Telan korban Jiwa saat MOS, KPAI : Izin SMA Taruna Indonesia Perlu di Evaluasi

indopos.co.id – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai izin operasionalnya SMA Taruna Indonesia di Kota Palembang, Sumatera Selatan yang berakhir pada Oktober 2019 perlu di evaluasi dan dipertimbangkan untuk diperpanjang izinnya atau tidak.

Ini setelah anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti mengunjungi SMA Taruna Indonesia di Kota Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (17/7/2019)

Kasus meninggalnya seorang siswa di SMA Taruna Palembang ini dan ada satu siswa atas nama WK (14) yang kondisinya koma sedang dirawat di rumah sakit sangat disesalkan.

“Dinas Pendidikan Sumsel perlu melakukan evaluasi sekolah tersebut, sehingga jika tetap diperpanjang izinnya ada pembenahan dalam sistem kegiatan belajar mengajar serta pembinaan mental dan disiplin siswa,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Sumsel Widodo menambahkan pihaknya siap memfasilitasi anggota KPAI mengecek kasus meninggalnya seorang siswa SMA Taruna Palembang akibat dugaan tindak kekerasaan dalam kegiatan MOS Sabtu (13/7).

“Dengan penjelasan dan pengecekan ke lapangan diharapkan komisioner KPAI bisa mendapatkan data yang akurat sesuai dengan fakta dan keterangan berbagai pihak, sehingga jelas atau tidak simpang siur,” kata Widodo.

Sementara Kapolda Sumsel Irjen Pol Firli mengatakan, pihaknya berupaya melakukan koordinasi dengan dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota untuk mencegah terulangnya kasus masa orientasi sekolah (MOS) seperti di SMA Taruna Palembang yang mengakibatkan seorang sisiwanya meninggal dunia.

Kegiatan pembinaan mental siswa baru Tahun Ajaran 2019 di SMA Taruna Palembang yang mengakibatkan seorang siswa meninggal dunia karena dipukul oleh pembina MOS sangat disesalkan dan tidak boleh terjadi lagi.

Kasus meninggalnya siswa dengan identitas Delwin Berli (14) saat mengikuti MOS di SMA Taruna Palembang, Sabtu (13/7) berhasil diungkap oleh tim Reskrimum Polresta Palembang dalam waktu relatif singkat, sekitar 27 jam dengan mengamankan seorang tersangka Ofa (24) dan barang bukti satu potong bambu yang panjangnya sekitar dua meter yang diduga digunakan untuk memukul korban.

“Berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan pemeriksaan forensik di RS Bhayangkara Polda Sumsel, di bagian kepala korban sebelah kanan ditemukan luka memar akibat benda tumpul yang mengakibatkan meninggalnya siswa yang mengikuti MOS itu,” ujar Irjen Firli. (ash/ant)

Komentar telah ditutup.