Jawa Barat Bebas HIV/AIDS 2030

indopos.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat (Jabar) sepanjang tahun lalu ada 37.485 kasus HIV dan 10.370 kasus AIDS. Ada tren peningkatan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di kalangan ibu rumah tangga (IRT). Selain PSK dan pelajar/mahasiswa, IRT cenderung mengalami peningkatan cukup signifikan.

”Sejatinya, meningkat pada semua kelompok. Hanya, peningkatan lebih signifikan pada kelompok IRT hampir 20 persen. Peningkatan ada di seluruh Indonesia yang menjadi lokus,” tutur Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jabar Berli Hamdani pada Pertemuan Koordinasi Penguatan Kelembagaan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) se-Jabar di Aula Timur Gedung Sate Bandung, Senin (24/6/2019).

Peningkatan itu, kata Berli, bisa terjadi karena kurangnya sosialiasi atau terputusnya rantai kegiatan sosialisasi. Selain itu, bisa juga disebabkan masih tabunya orang Indonesia dalam membicarakan kekurangan pasangan sebelum menikah. ”Padahal, mugkin kalau dari awal sudah dibicarakan misal saya ini penderita (HIV/AIDS) dan mungkin tidak akan terjadi penularan, jangan sampai tidak diketahui pasangan. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri atau melapor juga penting dalam mencegah dan mengatasi HIV/AIDS,” ulas Berli.

Apalagi saat ini, baik pemerintah pusat, provinsi, atau kabupaten/kota sudah mulai membuka klinik (Voluntary Counselling and Testing/VCT). Klinik VCT bisa diartikan sebagai tempat konseling dan tes HIV sukarela (KTS). ”Kalau VCT secara masif dilaksanakan, InsyaAllah nanti akan semakin banyak orang secara sukarela memeriksakan kondisinya. Selain itu, kita juga ada Pusat Informasi Konseling (PIK) dan ada juga konseling berbasis web, ada juga kerja sama dengan BKKBN melalui generasi berencananya itu, dengan BNN untuk penanganan kasus terutama di instansi, kemudian ada juga dengan perguruan tinggi,” ulasnya.

Salah satu IRT pengidap HIV bercerita awal mula mengetahui positif mengidap HIV pada Januari tahun lalu. Bahkan, salah satu anaknya juga sudah positif HIV. ”Saya kaget banget dan sedih. Saya berusaha, harus bisa, harus semangat, walau pun sendiri,” akunya.

Dia berharap ada perhatian pemerintah bagi pengidap HIV/AIDS. Karena semakin hari semakin banyak IRT terinfeksi. ”Semoga pemerintah bisa mendengar, membantu, dan berpihak kepada kami. Tolong bantu kami, karena kami ada,” harapnya.

Sementara Wakil Gubernur Jabar, Uu Ruzhanul Ulum mengatakan sinergitas dan kolaborasi menjadi salah satu kunci menuju zero HIV AIDS pada 2030. Kolaborasi bisa dilakukan melalui usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. ”Sebab, HIV/AIDS bukan hanya masalah di dunia kesehatan, tetapi juga menjadi masalah social,” tutur Uu.

Ia mengatakan penderita HIV/AIDS atau disebut Odha setiap tahun terus bertambah. Dan, itu tidak hanya menyasar warga perkotaan, tetapi juga masuk ke desa-desa. Itu berdampak pada stigma negatif masyarakat terhadap Odha. Masyarakat diharap berhenti memberikan stigma negatif terhadap Odha. Kondisi itu, akan menjadi kunci sukses merealisasikan zero HIV/AIDS pada 2030. ”Harapan kami, zero HIV/AIDS bukan hanya dilakukan level medis dan pemerintah, tapi harus bergandengan dengan para ulama dan guru,” harap Uu.

Uu juga berharap penguatan peran dari seluruh pemerintah Kabupaten/Kota di Jabar. Pasalnya, semua pihak perlu bergerak melalui berbagai upaya konkrit dan cepat. Uu meminta seluruh pihak untuk concern supaya gayung bersambut di provinsi ada keputusan dan program disambut pemerintah kota dan kabupaten. Dengan begitu, semua bergerak untuk menuntaskan masalah HIV/AIDS. ”InsyaAllah kalau semua bekerja sama akan sukses apa yang dituju kita bersama, yaitu zero HIV/AIDS di Jabar,” tegas Uu. (ant)

Komentar telah ditutup.