Sistem tak Efektif 648 Kursi SMP Kosong, Dindik Kota Bekasi Buka PPDB Tahap II

indopos.co.id – Seleksi dan persyaratan yang terlalu ketat, membuat proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online tahun 2019 untuk SMP negeri di Kota Bekasi menyisakan banyak kursi kosong. Usai penutupan PPDB, Rabu (3/7/2019), masih tersisa 648 kursi kosong dari total kuota 14.544 kursi dari 56 SMP negeri.

Guna memenuhi kuota tersebut, Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Bekasi membuka kembali PPDB tahap kedua. ”Masih ada kursi kosong di SMP negeri. Jumlahnya ratusan. Jadi akan dibuka kembali PPDB online tahap kedua pada Senin (8/7/2019),” terang Kasi SMP pada Dindik Kota Bekasi Mawardi, Kamis (4/7/2019).

Mawardi menambahkan, dari 648 kursi kosong yang tersisa pada akhir pendaftaran PPDB, yang terbanyak kosong adalah jalur perpindahan orang tua. Jalur ini menyisakan 229 kursi. “Dari 269 kuota yang dialokasikan, hanya 40 pendaftar yang mendaftar. Secara otomatis para pendaftar diterima di sekolah tujuan,” katanya.

Kemudian untuk jalur hafiz Alquran usai pendaftaran terakhir Rabu (3/7/2019), kata Mawardi juga, telah menyisakan 195 kursi kosong. Padahal kursi yang disediakan 269 kursi. Sebab, yang diterima hanya 74 siswa. Lalu, jalur afirmasi yang menyisakan 178 kursi kosong dari alokasi awal 1.424 kursi.

”Sebenarnya pendaftar jalur afirmasi cukup banyak, yakni mencapai 1.486 orang. Namun hanya 1.246 orang yang diterima di sekolah tujuan, sisanya gagal. Dalam waktu bersamaan ada sejumlah sekolah yang tidak terpenuhi kuota jalur afirmasinya. Saat ditotal, kursi kosong jalur afirmasi ini mencapai 178 kursi,” katanya.

Selanjutnya, kata Mawardi juga, jalur seleksi prestasi nonakademik pun menyisakan 46 kursi kosong. Meski tersedia 130 kursi, tapi pendaftarnya hanya 99 orang. Pendaftar tak semuanya diterima, karena bersaing dengan pendaftar lain dengan sekolah tujuan yang sama. Hanya 84 orang pendaftar yang diterima dan sisanya dinyatakan gagal.

Rencanya, untuk pendaftaran PPDB tahap kedua, akan diubah metode penerimaan calon siswa. Dindik akan menerapkan sistem penerimaan lewat jalur zonasi radius murni. Sehingga calon peserta didik yang namanya sempat tersingkir di sekolah pilihan pertama bisa mencoba kembali di sekolah tujuannya.

”Bagi murid yang tidak lolos di sekolah pilihan pertama kan, dialihkan ke sekolah pilihan kedua. Nanti saat pendaftaran tahap kedua, mereka bisa saja kembali mengikuti pilihan sekolah pertama tanpa menggugurkan namanya di sekolah pilihan kedua,” katanya.

Sementara itu, Kobul Imam, pengamat pendidikan dari LSM Sapulidi mengatakan banyak kursi kosong di SMP negeri disebabkan adanya sistim zonasi yang tidak efektif. Bahkan, beberapa hari lalu sempat terjadi protes dari calon orangtua siswa. ”Kalau sistim yang dipakai bagus, tidak mungkin banyak tersisa kuota kursi,” terangnya.

Sementara itu, salah seorang calon orang tua siswa, Evi mengaku harus merelakan anaknya bernama Rayyan gagal masuk ke SMPN 12. Sebab, anaknya sempat terliminasi saat pendaftaran awal. ”Rumah saya jaraknya dengan sekolah 1,8 kilometer. Saya pikir aman, ternyata banyak siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah,” kata warga Jatiasih ini.

Evi berharap dalam penerimaan PPDB tahap kedua, anaknya bisa diterima di SMPN 12. Meski rumahnya dekat dengan SMPN 35, tapi dia lebih senang sang anak bersekolah di SMPN 12. ”Kenapa tidak memilih SMPN 35, sekolahnya masih baru dan belum memiliki gedung sendiri. Sekolah itu masih numpang dengan gedung SD,” tandasnya. (dny)

Komentar telah ditutup.