Ali Mochtar Ngabalin, dari Loper Koran jadi Komisaris AP I

Meraih suatu gelar bukanlah hal yang mudah. Namun, perlu konsentrasi, usaha, dan kerja keras.  Tetapi justru yang menjadi hal tersulit mempertahankan gelar yang telah dicapai. Itu perlu dedikasi tinggi dalam meningkatkan kualitas dan integritas.

Saadatuddaraen, JaKARTA

Baca Juga :

Mengabadikan Bunga Keabadian

PT Angkasa Pura I (Persero) berhasil dinobatkan kembali sebagai ‘Best Company to Work for in Asia 2019’. Penghargaan tingkat Asia-Pasifik yang diselenggarakan oleh HR Asia yang berbasis di Malaysia ini merupakan gelar kali kedua diterima salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) setelah pencapaian yang sama pada 2018.

Pada tahun itu, Ali Mochtar Ngabalin ditunjuk dan diangkat sebagai komisaris perusahaan pelat merah tersebut. Tepatnya 19 Juli 2018, seorang politisi yang juga menjabat sebagai tenaga ahli utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) itu sempat mengundang kontroversi publik terhadap jabatan barunya. Tidak hanya para pejabat di lingkungan BUMN, tetapi para politisi. Kendati demikian, pria yang kerap menggunakan sorban sebagai tutup kepalanya itu tak menggubris dan bertekad memajukan dan tetap fokus dalam beban serta tugas kerjanya. 

Baca Juga :

Ternyata cemoohan dan kritikan tersebut berhasil ditepis dengan bukti bila PT Angkasa Pura (AP) I bisa tetap terbang tinggi di langit Asia-Pasifik. Ini setelah dipertahankannya gelar ‘Best Company to Work for in Asia 2019’.

Menurut Ali Mochtar Ngabalin, HR Asia Awards 2019 untuk chapter Indonesia kali tahun ini diikuti lebih dari 280 perusahaan. Pada penyelenggaraan tahun ini, penghargaan tersebut juga dilakukan di Tiongkok, Uni Emirat Arab, Hong Kong, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Taiwan, dan Vietnam.

Baca Juga :

Mengintip Alur Cerita Film Nagabonar Reborn

Proses penilaian penghargaan itu telah dimulai sejak akhir 2018 melalui serangkaian penjurian, survey, dan presentasi oleh nominator. Penilaian komprehensif dilakukan tim penilai yang terdiri dari praktisi, ahli, akademisi, dan konsultan. “Berdasarkan hasil survei dan penilaian yang dilakukan Dewan Juri, AP I berhasil meraih nilai di atas rata-rata industri,” ungkapnya.

Ali, sapaan akrabnya mengutus Vice President (VP) Human Capital AP I Joko Wahyono dalam menerima penghargaan yang dilakukan oleh Editor in Chief of Business Media International William Ng dalam acara Gala Dinner and Awards Ceremony di Hotel JW Marriot, Jakarta, Jumat (14/6) malam.

“Penghargaan ini bukan hanya saya, tapi merupakan apresiasi bagi seluruh karyawan AP I atas kontribusi dan dedikasinya dalam bekerja selama ini. Penghargaan yang kedua kalinya diraih AP I itu tentunya juga akan semakin memacu kami dalam melakukan transformasi human capital untuk mendukung visi baru perusahaan,” katanya.

Ali pun menjabarkan, human capital merupakan aset penting dalam upaya membangun perusahaan yang maju, positif, berkembang, serta dapat beradaptasi di setiap perubahan. Untuk membentuk world class airport officer, AP I mencanangkan Human Capital Strategic Initiative dengan tiga aspek utama, yaitu organization, culture, dan people.

“Secara organization, AP I ingin menjadi perusahaan yang lincah dan fokus (nimble and focus organization, Red). Lalu secara culture, memperkuat nilai budaya perusahaan Sinergi, Adaptif, Terpercaya, dan Unggul (SATU) serta mendorong budaya inovasi. Sementara dari sisi people, strateginya antara lain melalui career and talent management yang berbasis pada kinerja dan kompetensi serta melalui pembelajaran dan pelatihan berkelas dunia,” paparnya.

Tranformasi digital di bidang human capital juga dilakukan AP I dengan penerapan Human Capital Information System (HCIS), yang memungkinkan semua proses bisnis human capital di AP I telah berbasis digital.

Terkait perjalanan hidup dan karier, Ali mengawali dari kehidupan yang pahit. Dia pernah menjadi loper koran yang kemudian meniti karir sebagai politikus dan mubalig. Semula Ali dikenal menjadi politikus dari Partai Bulan Bintang (PBB) yang diketuai Yusril Ihza Mahendra. Pada 2014, namanya makin populer gara-gara tampil sebagai tim sukses pemenangan Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014.

Pria yang lahir di Fakfak, Papua Barat, 25 Desember 1968 itu berasal dari keluarga yang sederhana. Ali merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya Hasan Basri Ngabalin merupakan pegawai di Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) di Kabupaten Fakfak.

Walaupun tidak banyak informasi seputar masa kecilnya, Ali menghabiskan masa kecilnya dengan menjalani pendidikan di SD Inpres Fakfak dan lulus pada 1980. Kemudian melanjutkan pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Fakfak yang selesai pada 1983 dan lanjut lagi ke Madrasah Aliyah Fakfak yang selesai pada 1986.

Ali pun memilih kuliah di IAIN Alauddin, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) dan selesai pada 1994. Dia juga tercatat pernah menempuh pendidikan di Universitas Indonesia (UI) untuk Jurusan Ilmu Komunikasi yang diselesaikannya pada 2001. Kemudian meraih gelar Doktor (S3) di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada 2013.

Saat masa remaja, Ali pernah menjadi loper koran dan pengantar kaset video rental. Ini dilakukannya agar bisa mendapat tambahan uang saku. Ali mulai aktif berpolitik sejak bergabung dengan PBB. Ia pun terpilih pada 2004 menjadi Anggota DPR dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sulsel II.

Di luar kariernya sebagai politikus, Ali juga aktif menjadi mubalig. Namanya juga tercatat dalam beberapa organisasi keagamaan di antaranya Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) hingga Badan Koordinasi Mubalig se-Indonesia (Bakomubin).

Secara mengejutkan pada 2010, Ali pindah ke Partai Golkar. Padahal, namanya bisa dibilang termasuk politikus senior di PBB. Di Partai Golkar, ia dipercaya menjabat Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen). Menjelang Pilpres 2014, Ali memberi dukungannya kepada pasangan Prabowo-Hatta yang bersaing dengan Jokowi-Jusuf Kalla. Ia pun diserahi tanggung jawab menjadi juru debat tim pemenangan Prabowo-Hatta pada Pilpres 2014. Sayangnya, upaya yang dilakukan Ali memenangkan Prabowo-Hatta sia-sia ketikan KPU mengumumkan kemenangan Jokowi-JK. Sejak itu ia mengambil posisi sebagai oposisi, mengkritik pemerintah.

Suami Henny Muis Bakkidu itu juga tak lepas dari kontroversi lain misalnya membela aksi kekerasan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Monas pada 2008.

Selain Ali, susunan Dewan Komisaris AP I di antaranya Komisaris Utama dijabat Djoko Sasono, Anggota Komisaris antara lain Harry Z. Soeratin, Suprasetyo, Tri Budi Satriyo, dan Anandy Wati (Komisaris Independen). Selain Ali, jajaran Komisaris baru yang diangkat pada 19 Juli 2018, yakni Djoko Sasono dan Tri Budi Satriyo.

Djoko sebelumnya menjabat Sekjen Kementerian Perhubungan. Sementara Tri Budi berlatar belakang militer dengan pangkat Marsekal Muda. Sedangkan Ali sebagai politisi dari Partai Golkar yang pada Mei 2018 lalu sempat diangkat sebagai Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi.

Bagaimana dengan sosok Harry? Dia menjabat Komisaris sejak 16 Januari 2018. Pernah menjabat sebagai anggota Dewan Komisaris PT Pos Indonesia (Persero) (2008-2013), Ketua Komite Audit PT Pos Indonesia (Persero) (2010-2013), Sekjen Kementerian Sosial RI (2016-2017), dan Kepala Badan Pendidikan, Penelitian, dan Penyuluhan Sosial Kemensos RI (2018-sekarang).

Menyelesaikan S1 Program Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung pada 1987, S2 Program Magister Manajemen (MBA) Universitas Indonesia, Jakarta pada 1991, S3 Program PhD Fakultas Business & Commerce Keio University, Tokyo pada 1999, dan S3 Program DMB Univeritas Padjadjaran, Bandung pada 2016.

Selanjutnya Suprasetyo. Pria kelahiran Magelang, 23 Mei 1958 itu menjabat Komisaris AP I sejak 4 April 2017. Pernah menjabat sebagai Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sejak 12 Januari 2015. Lalu Atase Perhubungan KBRI di Washington (2007-2011), Kasubdit Kendali Mutu Keamanan Penerbangan (2011-2012), Kasubdit Pelayanan Darurat Direktorat Keamanan Penerbangan (2012-2013), Kepala Bandara Kelas Utama Hang Nadim Batam (2013-2014), Kepala Kantor Otoritas Bandara Wilayah I Kelas Utama Soekarno-Hatta (2014-2015). Menempuh pendidikan S1 Jurusan Teknik Kimia, Universitas Gadjah Mada dan lulus 1985.

 

Anak Usaha

Selain bisnis inti, AP I juga memiliki sejumlah anak usaha di antaranya AP Hotels yang bergerak di bidang perhotelan, lounge, dan restoran; AP Logistic di bidang warehousing, total baggage solution, regulated agents, distribution center, dan freight forwarding; AP Property di bidang usaha pembangunan, perdagangan dan jasa khususnya real estate, pengembangan, jasa keagenan, distribusi, dan bidang konstruksi serta bidang lainnya; AP Supports  di bidang jasa, pembangunan, pengangkutan darat, perbengkelan, percetakan, dan perdagangan.

Berikutnya, AP Retail bergerak di bidang usaha penjualan dan pemasaran, dengan usaha penjualan berbentuk duty free, duty paid, serta food & beverage, sedangkan untuk jasa pemasaran berupa komunikasi pemasaran, desain grafis, media placement & buying, dan event activation. Lalu PT Gapura Angkasa, patungan tiga BUMN, yaitu PT Garuda Indonesia (Persero), Angkasa Pura Airports, dan PT Angkasa Pura II (Persero). Berikutnya, PT Jasa Marga Bali Tol untuk tol Nusa Dua – Ngurah Rai – Benoa di Bali oleh beberapa perusahaan BUMN.

Disusul Yakkap I di bidang sosial dan kemanusiaan dan Dana Pensiun Angkasa Pura I (DAPENRA) merupakan program pensiun pegawai. (*)

Komentar telah ditutup.