Kemarau Membuat Debit Air di Kanal Banjir Barat Menurun

indopos.co.id – Dampak musim panas sudah terasa di ibu kota. Di Jakarta Utara misalnya, sejumlah warga sudah kesulitan air bersih. Kemarau juga membuat debit air di Kanal Banjir Barat, Jati Pulo, Jakarta Barat semakin turun.

Dari pantauan, air pun kini air hanya berada di tengah-tengah kanal. Di sisi kanan dan kiri, tampak tanah sudah terpecah-pecah karena kekeringan. Akibatnya, lumpur dan sampah pun kini memenuhi kanal yang pembangunannya dimulai pada 1913 itu.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat pun telah mengingatkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk siap menghadapi musim kekeringan.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di wilayah DKI Jakarta akan berlangsung pada bulan September mendatang. ”Kemarau di DKI Jakarta baru berjalan dua bulan (Mei-Juni), masih harus menyelesaikan sampai puncaknya di September,” ungkap Kepala Staf Sub Bidang Analisis Informasi Iklim BMKG Pusat, Adi Ripaldi beberapa hari lalu.

Meskipun baru dua bulan berjalan, menurut Ripaldi beberapa wilayah di Jakarta sudah mengalami kesulitan air. Untuk itu, Pemprov DKI harus mengantisipasi bencana kekeringan. ”Status siaga kekeringan sudah terjadi di Jakarta Utara. Ini harus diwaspadai, terutama untuk pasokan air bersih,” ungkapnya.

Berdasarkan monitoring, dua wilayah di Kota Administrasi Jakarta Utara yang sudah masuk hari tanpa hujan (HTH) sangat panjang, yakni 30 sampai 61 hari. HTH di wilayah Jakarta sudah lebih 30-61 hari terjadi di Rawa Badak dan Rorotan.

BMKG melakukan monitori HTH setiap hari untuk seluruh wilayah DKI Jakarta dengan menggunakan 6.607 alat penakar hujan yang tersebar di setiap kecamatan.Dari hasil monitoring tersebut diketahui, selain dua wilayah tadi yang dikategorikan HTH sangat panjang, wilayah lainnya masuk kriteria HTH panjang, yakni 21-30 hari.

Menghadapi kemarau 2019, menurut Ripaldi BMKG telah memberikan peringatan dini serta melaporkan informasi cuaca kepada instansi terkait. Sebelumnya, BMKG juga telah memprediksikan kemarau 2019 di wilayah DKI Jakarta relatif lebih kering, sehingga perlu diwaspadai. ”Antisipasi lebih dini, kemarau masih akan berlangusng sampai September-Oktober. Masyarakat harus bijak dalam penggunaan air bersih,” katanya.

Selain itu, Adi menjelaskan suhu minimum wilayah DKI Jakarta tercatat 22 derajat Celcius. Sedangkan suhu maksimum 32 derajat Celcius. Rata-rata suhu harian DKI Jakarta berkisar antara 28 sampai 30 derajat Celcius.

Ia mengatakan suhu pagi hari antara pukul 08.00 WIB sampai pukul 09.00 WIB mulai pada angka 26-27 derajat Celcius, suhu udara terus meningkat seiring penyinaran matahari. ”Semakin panas dan akan maksimum berkisar pada pukul 13.00 sampai 14.00 WIB,” jelasnya. Suhu minimum di wilayah DKI Jakarta terjadi sekitar pukul 02.00 WIB sampai 03.00 WIB.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan prakiraan puncak musim kemarau adalah bulan depan, dan dampaknya berupa kekeringan itu bisa dirasakan sampai September untuk wilayah di sebelah selatan khatulistiwa.

Kemudian memasuki bulan Oktober daerah selatan itu sudah mulai makin basah, ke arah musim hujan. Sedangkan kekeringan berjalan ke arah utara khatulistiwa. Antisipasi yang harus dilakukan, menurut Dwikorita, adalah ketersediaan air di sepanjang Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Timur, sampai Papua.

Hingga 2030, Dwikorita memproyeksikan tren iklim di Indonesia akan semakin hangat. ”Makanya kalau ngomong sekarang kan untuk persiapan 10 tahun lagi untuk program menjadi lebih cukup. Biar bapak ibu menteri biar koordinasi lebih, mumpung ini mau kabinet baru, programnya apa nanti kan dan di saat yang sama potensi hujan ekstrem meningkat hingga 20 persen lho. Jadi semakin kering, tapi curah hujan semakin lebat. karena daerahnya beda-beda, waktunya beda-beda,” kata Dwikorita.

Musim kemarau yang berkepanjangan ini membuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menyiapkan hujan buatan. Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, pihaknya telah mendapat permohonan dari kepala daerah untuk membuat hujan buatan. ”BNPB untuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan bantuan hujan buatan,” katanya di Kantor Presiden di Jakarta, Senin (15/7/2019).

Doni menyampaikan hal itu seusai menghadiri rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo untuk membahas antisiapsi dampak kekeringan. Data yang berhasil dikumpulkan BNPB sampai 15 Juli, sudah ada 1.963 desa yang terdampak kekeringan di 556 kecamatan dan 79 kabupaten yang berada di Pulau Jawa, Bali, NTB dan NTT.

”Oleh karenanya, BNPB tentu tidak bisa sendirian, perlu bekerja sama dengan beberapa lembaga, khususnya BMKG, BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dan juga Markas Besar TNI. Adapun daerah yang mungkin masih bisa dilaksanakan teknologi modifikasi cuaca juga tergantung dari keadaan awan sehingga apabila awannya masih tersedia sangat mungkin hujan buatan masih bisa dilakukan,” tutup Doni. (nas/ant)

Komentar telah ditutup.