Nasional

Kandidat Ketum Golkar Bertambah

Redaktur: Riznal Faisal
Kandidat Ketum Golkar Bertambah - Nasional

Agus Gumiwang (kiri) dan Indra Bambang Utoyo (kanan)

indopos.co.id - Calon ketua umum Partai Golkar semakin bertambah. Airlangga Hartarto mendapat mendapat pesaing baru. Mereka yakni, Indra Bambang Utoyo dan Agus Gumiwang Kartasasmita.

Inisiator Generasi Muda Partai Golkar, Almanzo Bonara mengatakan, sebagai generasi muda Golkar menginginkan agar musyawarah nasional (Munas) Partai Golkar nanti harus melahirkan solusi untuk memecahkan kebuntuan yang selama ini dihadapi oleh partai berlambang pohon beringin.

Partai Golkar, kata dia, sudah mengalami berbagai prahara mulai dari persoalan konflik internal, bahkan kasus korupsi yang melilit beberapa kader termasuk petinggi partai. Hal ini yang menjadi salah satu faktor penyebab lemahnya jalan konsolidasi partai, hingga berujung pada penurunan perolehan suara Partai Golkar dalam Pemilu 2019.

"Saya kira, sudah waktunya Golkar harus kembali menujukan karakternya yang khas dalam memainkan isu-isu besar kebangsaan," jelasnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Almanzo menuturkan, selama ini Golkar terhanyut oleh gelombang masalah, yang cenderung merusak citra partai dan membuat partai ini kehilangan jati dirinya. Maka, jelang Munas Golkar, kepemimpinan partai yang kuat dan bersih dari persoalan korupsi, itulah yang harus menjadi urgensitas utama bagi partai Golkar saat ini. Agar siap menghadapi persaingan politik selama lima tahun ke depan.

Sebab itu, dia menilai, Munas harus menjadi ajang untuk mereposisi kembali langkah partai. Salah satunya, adalah dengan menyiapkan calon kepemimpinan partai (calon Ketum) yang tidak mempunyai rekam jejak permasalahan hukum, termasuk tidak terindikasi persoalan korupsi.

"Ini adalah salah satu syarat terpenting yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, agar kedepannya kepemimpinan partai dapat bergerak tanpa ada sanderaan hukum. Jika itu terjadi, maka Golkar dapat melakukan langkah-langkah transformatif yang selama ini diharapkan oleh masyarakat," ucap Almanzo lagi.

Golkar saat ini, tambah dia, memiliki banyak stok kader yang punya kapasitas kepemimpinan yang mempuni, punya track record bersih, punya pemahamam kebangsaan yang kuat, bahkan punya pemahaman internasional yang andal (geo-politik, geo-strategis).

"Di antaranya, Indra Bambang Utoyo, Agus Gumiwang Kartasasmita. Kami mendukung keduanya hadir dalam kontestasi Munas, maka akan menunjukkan kepada publik, bahwa Golkar masih menjadi lumbung kader terbaik bagi bangsa," usulnya.

Dia berharap, Munas Partai Golkar dapat digelar secara demokratis berdasarkan mekanisme partai, dan tentunya harus melahirkan kepemimpinan yang benar-benar fokus membesarkan partai serta dapat mengembalikan martabat dan kejayaan Partai Golkar. Dan yang terpenting adalah kepemimpinan Partai Golkar harus mampu mengambil peran strategis sebagai jangkar kebangsaan dalam mengawal pemerintahan Jokowi-Ma'aruf ke depan.

Senior Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) pun setuju bila Munas Golkar untuk memilih ketua umum. Wakil Presiden RI itu juga mengusulkan, Partai Golkar untuk melakukan Munas secara normal untuk proses pemilihan ketua umum partai itu.

"Begini, sudah capek Munas di Golkar. Jadi normal saja lah, toh sekarang sisa enam bulan. Itu Desember nanti akan Munas biasa, tunggu lah, nanti enam bulan," kata JK ditemui di Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Menurut mantan ketua umum Partai Golkar itu, jika partai tersebut mengadakan Munaslub, maka akan memakan biaya penyelenggaraan yang besar.

JK menjelaskan, sejumlah dewan pimpinan daerah Partai Golkar juga setuju untuk pemilihan ketua umum melalui Munas Golkar, bukan Munas luar biasa. Dia pun menyerahkan keputusan tokoh yang akan diangkat sebagai ketua umum Partai Golkar kepada seluruh kader partai.

Menurut JK, dua tokoh partai berlambang pohon beringin, yakni Bambang Soesatyo dan Airlangga Hartarto telah menemui dirinya. "Ya dua-duanya ketemu, datang. Tapi, saya lebih condong untuk menunggu yang lebih hak," imbuhnya.

Sementara, Pelaksana tugas Ketua DPD Partai Golkar Sumatera Utara, Ahmad Doli Kurnia Tandjung menuturkan, sebagaimana diatur dalam AD/ART Partai Golkar bahwa periodesasi satu kepemimpinan/kepengurusan DPP adalah lima tahun. Tahun 2019 adalah akhir dari periodesasi DPP Partai Golkar periode 2014-2019, tepatnya bulan Desember. Sebab, Munas sebelumnya digelar Desember 2014 di Bali.

"Munas yang akan datang itu harus menjadi media untuk melakukan evaluasi secara sungguh-sungguh terhadap apa yang dialami partai selama satu periode ke belakang yang sangat penuh dengan dinamika dan cobaan, termasuk terkait hasil pemilu 2019," kata Doli di Jakarta, Selasa (25/6).

Evaluasi secara komprehensif, lanjut dia, melibatkan bukan saja DPP sebagai penanggung jawab tertinggi, tetapi juga tanggung jawab dari seluruh stakeholder partai, para pimpinan DPD provinsi dan kabupaten/kota, juga dari para Caleg.

"Jadi Munas jangan dan bukan hanya melulu soal kontestasi perebutan jabatan ketua umum saja. Harus dibangun kesadaran baru untuk tidak mengulangi apa yang terjadi dalam lima tahun terakhir. Serta mensyukuri, bahwa dengan situasi sulit yang dialami itu, Golkar masih bisa meraih hasil 85 kursi, jumlah kursi kedua terbesar di DPR," tuturnya.

Doli berharap, dalam kontestasi perebutan jabatan ketua umum, para calon seharusnya lebih banyak mengedepankan penyampaian visi baru, misi baru, dan program baru untuk memenangkan Golkar di Pemilu 2024.

"Bukan terjebak dan mundur melihat ke belakang dengan polemik mencari-cari salah orang per orang. Dengan catatan seperti itu, siapa saja dipersilakan untuk maju menjadi calon ketua umum," katanya.

Dia mendukung, ketua umum Airlangga yang telah menyampaikan visi, gagasan dan agenda-agenda pemenangan Golkar hingga di Pemilu 2024. "Jadi bagi DPD Partai Golkar Sumatera Utara, kami berterima kasih dan Airlangga layak untuk didukung kembali untuk menjabat Ketua Umum dalam satu periode hingga lima tahun mendatang," ujarnya.

Sementara, kata dia, Bambang Soesatyo atau siapa pun nanti yang akan ikut mencalonkan diri juga sebagai calon ketua umum dipersilakan untuk menyampaikan gagasan alternatif ke depan untuk dikontestasikan. "Jangan bicara kembali ke belakang, apalagi menyerang orang per orang. Itu akan kontraproduktif buat Golkar ke depan," tutupnya. (aen)

 

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.