Megapolitan

Mengenal Lebih Dekat Profesor Unifah Rosyidi yang Diangkat Menjadi Guru Besar UNJ

Redaktur:
Mengenal Lebih Dekat Profesor Unifah Rosyidi yang Diangkat Menjadi Guru Besar UNJ - Megapolitan

BAHAGIA - Unifah Rosyidi (tengah) didampingi kedua anaknya usai pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Senin (24/6/2019). Foto: Nasuha/INDOPOS

Sukses meniti karir selalu menjadi dambaan setiap insan. Dengan harapan, kesuksesan itu bisa bermanfaat untuk orang lain. Seperti yang dilakukan Unifah Rosyidi. Perempuan yang menyandang gelar profesor itu terus memperjuangkan hak-hak guru di Indonesia.

NASUHA, Jakarta

SEJAK pagi, panitia pengukuhan guru besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di Jakarta Timur tampak sibuk. Puluhan karangan bunga ucapan selamat tertata di halaman Gedung Dewi Sartika, UNJ Kampus A.

Beberapa karangan bunga ucapan selamat tersebut berasal dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Jawa Barat. Rupanya UNJ, kemarin tengah melakukan pengukuhan guru besar Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd.

Hari semakin siang, para tamu undangan terus berdatangan. Dari civitas akademi hingga pejabat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan petinggi di jajaran Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi juga hadir pada acara tersebut.

Unifah Rosyidi saat menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul “Membangun Tata Kelola Guru dan Tenaga Kependidikan yang Efektif dalam Perspektif Revolusi Industri 4.0”. Dalam orasi ilmiahnya, perempuan yang menjabat sebagai Ketua Umum PGRI ini membawakan tata kelola guru sudah menjadi masalah sejak lama. Salah satunya persoalan kompetensi guru.

Program sertifikasi yang digulirkan pemerintah sejak 2005 lalu dipandang mampu melahirkan sistem insentif bagi guru dengan meningkatkan motivasi dan kinerja guru. Hingga 2018 lalu, sedikitnya pemerintah telah berhasil melakukan sertifikasi terhadap 1,5 juta guru atau 50 persen dari 3,1 juta guru di Indonesia. ”Meskipun telah 14 tahun, program sertifikasi guru masih jauh dari terpenuhi,” kata Unifah Rosyidi di UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (24/6/2019).

Perempuan kelahiran Cirebon, Jawa Barat, 5 April 1962 ini menyebutkan, rasio guru dan siswa masih rendah. Masalah ini muncul salah satunya disebabkan oleh tidak adanya pemerataan guru.

Menurut Unifah, masalah tata kelola guru sangat kompleks. Dari masalah pengangkatan guru PNS, guru honorer, hingga upaya menaikkan rasio guru dan siswa hingga pemerataan guru.

Guru Besar Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ ini menilai ada upaya bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memperbaiki tata kelola guru. Tata kelola guru yang efektif, menurutnya mampu melahirkan motivasi dan meningkatkan kinerja. ”Perbaikan bisa dimulai dari analisis kebutuhan, rekrutmen dan penempatan guru, pembinaan dan pelatihan hingga perlindungan guru,” ungkapnya.

Alumnus IKIP, Bandung ini menyebutkan, ada beberapa rekomendasi pada tata kelola guru secara nasional. Yakni perlunya transformasi sistem manajemen pendidikan, pembangunan sistem pembinaan kapasitas daerah.
Kemudian melakukan evaluasi secara berkala terkait tata kelola guru. Membangun sistem pelatihan guru hingga penyesuain peraturan perundangan untuk membangun tata kelola guru yang kondusif.

Guru menurut perempuan lulusan S2 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung ini adalah sosok pendidik yang memancarkan kasih sayang. Guru juga yang membesarkan hati anak-anak dan mendorong anak-anak berkembang. ”Guru selalu dinanti oleh siswanya,” ucapnya.

Di zaman teknologi yang terus berkembang saat ini, menurutnya guru harus menjadikan anak-anak sebagai pembelajar. Dengan mengajarkan belajar kepada siswa sepanjang hayatnya. Oleh karenanya, guru harus dipersiapkan, dengan multi stimulan. Salah satunya menganggap dirinya adalah kurikulum. ”Dengan demikian guru harus bisa menghadirkan semua pada anak-anak sampai “klik”. Secara bersama melibatkan diri dalam proses,” terangnya.

Unifah ingin agar ’pahlawan tanpa tanda jasa’ selalu menghadirkan diri sebagai cahaya kebahagian untuk siswa. Caranya dengan membawakan sistem pembelajaran yang fleksibel. Dengan memberikan keluasaan kepada siswa untuk melihar setiap permasalahan dari semua sudut pandang yang berbeda. ”Dalam pengetahuan itu tidak ada pembenaran tunggal,” tegasnya.

Sukses menjadi guru besar, tetap membuat perempuan yang dikarunia dua orang anak ini tetap rendah diri. Semangatnya untuk memperjuangkan hak para guru tidak pernah padam. Semua permasalahan yang dihadapi guru bakal dikerjakan secara bersama-sama. ”Saya ingin merangkul semua guru untuk tidak menyerah dan saya tetap akan mendampingi guru hingga mencapai standar guru yang baik dan bermartabat. Dengan segala cara, karena saya mencintai guru,” pungkasnya.

Kesuksesan Unifah pada level tertinggi di proses pendidikan tidak datang tiba-tiba. Ada doa dan dorongan dari orangtua dan keluarga. Kepada INDOPOS, Hj Umayah, 83, ibunda Unifah menuturkan, sang anak adalah sosok yang pendiam, penurut dan tidak nakal. ”Kesehariannya, Unifah tidak pernah nangis minta jajan,” ujarnya.

Saat duduk di bangku SMP, menurut Umayah, Unifah pernah belajar di pondok pesantre. Namun, itu hanya bertahan satu bulan saja. Karena, dia tidak betah, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri. “Satu bulan di pondok, dia tidak betah. Terus pindah ke SMP Negeri Harjawinangun,” bebernya.

Umayah menyebutkan, sejak kecil Unifah selalu meraih prestasi. Sehingga, setiap jenjang pendidikan tidak merepotkan. “Saya enggak repot nyekolahin, karena Uni sering dapat prestasi,” ucapnya.

Sejak kecil, Unifah sangat menyukai urap. Makanan ini terdiri dari sayuran dan urap kelapa. Sementara hobi yang paling disukai Unifah adalah menggaji di pondok atau musala. Biasanya itu dilakukan setiap sore hari.

Doa Umayah yang mampu mengantarkan Unifah pada kesuksesan saat ini. Dia berharap dengan segala yang diraihnya, bisa dimanfaatkan untuk membantu banyak orang.

Hal yang sama diungkapkan Sarah. Puteri kedua Unifah ini menuturkan, kesuksesan sang ibu berkat kerja keras. ”Ibu selalu punya mimpi yang tinggi dan selalu ingin mengejarnya. Tetapi tidak pernah melupakan orang lain,” ujar perempuan berusia 26 tahun tersebut.

Unifah, menurut Sarah adalah sosok yang dekat dengan keluarga. Kendati tidak tinggal di satu tempat yang sama, hubungan orang tua dan anak terus terjalin. Bahkan, keduanya kerap saling memberi dukungan meski hanya sebatas ucapan lewat sambungan telepon. “Ya paling ngobrol lewat HP. Kadang ketemu di akhir pekan,” pungkasnya. (*)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Megapolitan / Mengungkap Proses Pembuatan Kerak Telor Raksasa

Megapolitan / Menguak Misteri Relief Bersejarah di Eks Bandara Kemayoran (2)

Megapolitan / Menguak Misteri Relief Bersejarah di Eks Bandara Kemayoran (1)

Megapolitan / Asyiknya Bermain dan Belajar di RPTRA Gondangdia (2-Habis)

Megapolitan / Asyiknya Bermain dan Belajar di RPTRA Gondangdia (1)

Megapolitan / "Yakin", Burung Cinta yang Dihargai Rp500 Juta Lebih


Baca Juga !.