang tua calon siswa SMA Negeri 1 bernama Supriadi Zakaria, 55, asal Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kecamatan Pancoranmas. Pria gaek ini tak mau ambil pusing jika dirinya harus menjadi korban pesakitan penerapan sistem zonasi di PPDB 2019 tersebut.

Dirinya berani datang pukul 03.00 WIB ke sekolah itu agar putri ketiganya dapat diterima di SMA Negeri 1. Sebab, dirinya yakin dengan nilai UN anaknya yang di atas rata-rata 7 itu akan mampu mengalahkan peserta lain.

’’Saya pakai kuota siswa berprestasi. Kalau tidak masuk juga ini sangat kelewatan. Jika kalah bisa masuk jalur zonasi juga. Mau dibilang jadi korban sistem zonasi PPDB tidak apa-apa yang penting anak saya masuk. Dua kakaknya lulusan SMAN 1, makanya yang bontot pengen masuk sekolah yang sama,’’ tegasnya.

Supriadi menuturkan, ribuan orang tua yang datang ke SMA Negeri 1 Depok ini hanya berharap seluruh anak mereka diterima di sekolah itu. Sebab, kualitas pendidikan di sekolah tersebut sangat bagus. Apalagi sangat langka kesempatan masuk sekolah negeri dengan penghapusan syarat nilai UN. Dan jika anaknya tak diterima di sekolah tersebut dirinya pun akan melakukan gugatan terhadap penerapan sistem zonasi PPDB 2019 tingkat SMA/SMK Negeri yang dilaksanakan pemerintah pusat. (cok)

 

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Asyiknya Bermain dan Belajar di RPTRA Gondangdia (2-Habis)

Megapolitan / Asyiknya Bermain dan Belajar di RPTRA Gondangdia (1)

Megapolitan / "Yakin", Burung Cinta yang Dihargai Rp500 Juta Lebih

Megapolitan / Menari, Metode Sederhana untuk Mengetahui Penyakit Jantung


Baca Juga !.