Nasional

Media Massa Jadi Garda Terdepan Penggunaan Bahasa Indonesia

Redaktur: Ali Rahman
Media Massa Jadi Garda Terdepan Penggunaan Bahasa Indonesia - Nasional

Kepala Bidang Pemasyarakatan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Ovi Soviaty Rivay memberikan buku Serial Penyuluhan Bahasa Indonesia kepada Pemimpin Redaksi INDOPOS Ariyanto, Selasa (25/6/2019).

indopos.co.id - Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjadikan insan pers sebagai sasaran dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebab, kata yang tercantum dalam kalimat suatu berita yang salah, bisa jadi benar karena digunakan berkali-kali.

’’Insan media massa jadi sasaran kami karena media massa itu garda terdepan penggunaan bahasa dan mempunyai intensitas berbahasa yang sangat tinggi,’’ ujar Kepala Bidang Pemasyarakatan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Ovi Soviaty Rivay pada saat berdiskusi dengan awak redaksi di Gedung INDOPOS di Jalan Kebayoran Lama No 72, Jakarta Barat, Selasa (25/6/2019).
Ovi mencontohkan kata sukses. Saat ini media massa menerapkan dua ragam kata berbeda. Satu kata menyukseskan dan lainnya kata mensukseskan.

’’Kalau dalam kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, itu menyukseskan. Tapi karena media massa berkali-kali memakai kata mensukseskan, ini menjadi sebuah pembenaran di masyarakat,’’ papar Ovi, sapaan akrabnya.

Ovi menjelaskan, pada kata sapu, media tetap menggunakan kata kerja menyapu. ’’Berarti huruf S-nya hilang. Tapi mengapa pada kata sukses, sekarang muncul lagi huruf S-nya? Karena kata mensukseskan itu yang tampak oleh pembaca atau masyarakat berulang-ulang sehingga dianggap ini yang benar,’’ terangnya.

Karena itu, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan merasa perlu menyosialisasikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam Undang-Undang No 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik disebutkan bahwa Bahasa Indonesia sebagaimana bunyi ayat 1, Pasal 25, salah satunya berfungsi sebagai bahasa resmi media massa.

’’Ini saling menguatkan dengan UU No 40 Tahun 2009 Tentang Pers bahwa tujuan media massa adalah menginformasi, mendidik, dan menghibur.

Tapi, sambung Ovi, bukan berarti media masa tidak boleh memakai bahasa asing atau bahasa daerah. Seperti media massa cetak Jakarta Post yang menggunakan bahasa Inggris, lalu majalah Mangle dan Jayabaya dengan bahasa Jawa.

’’Ini silakan saja. Ini sesuai motto Badan Bahasa, yaitu utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing. Jadi kalau media massa itu punya tujuan khusus silakan jalan terus. Yang tidak campur-campur, tapi tidak jelas dalam satu bahasanya,’’ ulasnya.

Lebih jauh dicontohkan, media massa cetak biasanya beralasan karena keterbatasan kolom dan menggunakan mesin pemenggal, sehingga sering tidak sesuai kaidah.

’’Ambil contoh kata menggambar. Pemenggalan kata oleh mesin di akhir kalimat menjadi menggamba, dan huruf R-nya masuk di baris kalimat di bawahnya. Ini tentu menyalahi kaidah kata menggambar. Bagi penulis atau jurnalis, memang tidak masalah. Tapi ketika membaca itu terus menerus, akhirnya jadi mengganggu. Apalagi sudah terang menyalahi kaidah bahasa,’’ pungkas Ovi.

Ovi datang bersama Penyuluh Senior Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Maryanto, Nur Hayati, dan Martha Manurung. Mereka disambut Pemimpin Redaksi INDOPOS Ariyanto, Wakil Pemimpin Redaksi Max Wangge, dan para Redaktur Harian INDOPOS dan indopos.co.id.

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.