Piala Afrika 2019, Pertemukan Duel Mini Manchester City Melawan Liverpool

indopos.co.id – Riyad Mahrez dan Sadio Mane menjadi bagian penting Aljazair juga Senegal menembus final Piala Afrika 2019. Pemain Manchester City dan Liverpool tersebut juga sejajar dalam produktivitas gol di turnamen dwitahunan ini dengan tiga gol.

Mahrez dkk menembus final Piala Afrika 2019 setelah menang 2-1 atas Nigeria, Senin (15/7/2019) di Cairo International Stadium. Sedangkan Senegal mempecundangi Tunisia 1-0 melalui babak extra time di 30 June Stadium.

Kesuksesan menembus final buat Aljazair ini merupakan yang ketiga kalinya. Yakni pada edisi 1980, 1990, dan tahun ini. Sedang bagi Senegal tahun ini menjadi final kedua setelah Piala Afrika 2002.

Nah, Mahrez menjadi penentu kemenangan Aljazair. Eksekusi tendangan bebasnya pada menit ke-90+5 sukses menaklukkan kiper Nigeria Daniel Akpeyi. Gol pertama tim Rubah Gurun yang tercipta akibat bunuh diri bek Nigeria William Troost-Ekong (40′) pun terjadi karena Troost-Ekong salah antisipasi umpan diagonal Mahrez dari sisi kiri pertahanan Nigeria. Sementara gol Nigeria terjadi dari eksekusi penalti Odion Ighalo (72′).

 “Pertandingan ini sangat, sangat berat karena kami melawan salah satu tim favorit. Bisa berada di final Piala Afrika ini rasanya luar biasa dan seperti mimpi bagi kami,” ucap pemain yang mencetak 12 gol buat Aljazair tersebut kepada ESPN.

Mahrez melanjutkan pertemuan versus Senegal di final bakal berlipat sulitnya dibandingkan pertemuan pertama di fase grup. Ya, pada matchday kedua grup C (28/6/2019) Aljazair menang 1-0 dari Senegal.  “Kami akan mencari cara bagaimana memenangi pertarungan melawan Senegal untuk yang kedua kalinya. Sebab kami tahu pertandingan ini akan sangat menguras fisik dan mental tim kami,” kata Mahrez.

Performa Aljazair menurut Mahrez solid di belakang juga produktif di belakang. Dalam enam pertandingan, Aljazair membukukan 12 gol dan hanya kebobolan dua gol. Kalau dirata-rata maka Aljazair mencetak dua gol per pertandingan.

Pelatih Aljazair Djamel Belmadi dalam wawancara dengan Goal berujar kalau timnya berhasil menunjukkan mental petarung yang luar biasa. Setelah Nigeria menyamakan kedudukan, Mahrez dkk tetap tenang dan terus beragresi.   

“Pada pertengahan babak kedua kami mengalami periode yang sulit selama 15 menit. Namun setelah kebobolan penalti justru kami bermain rileks dan Nigeria yang tertekan,” ujar Belmadi.

Pelatih berusia 43 tahun tersebut memuji kemampuan Mahrez di dalam juga di luar lapangan. Memiliki Mahrez menurut Belmadi menjadi salah satu kunci sukses Aljazair menembus final lagi setelah absen 29 tahun.

Di sisi lain, penyerang Senegal Mane menolak soal status timnya sebagai favorit juara ketimbang Aljazair pada final mendatang. Mane bertutur justru mereka yang tak diunggulkan karena di fase grup Senegal takluk dari Aljazair.

“Partai puncak Piala Afrika 2019 ini merealisasikan prediksi banyak orang sesaat sebelum semifinal akan berlangsung. Yakni Senegal akan bertarung lagi melawan Aljazair di final,” tutur Mane kepada France24.

Mane menambahkan kesuksesan bersama Liverpool di Liga Champions sedikit banyak mempengaruhi dirinya. Punya kesempatan memenangi trofi Si Kuping Besar memang tak dipunyai setiap pemain.  “Akan tetapi mimpi saya yang tak bisa ditawar adalah membantu Senegal memenangi Piala Afrika. Berparade di jalanan Dakar (ibukota Senegal, red.) membawa Piala Afrika adalah impian saya,” ujar Mane.

Sementara itu, pelatih Senegal Aliou Cisse pun punya asa untuk ‘melunasi hutang’ semasa menjadi pemain. Semasa jadi kapten pada Piala Afrika 2002 lalu, Senegal kalah 2-3 dalam adu penalti oleh Kamerun di final. Dan Cisse adalah penendang kelima Senegal yang sepakannya gagal masuk.

“Setelah generasi saya menunggu selama 17 tahun, akhirnya kami bisa mewujudkan mimpi ini lagi. Filosofi kami adalah habis-habisan di lapangan karena menjuarai Piala Afrika adalah mimpi semua warga Senegal,” tutur Cisse kepada Firstpost. (koc)

Komentar telah ditutup.