Daerah

Sekprov Sulsel Dinilai Tak Berkompeten, Pengamat: Rekrutmen Sarat KKN

Redaktur: Ali Rahman
Sekprov Sulsel Dinilai Tak Berkompeten, Pengamat: Rekrutmen Sarat KKN - Daerah

kantor dprd provinsi sulsel

indopos.co.id - Pengamat Pemerintahan dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Andi Lukman Irwan menilai Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulawesi Selatan (Sulsel), Abdul Hayat Gani sangat tidak berkompeten dan tidak paham dengan urusan tata administrasi pemerintahan.

Itu diungkapkan Andi Lukman menanggapi reaksi Sekprov Sumsel yang menyalahkan Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman terkait pengangkatan pegawai dalam sidang hak angket DPRD Sulsel beberapa waktu lalu.

Menurutnya, apa yang dibeberkan Sekprov Sumsel menunjukkan kualitasnya yang tidak becus dalam memahami tanggung jawab administrasi pemerintahan, khususnya dalam pengangkatan pegawai.

"Padahal dalam PP nomor 33 tahun 2018 tentang Tugas dan Wewenang Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat, sangat tegas disebutkan, dalam menjalankan tugas dan wewenang gubernur dibantu oleh perangkat daerah yang dipimpin langsung oleh sekprov," jelas Lukman kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Kamis (11/7/2018)

Andi Lukman menyebutkan, penyebab semua ini karena seluruh proses seleksi dan pengangkatan Sekprov Sulsel ini sudah diawali dengan bau KKN. Andi Lukman pernah mengatakan, prinsip kekeluargaan dalam pemerintahan tak boleh terjadi, jangan ada sistem KKN dalam pengangkatan pejabat, apalagi seorang sekprov.

Andi Lukman memang pernah menyoroti sistem dan tata cara perekrutan timsel serta keputusan Gubernur Sumsel, Nurdin Abdullah atas tiga nama calon Sekprov Sulsel yang diduga banyak menyimpan kejanggalan.

Berdasarkan uji kompetensi yang dilaksanakan tim independen, nama calon Sekprov Sulsel yang berhasil lolos pada lelang jabatan, skor tertinggi diraih Kepala Bappeda Sulsel, Jufri Rahman yaitu 87,50, Irman YL 85,00, Iqbal 82,50, Marjani 70,00, Baharuddin 67,50, sementara Abdul Hayat Gani hanya memperoleh 60,00.

Kejanggalan mulai muncul dalam tahap penilaian penulisan makalah yang dilakukan tim sahabat yang dipimpin Prof Gagarin, di mana skor tertinggi justru Abdul Hayat dengan jumlah 89,64, menyusul Zubakhrum 87,20 dan Jufri 83,89.

Bila skor tersebut diakumulasi maka poin tertinggi bakal diraih oleh Abdul Hayat. Sebagaimana diketahui, penilaian makalah sangat berpotensi subyektif. Di sinilah kemungkinan ‘kongkalikong’ dan nepotisme mulai bermain.

Menurutnya, tim seleksi yang terdiri atas unsur akademisi dan profesional harusnya bekerja secara independen dan menjaga integritas mereka sehingga tidak diintervensi serta disusupi oleh pihak luar yang berkepentingan secara politis.

Keterbukaan dan keadilan dalam proses-proses seleksi pengisian jabatan dalam pemerintahannya harus sesuai aturan, yakni tidak mengakomodir kekeluargaan.

“Nah, kalau sudah begini, hasilnya coba kita lihat, yang terjadi bila ada kemelut di pemerintahan, yang dilakukan bukannya pasang badan dan bertanggungjawab, malah melempar kesalahan dan hanya berusaha menyelamatkan diri," pungkasnya. (srv)

Baca Juga


Berita Terkait


Baca Juga !.