Headline

Efek Kemarau, Merambah ke Harga Cabai Melonjak

Redaktur: Juni Armanto
Efek Kemarau, Merambah ke Harga Cabai Melonjak - Headline

KOMODITI - Pedagang menata cabai merah di Pasar Peunayung, Banda Aceh, Aceh, Rabu (19/6/2019). Foto: Dok/ANTARA

indopos.co.id - Sayur-mayur merupakan komoditas utama yang dijual di pasar-pasar tradisional. Dinamika perkembangan harganya selalu menjadi perhatian. Komoditas yang satu ini memiliki banyak tuntutan. Penanganan pascapanen yang tidak baik dan distribusi yang tidak efisien sering kali menyebabkan produk mengalami penurunan mutu, busuk, layu, tidak tahan lama disimpan, dan tidak higienis. Di sisi lain, iklim yang tidak menentu turut memengaruhi hasil kualitas komoditas itu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui situs resmi menyebutkan April adalah awal kemarau 2019 dan Indonesia tahun ini akan menghadapi fenomena iklim El Nino sebesar 55 sampai 60 persen, kemudian mulai Juli hingga September 2019 iklim diprediksi lebih kering.

Mengantisipasi kekeringan, irigasi adalah cara yang paling cocok untuk mengatasinya. Jika sudah ada irigasi, pola penanaman petani menjadi faktor penting dalam mengendalikan produksi tanaman pangan sehingga harga di pasar tetap stabil.

Bicara soal sayur-mayur, Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur tidak bisa dilupakan. Pasar yang mempunyai luas 14,7 hektare dan menampung lebih dari 4.000 pedagang ini merupakan pusat agrobisnis sayur-mayur, buah-buahan, rempah, dan ubi terbesar di Jakarta.

Menurut catatan harga komoditas di Pasar Induk Kramat Jati, rata-rata harga sayur-mayur selama periode Juni sampai Juli 2019 mengalami penaikan, di antaranya cabai rawit merah dan hijau, timun, terong, kentang, kol, dan sawi hijau.

Komoditas cabai rawit mengalami kenaikan paling tinggi dibandingkan sayur-mayur lain, yaitu sekitar 40 hingga 45 persen pada periode Juni hingga Juli 2019.

Untuk cabai rawit merah, misalnya, naik dari Rp 20 ribu per kilogram menjadi Rp 43 ribu/kg, meningkat 40,90 persen. Sementara harga cabai rawit hijau naik 46 persen menjadi Rp46 ribu/kg dari sebelumnya Rp 21 ribu/kg.

"Kenaikan sayur-mayur bervariasi, secara umum kenaikannya sekitar lima persen hingga 45 persen, cabai paling tinggi kenaikannya," papar Staf Usaha dan Pengembangan Pasar Induk Kramat Jati Wahyu Ibrahim.

Menurut dia, musim kemarau yang sedang terjadi di beberapa kawasan pemasok menjadi salah satu faktor yang membuat harga cabai naik dalam beberapa bulan terakhir.
  
Pasokan Menurun

Berdasarkan catatan harga komoditas di Pasar Induk Kramat Jati, pasokan cabai cenderung menurun. Cabai rawit merah, misalnya, pasokannya turun dari 54 ton pada pertengahan Juni menjadi 39 ton pada 8 Juli.

Pada periode sama, cabai merah besar turun dari 9 ton menjadi 7 ton. Cabai rawit hijau juga menurun dari 13 ton menjadi 9 ton. Hanya cabai merah keriting yang pasokannya meningkat dari 29 ton menjadi 40 ton.

Selain karena kondisi kemarau, kata Wahyu Ibrahim, penurunan pasokan juga disebabkan oleh produktivitas hasil panen yang lebih rendah daripada kondisi normal.

Pedagang cabai di Pasar Induk Kramat Jati Dwi meminta pemerintah mengantisipasi kenaikan harga cabai seiring dengan jumlah pasokan dari petani yang mulai menurun.

Harga cabai mulai merangkak naik dalam 2 bulan terakhir karena produksi petani menurun akibat kemarau. Hal itu harus diantisipasi dari sekarang. Kalau tidak, menurut Dwi, di akhir tahun nanti bakal melambung lagi seperti kejadian pada tahun 2016 yang menembus Rp 125 ribu/kg .

Menurut dia, pemerintah harus dapat mengatur pola tanam petani dengan mengatur panen cabai setiap 3 bulan sekali. Misalnya, agar panen November s.d. Desember, petani menanam cabai rawit pada bulan ini atau Agustus sampai September.

"Jadi, setiap bulannya harga bisa terkontrol. Jangan nanti kalau naik signifikan, pedagang yang disalahkan," ucapnya.

Pengunjung pasar Rina (45) menyatakan sepakat mengenai pemerintah harus mengantisipasi kenaikan cabai ke depannya. Cabai mulai naik harganya, harga makanan jual juga bakal naik nantinya.

"Pemerintah harus antisipasi," ujar Rina yang mengaku memiliki warung makan sederhana.

Cabai saat ini memang tengah pedas. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat cabai merah merupakan salah satu pemicu inflasi pada bulan Juni 2019. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan bahwa kenaikan harga cabai disebabkan oleh cuaca yang kurang mendukung.

BPS juga mencatat kelompok bahan makanan di DKI Jakarta mengalami inflasi 1,3 persen, salah satu yang memberi andil terhadap inflasi adalah subkelompok sayur-mayur, cabai termasuk di dalamnya, yaitu sebesar 4,75 persen.

Sementara itu, harga komoditas cabai di pasar tradisional Kota Solo makin perkasa seiring dengan gagal panen di sejumlah daerah.

’’Cabai rawit merah hari ini naik Rp 5.000/kg, dari Rp 50 ribu/kg menjadi Rp 55 ribu/kg,’’ kata salah satu pedagang Samini di Pasar Gede Solo, Selasa.

Sedangkan untuk cabai merah besar terakhir kali mengalami kenaikan sekitar satu minggu lalu dari Rp 54 ribu/kg menjadi Rp 55 ribu/kg. Untuk cabai merah keriting naik dari Rp 55 ribu/kg menjadi Rp 60 ribu/kg.

"Untuk cabai hijau besar naik dari Rp 20 ribu - 25 ribu/kg menjadi Rp 30 ribu/kg dan cabai rawit hijau kenaikannya paling besar dari biasanya Rp13 ribu -15 ribu/kg menjadi Rp 50 ribu/kg," katanya.

Dia mengatakan cabai yang dijualnya didatangkan dari Boyolali. Dengan kenaikan tersebut, pembelian juga mengalami penurunan.

"Penurunannya tidak banyak, dari biasanya beli 1 kg jadi setengah kg. Tetapi kebanyakan pembeli lebih memilih harga mahal daripada barangnya tidak ada," katanya.

Untuk komoditas lain, yaitu bawang merah harganya stabil Rp 30 ribu/kg dan bawang putih Rp 35 ribu/kg.

Sementara itu, harga daging ayam juga mengalami kenaikan dari Rp30.000/kg menjadi Rp32.000/kg. Salah satu pedagang Haryanti mengatakan kenaikan harga daging ayam ini mengikuti harga ayam hidup dari tingkat peternak.

"Sejak ada bagi ayam itu kan harga ayam di peternak naik, dari Rp 14 ribu/kg hidup menjadi Rp 20 ribu/kg hidup," katanya.

Ia berharap harga ayam hidup bisa kembali normal di angka Rp 18 ribu/kg. Dengan demikian, pedagang bisa menjual daging ayam dengan harga Rp30.000/kg sesuai dengan kondisi normal.

Selanjutnya, untuk komoditas telur ayam turun dari Rp24.000/kg menjadi Rp23.000/kg, selanjutnya untuk minyak goreng stabil di harga Rp12.000/liter, gula pasir Rp 13 ribu/kg, dan beras di harga Rp 11 ribu - 13 ribu/kg. (ant)

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / Si Kembar Siam Adam dan Malik Sukses Dipisahkan

Daerah / 2019, Kejahatan pada Anak Diprediksi Meningkat

Hukum / Saksi Tambahan PPP Ditolak MK

Internasional / Tiongkok Tentang Keras Sanksi AS terhadap Perusahaan Energi

Megapolitan / RSUD Koja Sediakan Aplikasi untuk Lansia dan Disabilitas

Megapolitan / Sungai Cileungsi Tercemar Berat, Bupati Bogor Berang


Baca Juga !.