Politik

Airlangga Dianggap Tak Optimal Menangkan Jokowi, Golkar Hanya Layak Dua Kursi Menteri

Redaktur: Darul Fatah
Airlangga Dianggap Tak Optimal Menangkan Jokowi, Golkar Hanya Layak Dua Kursi Menteri - Politik

indopos.co.id - Sejumlah partai politik pengusung Jokowi-Ma'ruf secara terang-terangan meminta jatah menteri di kabinet meskipun pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih baru akan digelar 20 Oktober 2019. Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti menilai wajar bila partai politik pengusung menagih jatah kursi setelah berhasil memenangkan jagoannya pada Pilpres 2019.

Meski demikian, menurut Ray, jatah kursi kabinet tiap-tiap partai harus disesuaikan dengan kontribusi dan kerja mereka dalam memenangkan Jokowi-Ma'ruf. Ray tidak sepakat bila penentuan jatah menteri dari partai politik ditentukan oleh jumlah kursi.

Harus sesuai dengan kontribusi dan kompetensi. Misalnya, dia menilai partai Golkar dibawah kepemimpinan Airlangga Hartarto tidak optimal memenangkan Jokowi-Ma'ruf sehingga hanya layak mendapat dua kursi menteri saja di kabinet. "Saya melihat bahwa partai Golkar cukup mendapatkan dua kursi kabinet. Alasan utamanya adalah konsolidasi partai ini dalam mensukseskan Jokowi sebagai presiden kurang optimal," kata Ray Rangkuti di Jakarta, Jumat (12/7/2019).

Ray mencontohkan, tidak optimalnya Golkar dalam memenangkan Jokowi adalah merosotnya Jokowi di daerah yang dikenal sebagai basis tradisionil Golkar. "Sebut saja Banten, Jabar dan Sulsel. Tiga daerah yang dikenal sebagai basis Golkar. Tapi suara Jokowi tidak signifikan di dalamnya. Dengan pertimbangan ini, saya melihat Golkar sepantasnya hanya dapat dua kursi kabinet," tandas dia.

Berdasarkan hasil penghitungan suara partai dan caleg di Sulawesi Selatan, Golkar menjadi pemenang dengan perolehan suara 671.290, disusul Partai Gerindra dengan suara 648.750. Di urutan ketiga ada Partai NasDem dan PDIP keempat dengan suara 641.144.

Namun menurut Ray aneh, karena suara capres yang justru diusung Partai Golkar yakni Joko Widodo- Ma'ruf Amin kalah dari Prabowo - Sandiaga. Prabowo - Sandiaga mengumpulkan suara 57 persen atau 2.809.393. Sedangkan pasangan Jokowi - Ma’ruf hanya mendapatkan 43 persen suara atau  2.117.591.

Di Banten, PDIP menempati urutan pertama dengan perolehan 914.719 suara, disusul Partai Gerindra dengan perolehan 876.588 suara. Posisi ketiga perolehan suara terbanyak ditempati Partai Golkar yang hanya mendapat 683.558 suara. Suara Pilpres di Banten, Prabowo-Sandi menang unggul dengan perolehan 4.059.514 suara, sementara Jokowi-Ma'ruf hanya 2.537.524 suara.

Sementara di Jawa Barat, Golkar hanya mampu berada di posisi keempat dengan total 3.226.962 suara. Partai Gerindra masih menduduki posisi pertama dengan suara 4.320.050. Posisi kedua dan ketiga masing-masing diduduki PDIP dan PKS dengan perolehan suara masing 3.510.525 dan 3.286.606 suara. Untuk suara Pilpres, Prabowo-Sandi menang di wilayah Jabar dengan total suara 16.077.446, sementara Jokowi-Ma'ruf hanya 10.750.568 suara.

Untuk jatah partai lain, Ray menilai PKB layak mendapat empat kursi dan PPP dua kursi. PSI dan Hanura masing-masing satu kursi. "Perindo dugaan saya minta tapi saya kira gak akan dilibatkan pertimbangannya, keuntungan politik untuk pak Jokowi. PBB dugaan saya juga gak akan dapat, paling jadi Wantimpres Yusril dapat," pungkas dia. (rul)

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / KPK Sita Dokumen Perizinan di Kepri

Megapolitan / Diduga Money Politics, Caleg Gerindra Dicari Polisi

Nasional / Ini Cara Kemenpora Cetak Generasi Muda Bebas Narkoba

Daerah / IPB Targetkan Muba Jadi SPR Percontohan di Indonesia

Nasional / DPR Tanya Pelindo soal Nasib Karyawan PT JAI


Baca Juga !.