Ekonomi

Ternyata, Limbah Padat Hasil Bakaran Batu Bara juga Bermanfaat

Redaktur: Ali Rahman
Ternyata, Limbah Padat Hasil Bakaran Batu Bara juga Bermanfaat - Ekonomi

Foto : Ilustrasi

indopos.co.id - Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian, Teddy Caster Sianturi mengungkapkan, Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) sebagai limbah padat hasil pembakaran batu bara pada pembangkit listrik, sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali.

Baik untuk substitusi bahan baku, sebagai substitusi sumber energi, ataupun bahan baku sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam perkembangannya FABA dapat diolah menjadi produk lain yang bermanfaat seperti genteng atau paving block.

"Masalahnya, prosedur yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terlalu rigid, karena didasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) nomor 101 tahun 2014 yang memasukkan FABA sebagai limbah B3, dan dilakukan dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup,” kata Teddy kepada INDOPOS melalui pesan tertulis, Jumat (12/7/2019).

Pemerintah sudah beberapa kali menggulirkan paket penyederhanaan peraturan dalam bentuk paket kebijakan ekonomi, namun khusus untuk FABA masih tetap dikategorikan sebagai limbah B3. Oleh karena itu, prosedur yang harus dilalui dirasa sangat sulit oleh pengusaha yang bergerak dalam industri tersebut.

"Berbagai dokumen harus dilengkapi oleh pengusaha agar dapat memanfaatkan FABA, di antaranya harus menyertakan salinan izin lingkungan, salinan persetujuan pelaksanaan uji coba pengolahan limbah B3, dan bukti penyerahan limbah B3 dari penghasil limbah B3 kepada pengolah limbah B3," jelasnya.

Menurut Teddy, batu bara dijadikan alternatif sumber energi karena terjadi transformasi kebutuhan energi dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya mengandalkan pada minyak dan gas bumi yang terbukti telah membebani APBN, beralih pada batu bara yang cadangannya lebih besar, diperkirakan masih dapat dipergunakan sampai 50 tahun ke depan, sedangkan cadangan migas diperkirakan hanya akan bertahan sekitar 20 sampai 30 tahun ke depan.

Sejalan dengan hal itu, sejumlah industri seperti TPT, petrokimia, semen, dan pupuk, serta berbagai manufaktur lainnya juga mulai mengganti sumber energinya ke batu bara. Termasuk PT PLN (Persero) juga banyak membangun PLTU yang energi primernya adalah batu bara.

Apabila ada arahan, maka Kementerian Perindustrian akan berinisiatif mengajukan Peraturan Presiden (Perpres) yang dapat mengakomodasi kepentingan pihak industri. Diharapkan Menteri Koordinator Perekonomian atau Menteri Koordinator Maritim dapat mewadahi menteri-menteri terkait.

"Dengan begitu tujuan pengendalian polusi udara tetap terjaga, dan di sisi lain FABA juga dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat," sebut Teddy. 

Mendorong Energi Baru dan Terbarukan

Tingginya tingkat polisi di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta menjadi peluang bagi industri memanfaatkan berbagai sumber energi, di luar fosil dan batu bara, yakni energi baru terbarukan (EBT). Disinyalir, hal itu berasal dari asap kendaraan bermotor, serta pesatnya pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor.

Melalui perencanaan yang tertuang dalam peta jalan pemanfaatan batu bara, seperti tercantum dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), perlu perencanaan penggunaan batu bara dalam kurun waktu yang sudah pasti. Di dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pada artikel M. Hamidi Rahmat yang disadur pada laman Sekretariat Kabinet, menunjukkan sampai saat ini Indonesia masih mengandalkan energi fosil dengan berkontribusi 95 persen.

Sementara EBT yang tidak akan habis, baru mampu berkontribusi 5 persen dalam bauran energi nasional. Namun demikian, dalam RUEN telah ditetapkan, pemerintah akan terus meningkatkan pemanfaatan EBT. Jika pada tahun 2015, kontribusi EBT baru mencapai 5 persen, pada 2025 ditargetkan menjadi lebih dari 23 persen, dan pada 2050 akan naik menjadi lebih dari 31 persen.

Executive Vice President (EVP) Corporate Communication PT PLN (Persero), I Made Suprateka menanggapi soal polusi itu, menurutnya bukan PLTU yang menjadi salah satu pencemar sehingga buruknya kualitas udara di DKI Jakarta akhir-akhir ini, mengingat lokasi PLTU dan PLTGU Muara Karang dan juga PLTGU Priok terletak di bagian utara Jakarta. Demikian pula PLTU Batubara Lontar ada di Banten.

Perihal radius sebaran dampak emisi PLTU batu bara SOX atau NOX terjauh adalah 30 kilometer, dengan asumsi adanya emisi gas buangnya terdekat batu bara Lontar Banten, yang jaraknya 70 kilometer dari pusat Kota Jakarta.

Bahkan, sejumlah PLTU yang dibangun PT PLN (Persero) atau para perusahaan sebagai Independent Power Producer (IPP), kebanyakan sudah menggunakan teknologi berbasis Super Ultra Critical Represitator, di mana debu yang keluar ditangkap dan dapat diendapkan, sehingga dapat dicegah penyebarannya.

“Saat ini sudah berkembang teknologi penangkap debu. Hal itu dapat disaksikan pada Shanghai Energy Power Plant, di mana pembangkit listrik di Shanghai itu, tingkat kebersihannya setara atau sama dengan rumah sakit," jelas Made.

Bersumber dari KLHK, indeks standar kualitas udara yang dipergunakan secara resmi di Indonesia saat ini adalah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP 45/MENLH/1997 tentang ISPU.

Adapun perhitungan dan pelaporan serta informasi ISPU ditetapkan dalam Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan nomor 107 tahun 1997 Tanggal 21 November 1997. (dai)

Baca Juga


Berita Terkait

Headline / KPK Sita Dokumen Perizinan di Kepri

Megapolitan / Diduga Money Politics, Caleg Gerindra Dicari Polisi

Nasional / Ini Cara Kemenpora Cetak Generasi Muda Bebas Narkoba

Daerah / IPB Targetkan Muba Jadi SPR Percontohan di Indonesia

Nasional / DPR Tanya Pelindo soal Nasib Karyawan PT JAI


Baca Juga !.