Merajut Harmoni Dalam Keragaman

FRASE di atas mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan; it easier said than done. Ini yang dibutuhkan Indonesia. Sebenarnya, dalam kehidupan sehari-hari, lapisan rakyat paling bawah  tidak pernah punya persoalan ini. Artinya, dengan penuh kesadaran, rakyat banyak itu memang sudah melaksanakan itu: kita selalu merajut harmoni dalam keragaman. Kalau tidak percaya, lihatlah tetangga kanan kiri depan belakang Anda, dekat maupun jauh, yang Anda kenal betul atau hanya sekilas. Apakah mereka semua sama dengan Anda? Kita semua tahu jawabnya: tidak. Semua orang berbeda. Bahkan saudara kembar pun tidak memiliki pikiran dan perasaan yang sama.

 Dalam kuliah Multicultural Literature yang saya berikan setiap tahun, saya selalu menekankan kepada para mahasiswa bahwa perbedaan itu harus dirayakan, bukan dimanfaatkan untuk memecah-belah. Saya selalu menyampaikan kepada mahasiswa bahwa yang namanya suku bangsa atau kelompok etnis, warna kulit, warna rambut, mata, atau fisik kita, itu given. Memang seperti itulah yang dianugerahkan Tuhan kepada kita semua. Berkaitan dengan hal-hal yang given, tidak ada yang bisa kita perbuat kecuali menerimanya dengan penuh rasa syukur serta mengapresiasi orang lain. Yang bisa kita ubah adalah pemikiran, cara pandang, sikap, dan seterusnya yang berkaitan dengan pikiran dan perasaan—bukan fisik. Artinya, kita mau menghargai dan menghormati orang lain atau tidak, itu ada dalam pikiran kita. Mau membenci atau mengasihi orang lain, ada dalam hati kita. Sesederhana itu. Tetapi justru itulah persoalannya: yang sederhana itu menjadi sangat rumit ketika kita sudah dicekoki atau mencekokkan diri dengan paham, ideologi, atau aliran tertentu.

21 Juni yang lalu 2019, terjadi acara kecil-kecilan di rumah saya. Acara itu memang memiliki prolog karena melalui rembugan atau diskusi yang melibatkan banyak orang. Kami warga se-RT mengadakan acara halalbihalal dengan tema di atas.

 “Ki, aku sudah rembugan dengan ibu-ibu soal halalbihalal RT kita,” kata nyai saya ketika kami akan memejamkan mata, beberapa hari sebelum hari H itu.

 “Itu yang kutunggu, Nyi. Sepertinya kalau bapak-bapak manut saja bagaimana baiknya,” kata saya.

 “Halah, bapak-bapak memang gitu, tidak punya ide,” kata nyai saya lagi.

  “Soal tempat, mau di mana halalbihalal RT?” saya ingin tahu keputusan ibu-ibu.

“Di istana kita,” balas nyai pendek.

Saya tidak segera menyahut. Sebaliknya, saya merenung. Istana saya selama ini memang sudah sering untuk acara bareng-bareng. Tetapi selama ini memang acara yang diadakan di istana saya itu ekslusif, artinya ‘hanya untuk kalangan sendiri.’ Kalau Anda mengadakan pengajian, misa, kebaktian, doa Rosario, dan sebagainya itu kan ekslusif? Sebuah salib yang cukup besar terpampang di tembok di atas pintu istana saya. Patung Bunda Maria juga ada. Selama ini, acara-acara di istana saya ya ekslusif itu tadi, terbatas atau khusus untuk yang berkaitan dengan doa Katholik. Apa tidak baik? O, baik sekali. Siapa pun Anda, kalau istana Anda untuk doa, pengajian, dan kegiatan-kegiatan keagamaan atau kerohanian, itu baik sekali. Kita menghadirkan Tuhan di istana kita. Tetapi untuk halalbihalal?

 “Betul ibu-ibu memutuskan untuk halabihalal di rumah kita?” saya bertanya lagi pada nyai.

 “Ya. Kenapa?”

  “Semua setuju?”

   “Kenapa tidak?” tanya nyai saya lagi.

 “Nanti kalau Pak Ustaz memberikan ceramah, dia akan melihat salib besar di tembok itu,” kata saya lagi.

Nyi Dwija tersenyum. Saya pun tidak bertanya lagi. Selama hidup, baru kali inilah saya dan nyai memiliki tanggungjawab langsung terhadap warga. Entah ceritanya bagaimana, ketika Ketua RT lama habis masa jabatannya, warga memilih saya sebagai Ketua RT. Karena saya memang sudah ngunduri tuwa dan berjanji apa pun yang Tuhan kehendaki saya bersedia melaksanakannya, maka amanah itu saya sanggupi sekalipun saya tahu bahwa saya tidak selalu bisa berfungsi dengan baik, terutama pada saat-saat pekerjaan kantor banyak sekali. Demikian pula nyai saya. Tetapi kami bagian dari masyarakat dan kalau menjadi Ketua RT itu merupakan sumbangsih, kami bersedia. Siapa tahu nantinya saya bisa meniti karir hingga ke puncak: dari Ketua RT, lalu menjadi Ketua RW, lantas jadi Lurah, Camat, Bupati sampai Presiden. He he he. Mulai Lurah sampai Presiden jadi rebutan, tetapi Ketua RT selalu dihindari di mana-mana. Maka apa yang terjadi pada saya, saya anggap sebagai nasib saja, latihan momong warga. Maka, untuk pertama kalinya dalam sejarah, RT kami akan mengadakan acara halalbihalal di istana saya. Maka saya pun lantas membayangkan, nanti meja untuk Pak Ustaz letaknya sama dengan letak meja altar kalau Romo mempersembahkan misa di rumah saya. Kalau pintu utama saya buka lebar-lebar (ya selebar pintu itu maksud saya), maka salib besar  di atas pintu dalam akan kelihatan oleh Pak Ustad).

Persiapan pun dilakukan. Nyi Dwija komunikasi intensif dengan ibu-ibu PKK. Saya komunikasi intensif dengan bapak-bapak. Ternyata memang para ibu di lingkungan istana saya ngrampungi gawe: mulai dari uba rampe sampai mencari Ustaz. Saya dan Sektretaris RT kebagian menulis surat undangan. Saya lantas mengirim pesan WhatsApp kepada Pak Hadi Tratag langganan saya agar mengirim dua plong tratag dan memasangnya di jalan di samping istana saya. Kursi tidak kami perlukan karena kami sepakat acaranya lesehan saja. Nyi Dwija juga sibuk merancang backdrop atau background dan di sana akhirnya tertulis “Merajut harmoni dalam keragaman” itu tadi. Itu tema halalbihalal RT kami. Di RT kami itu komplit: Jawa ada, Batak ada, Cina ada, Betawi ada. Islam, Katolik, Kristen, mungkin Budha dan Hindu serta Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa pun ada. Inilah kami, miniatur Indonesia. Siapa bilang kami tidak bisa rukun? Siapa bilang kami bermasalah? Siapa bilang kami tidak akur?

Sore hari ibu-ibu datang ke istana saya, sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara malam hari. Seorang bapak datang dan bersama saya bahu-membahu memasang mmt yang tidak seberapa berat. Jam 7:00 malam, keluarga-keluarga mulai berdatangan. Para ibu semakin sibuk mempersiapkan konsumsi. Beberapa di antara mereka membawa tikar dan menggelarnya. Ada warga yang datang dengan membawa lampu khusus untuk penerangan konsumsi. Sebentar kemudian penuh sudah tempat yang kami sediakan. Para bapak berkumpul jadi satu, para ibu dan anak juga berkumpul menjadi satu. Itulah kali pertama sebagaian besar warga RT kami berkumpul dalam sebuah acara keluarga yang kekeluargaan. Semuanya bergembira. Saya terharu. Sebenarnya itulah potret kita, Indonesia: semua warga bisa berkumpul menjadi satu, bergembira bersama, bukan untuk melupakan perbedaan melainkan untuk menunjukkan perbedaan yang ada itu. Kepada para mahasiswa, saya sering bertanya: kalau kalian punya taman, akan kalian tanami dengan satu macam bunga atau banyak macam? Semua mahasiswa menjawab akan menanam banyak macam bunga. Ketika saya tanya lagi kenapa, jawaban mereka: Tentu membosankan, Pak, kalau di taman saya hanya ada satu macam bunga. Nah!

Yang kita butuhkan, seperti saya katakan di atas, sebenarnya sederhana saja: menghargai dan menghormati orang lain, karena kita pun ingin dihargai dan dihormati. Berbeda tidak jadi soal. Kita lihat wong Jawa sendiri: apakah semua berkulit sawo matang? Tidak. Banyak orang Jawa yang saat ini kulitnya kuning atau bahkan cenderung putih. Saya sekeluarga saja beda. Kalau Nyi Dwija bisa dikategorikan ebony, saya ivory. Ini contoh saja. Orang Jawa saja tidak sama. Itu baru dari kulitnya. Lha dari kebudayaannya? Super-duper berbeda lagi: ada orang Jawa yang masih Jawa deles (Jawa asli, ada orang Jawa yang keamerika-amerikanan, ada juga orang Jawa yang kearab-araban; sithik-sithik (sedikit-sedikit) omong Arab sekalipun  perbendaharaan katanya entah seberapa, bisa betul atau tidak. Yang saya tahu: Siapa pun atau apa pun yang datang ke Jawa, sejak zaman dulu hingga sekarang, mengalami penyesuaian. Maka ada istilah sinkretisme dalam kebudayaan kita. Jangan di balik: apa pun yang datang dari luar lantas kita puja-puji. Kita harus memiliki sikap wait a minute! Halalbihalal, kata bayak orang, bukan acara keagamaan melainkan acara kebudayaan sekalipun diadakan setelah Idul Fitri. Kalau ini saya cocok alias mathuk, karena jati diri kita sebagai wong Jawa masih kental di sana. Jati diri sebagai wong Jawa inilah yang tidak boleh hilang dari diri kita. Kalau Anda Batak, Sunda, Cina, Arab, silakan back to basic. Basic values and basic identity itu harus selalu ada di sana, apa pun agama, kepercayaan, keyakinan atau suku/kelompok etnis kita. Kalau bukan kita sendiri yang ngopeni (menjaga), mau siapa? Kalau basic values and identity (nilai dasar dan identitas) masih ada dalam diri kita, tidak akan sulit bagi kita mewujudkan harmoni dalam keragaman. (*)

 

 

Komentar telah ditutup.