Lifestyle

Obat Umum Berisiko Peningkatan Penurunan Fungsi Otak bagi Lansia

Redaktur: Darul Fatah
Obat Umum Berisiko Peningkatan Penurunan Fungsi Otak bagi Lansia - Lifestyle

ILUSTRASI - Obat yang umum diresepkan dapat terkait dengan risiko demensia hampir 50 persen lebih tinggi pada orang dewasa dan yang lebih tua.

indopos.co.id - Para ilmuwan telah lama menemukan kemungkinan hubungan antara obat antikolinergik dan peningkatan risiko demensia (penurunan fungsi otak/daya ingat-red). Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Internal Medicine, Senin (24/6/2019), menunjukkan bahwa hubungan tersebut paling kuat untuk kelas obat antikolinergik tertentu. Terutama antidepresan, antimuscarinics kandung kemih, antipsikotik dan obat antiepilepsi.

Para peneliti menuliskan, ada kemungkinan peningkatan demensia hampir 50 persen. Berhubungan dengan total paparan antikolinergik sebanyak lebih dari 1.095 dosis harian dalam periode 10 tahun. Hal itu setara dengan orang dewasa yang menggunakan obat antikolinergik yang kuat setiap hari. Setidaknya selama tiga tahun, dibandingkan dengan yang tidak terkena paparan.

“Studi ini penting karena akan memperkuat bukti yang menunjukkan bahwa obat antikolinergik yang kuat memiliki hubungan jangka panjang dengan risiko demensia,” ujar Carol Coupland, profesor statistik medis dalam perawatan primer di University of Nottingham di Inggris.

Penulis pertama penelitian tersebut itu juga mengungkapkan, penelitian juga menyoroti jenis obat antikolinergik mana yang memiliki hubungan paling kuat. “Ini adalah informasi penting bagi dokter agar dapat dipertimbangkan ketika akan meresepkan obat itu. Ini adalah penelitian observasional, sehingga tidak ada kesimpulan yang dapat diambil tentang apakah obat antikolinergik ini dapat menyebabkan demensia,” kata Coupland dikutip dari CNN.

Dia mengatakan, orang yang menggunakan obat-obatan ini disarankan untuk tidak menghentikannya tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mereka. Sebab, bisa berbahaya. Studi ini melibatkan analisis data pada 284.343 orang dewasa di Inggris yang berusia 55 dan lebih tua, antara tahun 2004 dan 2016. Data tersebut berasal dari QResearch, sebuah database besar catatan kesehatan anonim.

Para peneliti mengidentifikasi paparan antikolinergik pada setiap orang dewasa berdasarkan rincian resep mereka. Para peneliti menemukan obat antikolinergik yang paling sering diresepkan adalah antidepresan, obat untuk mengobati vertigo, mabuk atau muntah, dan obat antimuskarinik kandung kemih, seperti untuk mengobati kandung kemih yang terlalu aktif.

Para peneliti juga mengamati dengan cermat siapa saja yang didiagnosis dengan demensia dan menemukan 58.769 pasien mendapatkan diagnosis demensia. Namun, para peneliti tidak menemukan peningkatan signifikan dalam risiko demensia yang terkait dengan antihistamin, relaksan otot rangka, antispasmodik gastrointestinal, antiaritmia, atau bronkodilator antimuskarinik, menurut data, tetapi hubungan ditemukan di antara kelas-kelas lain dari obat antikolinergik.

Para peneliti juga menemukan, kemungkinan demensia meningkat dari 1,06 di antara mereka dengan pajanan antikolinergik terendah menjadi 1,49 di antara mereka dengan pajanan tertinggi, dibandingkan dengan yang tidak memiliki resep obat antikolinergik.

Penelitian ini memiliki beberapa batasan, termasuk bahwa beberapa pasien mungkin tidak menggunakan obat yang diresepkan sesuai petunjuk, sehingga tingkat paparan antikolinergik bisa saja salah diklasifikasikan. Para peneliti menemukan hubungan obat antikolinergik dengan risiko demensia, bukannya hubungan sebab akibat.

“Namun, jika hubungan ini bersifat kausal, fraksi yang disebabkan populasi menunjukkan bahwa sekitar 10 persen dari diagnosis demensia disebabkan oleh paparan obat antikolinergik, yang akan sama dengna sekitar 20.000 dari 209.600 kasus demensia baru per tahun di Inggris,” menurut salah satu penelitian tersebut.

“Karena penelitian ini hanya menunjukkan asosiasinya, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas apakah obat antikolinergik benar-benar mewakili faktor risiko reversibel untuk demensia,” tulis para pakar Noll Campbell, Richard Holden dan Dr. Malaz Boustani dalam editorial yang diterbitkan bersamaan dengan studi baru di JAMA Internal Medicine.

“Selain itu, percobaan pencabutan resep dapat mengevaluasi potensi bahaya dari menghentikan pengobatan antikolinergik, seperti memburuknya gejala depresi, inkontinensia, atau rasa sakit, serta potensi peningkatan yang tidak diinginkan dalam pemanfaatan layanan kesehatan akut,” tulis Campbell, Holden, dan Boustani dalam editorialnya.

“Dengan sedikit bukti sebab-akibat, langkah-langkah selanjutnya untuk penelitian tentang obat antikolinergik pada orang dewasa yang lebih tua harus dapat memperbaiki pengetahuan tentang pengaruh pemberian resep intervensi pada hasil kognitif dan hasil keselamatan penting seperti kontrol gejala, kualitas hidup, dan pemanfaatan layanan kesehatan,” tulis mereka. “Kami mengusulkan penelitian yang mengutamakan riset sebagai prioritas tinggi,” tambahnya.

Telah lama diketahui bahwa agen antikolinergik dan masalah kebingungan atau memori saling terkait, tetapi studi baru ini menyelidiki hubungan tersebut selama jangka waktu yang lama, kata Dr. Douglas Scharre, direktur divisi neurologi kognitif di Ohio State University Wexner Medical Center di Columbus, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Dia mendorong setiap pasien yang mungkin memiliki pertanyaan tentang hubungan ini untuk berbicara dengan dokter mereka. “Saya menghabiskan banyak waktu di klinik gangguan memori, melihat pasien geriatri dan melepaskan pengobatan seseorang, kebanyakan yang memiliki sifat antikolinergik, dan sering kali ada obat lain di luar sana yang memiliki dampak antikolinergik yang lebih sedikit atau non antikolinergik yang mungkin bekerja,” kata Scharre.

“Beberapa obat yang mereka daftarkan dalam penelitian ini mungkin sangat penting dan layak dilakukan oleh orang yang mengalami kejang atau psikosis mereka, dan ini merupakan diskusi manfaat risiko,” jelas dia. (fay)

TAGS

Baca Juga


Berita Terkait

Lifestyle / Pilih Telur Ayam yang Aman, Coba Pahami ini

Lifestyle / Solusi Diet Tepat dan Hidup Sehat

Lifestyle / Waspada Cegukan Berlebih, Pertanda Penyakit Serius

Nasional / Kebakaran Hutan di Kalteng Meluas

Lifestyle / Kulit Berjerawat Baiknya Jangan di-‘Filler’

Lifestyle / Makan Mi Instan Tak Baik Buat Kesehatan, Ini Alasannya


Baca Juga !.