Lifestyle

KLB Hepatitis A di Pacitan, Inilah Cara Pencegahannya

Redaktur: Folber Siallagan
KLB Hepatitis A di Pacitan, Inilah Cara Pencegahannya - Lifestyle

indopos.co.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia saat ini sedang gencar melakukan pengendalian dan edukasi terhadap penyakit hepatitis di Indonesia.
Di lapangan, realisasi program Kemenkes dalam mengurangi kesakitan dan kematian akibat virus Hepatitis yaitu dengan meningkatkan kepedulian, kemitraan dan mobilisasi sumber dana.

Akhir-akhir ini, banyak ditemukan di Kabupaten Pacitan pasien terkena Hepatitis A. Penyakit Hepatitis A itu sendiri ditularkan melalui makanan-minuman yang tercemar, terutama tinja bagi penderita Hepatitis A. Penularan seperti ini disebut penularan fecal-oral. Atas saran Kementerian Kesehatan, Bupati Pacitan Indartato menetapkan keadaan ini sebagai Kejadian Luar Biasa atau KLB pada 25 Juni 2019 lalu.

Pada KLB Hepatitis A yang terjadi di Pacitan, Jawa Timur, berdasarkan data pada 8 Juli 2019 , terdapat 1.102 kasus di Pacitan, namun tidak ada kematian.

Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Anung Sugihantono, M. Kes., upaya yang dilakukan Kemenkes dan Pemda setempat terus ditingkatkan. “Di Kabupaten Pacitan sampai tanggal 8 Juli 2019 pukul 8 pagi, jumlah kasus Hepatitis ada 1.102 kasus. Mudah - mudahan tidak ada penambahan kasus,” kata Anung.

Menurutnya, jika dilihat kejadian dari tanggal 28 Mei lalu di RS Sudimoro masih ada potensi penularan jika masyarakat tidak melakukan upaya yang sudah digariskan.

Dalam kasus yang tersebar terdapat di 9 wilayah kerja puskesmas yaitu; Puskesmas Sudimoro (583 kasus), Puskesmas Sukerejo (116 kasus), Puskesmas Ngadirojo (192 kasus ), Puskesmas Wonokarto (63 kasus), Puskesmas Tulakan (73 kasus ), Puskesmas Tegalombo (6 kasus), Puskesmas Bubakan (29 kasus ), Puskesmas Tronojoyo (6 kasus) dan Puskesmas Arjosari (34 kasus).

Selain di kabupaten Pacitan, dilaporkan juga adanya penderita Hepatitis A di Kabupaten Trenggalek berjumlah 174 orang. Kasus Hepatitis A di kabupaten Trenggalek ini muncul bersamaan dengan kasus Hepatitis A di Kabupaten Pacitan yaitu pada bulan Mei 2019 lalu. Jumlah kasus Hepatitis A di Kabupaten Trenggalek juga meningkat pada periode Mei - Juni 2019. “Kedua kabupaten ini lokasinya berdekatan,” terangnya.

Di Kabupaten Pacitan telah dilakukan penyehatan lingkungan untuk mencegah penyebaran virus Hepatitis A dengan pembagian Lysol pada penderita dan keluarganya. Tim Kemenkes melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang pencegahan dan pengendalian Hepatitis A serta pentingnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan individu, rumah tangga, serta masyarakat, menyiapkan fasyankes dengan sarana yang diperlukan untuk memberikan pelayanan pada penderita Hepatitis A, memperluas akses masyarakat terhadap perawatan dan pengobatan dengan membuka Pos Kesehatan.

Kenali Gejala Hepatitis A

Masyarakat pada umumnya perlu mengetahui dan atau mengenali gejala Hepatitis A. Sehingga hal tersebut, harus dilakukan upaya cepat pemeriksaan ke Puskesmas terdekat dan atau Rumah Sakit.

Umumnya penderita Hepatitis A menunjukkan gejala dan tanda demam, rasa lelah, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, mata berwarna kuning, urin berwarna seperti teh pekat. “Masa inkubasi atau perkembangan penyakit Hepatitis A dalam tubuh selama 15-50 hari (rata-rata 28 hari), sementara masa penyembuhannya sekitar 2 minggu, bahkan bisa kurang atau lebih dari 2 minggu,” jelas Anung.

Sementara, untuk Hepatitis A tidak ada penanganan khusus karena pemulihan hanya bergantung pada sistem kekebalan tubuh yang kebal terhadap virus dengan sendirinya. Yang bisa dilakukan adalah langkah pengobatan untuk meringankan gejala yang dialami yaitu: istirahat total, penggunaan obat pereda nyeri, demam seperti parasetamol dan ibuprofen sesuai resep dokter, hindari makanan berlemak, makan dengan porsi sedikit.

Anung mengatakan, triger utama terjadinya KLB Hepatitis A di Pacitan dan sekitar berkaitan dengan beberapa faktor. Misalnya, sumber air bersih berkurang. Meski Pacitan daerah yang menetapkan Open Defication Free (ODF), faktanya di sana ada sumber air setelah dilakukan penyelidikan air sungai tercemar bakteri Escherichia coli.

“Fakta yang ada sumber air tercemar bakteri e-coli, kemudian ada kebiasaan masyarakat yang sudah lama. Data yang ada, kemarin ada hajatan, takjil, karena masih puasa waktu itu dan dikonsumsi bersama-sama dari cincau atau janggelan, itu menjadi tercemar potensinya. Kami juga terima data dari Trenggalek sampai saat ini ada 174 kasus di wilayah kerja Puskesmas Punggul berbatasan dengan Sudimoro. Di sana ada sungai yang menjadi satu kesatuan ekosistem. Kalau kita melihat itu di Desa Sukorejo, dan wilayahnya cepat tersebar,” tandasnya.

Kata Anung, Hepatitis A dan E sering ditularkan secara fecal oral, menular melalui makanan dan kotoran, dan belum ada vaksinnya.

Hepatitis A biasanya berhubungan dengan perilaku hidup bersih dan sehat, bersifat akut, bisa sembuh total. Keluhannya pada gangguan pencernaan, mata, kuku kuning, mual, kencing seperti air teh dan lemas pusing nafsu makan berkurang. “Kita bisa mengetahui melalui tes laboraturium. Pengobatan itu dilakukan sampai kasusnya bisa dihilangkan di komunitas,” urainya.

Edukasi Hidup Bersih

Edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada masyarakat umum sangat penting. Hal tersebut (PHBS) yang sejauh ini telah dilakukan oleh Kemenkes RI. Terpenting dalam pengendalian Hepatitis A, B, C, D dan E.

Pencegahan secara umum, lanjut Anung, berawal dari perilaku yang sebenarnya sederhana yaitu cuci makan sebelum makan dan cuci sabun usai buang air besar. “Jika ingin konsumsi makanan mentah, makanan harus dicuci dengan benar,” bebernya.

Tentunya, sambung Anung, kita harus menjaga daya tahan tubuh kita yang telah menular. Yang harus kita cegah, jangan buang air besar sembarangan. “Daya tahan tubuh ini menjadi sangat penting. Kalau kata Ibu Menteri, istirahat yang cukup. Pastikan makanan terlindungi dari kontak karena virus itu,” ujarnya.

Anung menambahkan, untuk mengetahui lebih dini, pertama ketahui gejala umumnya, harus diketahui dan cek kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang ada karena gejala yang muncul tadi akan dilihat, pemeriksaan secara fisik. “Jika matanya terlihat kuning sudah kelihatan dan ada pembengkakan di hati. Jika oleh dokter diraba dibawah tulang rusuk akan terasa, dipastikan dengan dan ada tes cepat Laboraturium, kini sudah bisa diakses masyarakat. Untuk melakukan pemeriksaan itu,” sambungnya.

Namun demikian, tetap harus hati-hati, hasilnya jika positif jangan dibuang sembarangan karena akan menyebar. “Tentunya edukasi harus dilakukan kepada masyarakat,” paparnya.
Pemerintah, dalam hal ini Kemenkes, memang memiliki Sistem Kewaspadaan daan Respon

(SKDR). Pada waktu ditetapkan KLB atau sebelumnya, Kemenkes sudah mengirimkan tim gerak cepat mengambil sample air di 6 titik, sample darah dan melakukan edukasi memastikan pelayanannya, obatnya, dan terakhir kita melakukan uji sample air yang ada di Pacitan untuk melakukan mekanisme pencegahan.

Pada Hari Hepatitis Dunia pada tanggal 28 Juli, kejadian di Pacitan dan Trenggalek menjadi perhatian masyarakat. “Jadi kita mendorong akan melakukan penambahan pengetahuan, pencegahan, mendorong cakupan imunisasi Hepatitis B. Program rutin di tingkat nasional, ada kegiatan seminar publik awarness, pelayanan kesehatan dan kegiatan bersama komunitas membangun dalam upaya pencegahan Hepatitis,” tegasnya. (fol/*)

9 wilayah kerja puskesmas


1. Puskesmas Sudimoro (583 kasus)
2. Puskesmas Sukerejo (116 kasus)
3. Puskesmas Ngadirojo (192 kasus )
4. Puskesmas Wonokarto (63 kasus)
5. Puskesmas Tulakan (73 kasus )
6. Puskesmas Tegalombo (6 kasus)
7. Puskesmas Bubakan (29 kasus )
8. Puskesmas Tronojoyo (6 kasus)
9. Puskesmas Arjosari (34 kasus).


Cegah Hepatisi A dengan 10 Tips Berikut ini

Pencegahan Hepatitis A dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS, termasuk cuci tangan pakai sabun, penyediaan air bersih dan air minum yang cukup, serta penyediaan dan pemanfaatan sarana higiene sanitasi. Adapun cara pencegahan yang dapat kita lakukan seperti :

1. Selalu cuci tangan pakai sabun sebelum masak, sebelum makan dan setelah buang air besar.

2. Selalu cuci alat-alat masak dan alat-alat makan dengan air bersih.

3. Dapur harus selalu bersih, sampah padat dan cair terkelola baik, tidak ada binatang, serangga atau binatang lainnya.

4. Gunakan air yang bersih dan bahan makanan yang baik. Pilih bahan makanan yang segar, proses memasak yang benar dan baik, cuci buah dan sayur dengan baik, tidak menggunakan bahan makanan yang sudah kedaluwarsa.

5. Masaklah makanan hingga matang, terutama daging sapi, ayam, telur, seafood.

6. Pisahkan bahan makanan matang dan mentah dengan menggunakan alat dapur dan alat makan yang berbeda, serta simpan di tempat berbeda.

7. Jika merawat penderita Hepatitis A, hendaknya alat makan penderita tidak digunakan bersama orang sehat.

8. Simpan makanan di suhu aman, jangan simpan makanan matang di suhu ruangan terlalu lama, masukkan makanan ke dalam lemari es bila ingin disimpan, sebelum di hidangkan, panaskan sampai lebih dari 60°C, serta jangan terlalu lama disimpan di lemari es.

9. jangan mengonsumsi makanan dan minuman yang kotor dan berjamur.

10. Selalu menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan dan pribadi.

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / KPK Sita Dokumen Perizinan di Kepri

Megapolitan / Diduga Money Politics, Caleg Gerindra Dicari Polisi

Nasional / Ini Cara Kemenpora Cetak Generasi Muda Bebas Narkoba

Daerah / IPB Targetkan Muba Jadi SPR Percontohan di Indonesia

Nasional / DPR Tanya Pelindo soal Nasib Karyawan PT JAI


Baca Juga !.